Efek Mengejutkan Hidup 100 Hari di Bawah Air pada Tubuh Manusia
Dr. Joe Dituri, profesor asal AS, menjalani eksperimen 100 hari hidup di bawah air. Hasilnya mengejutkan.
Dr. Joe Dituri, seorang profesor dari Universitas South Florida, menjalani eksperimen unik dengan tinggal di bawah air selama 100 hari. Tantangan yang disebut "Neptune 100" ini dilakukan di Jules’ Undersea Lodge, sebuah habitat seluas 100 kaki persegi yang terletak di kedalaman 30 kaki di Key Largo, Florida.
Mengutip Indy100, Selasa (17/12), eksperimen ini bertujuan untuk memahami dampak lingkungan ekstrem terhadap tubuh manusia, terutama dalam kondisi isolasi yang mirip dengan perjalanan luar angkasa.
Setelah 100 hari, hasil yang diperoleh sangat mengejutkan. Ia mengungkapkan bahwa tubuhnya secara biologis menjadi lebih muda. Telomere, bagian pada kromosom yang berkaitan dengan usia, memanjang selama eksperimen ini.
Ia menyebut usia biologisnya turun dari 44 tahun menjadi 34 tahun meski usianya sebenarnya 56 tahun. Selain itu, hasil tes darah menunjukkan penurunan hingga 50 persen pada penanda peradangan, menandakan peningkatan kesehatan yang signifikan.
Namun, ada juga efek negatif dari tinggal di bawah air. Dr. Dituri kehilangan tinggi badan sekitar tiga perempat inci (sekitar 2 cm). Hal ini disebabkan oleh tekanan air yang tujuh kali lebih besar dibandingkan tekanan di permukaan. Tekanan ini membuat tubuhnya menyusut sementara. Meski begitu, tinggi badannya kembali normal setelah ia kembali ke daratan.
“Aquanaut selalu berada dalam tekanan, sehingga tubuh menjadi lebih pendek,” jelasnya.
Eksperimen ini memberikan wawasan penting tentang bagaimana tubuh manusia beradaptasi dalam lingkungan ekstrem. Temuan ini dianggap relevan untuk penelitian eksplorasi luar angkasa jangka panjang dan membuka peluang untuk studi kesehatan masa depan.
Dr. Dituri berhasil membuktikan bahwa meskipun hidup di bawah air memiliki tantangan, lingkungan seperti ini juga dapat memberikan manfaat luar biasa bagi kesehatan tubuh manusia.