Isi Pikiran Manusia Kini Tidak Lagi Bersifat Pribadi, Ilmuwan Beri Penjelasan Ilmiah

dalam dunia kedokteran, elektroensefalografi (EEG) yang ditemukan pada 1920-an menggunakan elektroda untuk mendeteksi aktivitas listrik dari otak manusia.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Isi Pikiran Manusia Kini Tidak Lagi Bersifat Pribadi, Ilmuwan Beri Penjelasan Ilmiah
Isi Pikiran Manusia Kini Tidak Lagi Bersifat Pribadi, Ilmuwan Beri Penjelasan Ilmiah (Merdeka.com)

Emner beranggapan, dengan menggunakan teknologi yang sama, ia bisa merekam pikiran sebagai "foto mental" yang dapat diputar ulang kepada penerima secara tidak sadar.

Menurut Emmner, semua pikiran bisa direkam dan tidak ada yang bisa disembunyikan.
 
Namun, mesin Emmner akhirnya dilupakan karena tidak berfungsi. Membaca pikiran tidak semudah merekam suara.

Otak manusia memiliki sekitar 100 miliar neuron dan sel lainnya yang membantu manusia berpikir dan merasakan.

Sementara, saat itu masih berusaha memahami bagaimana dan di mana pikiran berada. Manusia juga tidak memiliki akses terhadap keadaan sel-sel di otak, jadi tidak tahu apa yang terjadi di dalamnya pada waktu tertentu.
 
Meski demikian, kita tahu bahwa otak memengaruhi tubuh. Poligraf yang lebih dikenal sebagai 'pendeteksi kebohongan', mengukur faktor-faktor seperti pernapasan, keringat, tekanan darah, dan detak jantung.

Teorinya, saat kita berbohong, tubuh kita mengalami perubahan fisiologis yang bisa diukur. Namun, poligraf tidak selalu bisa diandalkan karena jika seseorang tidak cemas, kebohongan tidak terdeteksi, atau orang yang tidak bersalah bisa terlihat berbohong jika merasa cemas.

Mengutip Science Focus, Kamis (20/6), dalam dunia kedokteran, elektroensefalografi (EEG) yang ditemukan pada 1920-an menggunakan elektroda untuk mendeteksi aktivitas listrik dari otak saat pasien melakukan berbagai tugas.

Lonjakan listrik ini adalah hasil aktivitas neuron. Namun, EEG hanya memberikan gambaran umum tentang aktivitas otak, bukan pikiran.
 
Teknologi lain, seperti tomografi emisi positron (PET), menggunakan glukosa radioaktif untuk menghasilkan gambar 3D otak yang menunjukkan bagian mana yang paling sibuk. Namun, resolusi teknik ini masih terbatas.

Pilihan terbaik saat ini adalah pencitraan resonansi magnetik fungsional (fMRI) yang mengukur perubahan oksigen dan aliran darah.

fMRI menggunakan magnet besar untuk memetakan daerah otak yang aktif dengan resolusi yang semakin tinggi.

Sebuah studi di 2022 dari Universitas Minnesota memindai aktivitas otak delapan sukarelawan dengan resolusi 1,8 mm saat mereka melihat sekitar 10.000 gambar berwarna.

Walaupun fMRI memungkinkan pengumpulan data otak yang lebih detail, mesin ini besar dan hanya ada di rumah sakit.

Jerry Tang, seorang mahasiswa PhD Universitas Texas di Austin, mengatakan bahwa langkah penting menuju antarmuka otak-komputer yang lebih praktis adalah mengembangkan metode portabel dengan resolusi tinggi.
 
Sensor spektroskopi inframerah-dekat (fNIRS) yang fungsional mungkin bisa menjadi fMRI yang dapat dipakai suatu hari nanti, meskipun ini masih belum memungkinkan untuk penggunaan sehari-hari.

Namun, bagi para peneliti yang ingin membuat komputer yang bisa membaca pikiran, inilah tujuannya.

Rekomendasi