Digitalisasi Layanan Kesehatan di Asia Tenggara Didorong melalui Sistem Terintegrasi

Digitalisasi dinilai tidak hanya membantu pengelola klinik bekerja lebih efisien, tetapi juga mengurangi risiko kebocoran data.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Digitalisasi Layanan Kesehatan di Asia Tenggara Didorong melalui Sistem Terintegrasi
Digitalisasi Layanan Kesehatan di Asia Tenggara Didorong melalui Sistem Terintegrasi (Merdeka.com)

Sektor layanan kesehatan di Asia Tenggara tengah mengalami peralihan dari pencatatan manual menuju sistem digital seiring dengan berkembangnya kebijakan pemerintah, kebutuhan perawatan pasien, serta tuntutan keamanan data dan efisiensi operasional. Pusat-pusat layanan kesehatan kini diwajibkan menggunakan rekam medis elektronik yang terintegrasi untuk menjamin perlindungan data pasien dan memenuhi standar pelayanan.

Digitalisasi dinilai tidak hanya membantu pengelola klinik bekerja lebih efisien, tetapi juga mengurangi risiko kebocoran data dan meningkatkan kesiapan fasilitas kesehatan dalam menghadapi persaingan layanan.

Dalam konteks tersebut, Kumo, sebuah platform Software as a Service (SaaS) untuk sektor kesehatan, mencatat perkembangan setelah satu dekade beroperasi. Platform ini telah digunakan oleh lebih dari 2.500 klinik dengan sekitar 25.000 pengguna di berbagai negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia dan Thailand.

Layanan Kumo mencakup sejumlah segmen melalui empat produk, yakni Aoikumo untuk klinik kecantikan dan pusat kesehatan, kumoDent untuk klinik gigi, kumoVet untuk klinik dan pusat perawatan hewan, serta kumoDoc untuk layanan dokter umum.

Penggunaan platform digital juga tercermin dari pengakuan di tingkat regional, antara lain melalui penghargaan MD Asia Pacific ICT Awards 2024 serta keterlibatannya sebagai Supporting Partner dalam inisiatif "100 Go Digital" pada 2023 dan 2024. Selain di fasilitas layanan kesehatan, sistem ini juga diadopsi oleh institusi pendidikan, seperti MAHSA University dan Penang International Dental College, sebagai bagian dari pengenalan teknologi kesehatan digital kepada mahasiswa.

Di sisi lain, pemilik klinik di Asia Tenggara menghadapi tantangan regulasi yang semakin kompleks, termasuk kewajiban penerapan Rekam Medis Elektronik (RME) dan perlindungan data pasien. Kompleksitas tersebut menuntut efisiensi operasional yang lebih tinggi di tengah keterbatasan sumber daya.

Teknologi ini mengintegrasikan berbagai kebutuhan operasional klinik dalam satu sistem, mulai dari pencatatan pasien, pembayaran, hingga pelaporan ke pemerintah, termasuk integrasi dengan sistem SATUSEHAT di Indonesia. Platform ini juga terhubung dengan layanan pihak ketiga seperti WhatsApp, Google, LINE, dan Stripe, serta mendukung manajemen klaim pihak ketiga dan sistem pembayaran terintegrasi.

Selain itu, tersedia aplikasi terpisah untuk dokter, pasien, dan perawat guna memudahkan koordinasi dan komunikasi selama proses perawatan.

Dalam aspek keamanan, platform ini telah mengantongi sertifikasi ISO/IEC 27001:2022 untuk Sistem Manajemen Keamanan Informasi dan SIRIM UKAS. Sistem tersebut juga terintegrasi dengan SNOMED CT guna mendukung interoperabilitas data diagnosis antar penyedia layanan kesehatan.

Pendiri Kumo, Kevin Nair, menegaskan bahwa pendekatan perusahaan tetap berfokus pada kebutuhan pengguna.

"Tidak ada yang berubah sejak awal. Kumo akan terus berkembang, didorong oleh pendekatan kami yang berpusat pada pelanggan. Kami berupaya memantapkan diri sebagai penyedia teknologi terkemuka di industri ini. Untuk mencapai hal tersebut, kami bekerja sama erat dengan klien, memperlakukan mereka sebagai mitra," ujar Kevin.

Ia menambahkan bahwa masukan pengguna menjadi dasar dalam pengembangan sistem.

"Dengan aktif mendengarkan masukan mereka dan melakukan penyesuaian perangkat lunak yang diperlukan, kami memastikan Kumo berada di garda terdepan dalam kemajuan teknologi untuk klinik," jelasnya.

Lebih lanjut, Kevin menilai bahwa masa depan layanan kesehatan tidak lagi ditentukan oleh banyaknya fitur aplikasi, melainkan oleh keterhubungan sistem yang efisien.

"Dekade berikutnya dari perawatan rawat jalan tidak akan ditentukan oleh lebih banyak aplikasi dan fitur, melainkan oleh ekosistem klinis yang lebih terintegrasi, interoperabel, dan cerdas dengan AI yang berbasis nilai. Perubahan kecil dapat membawa perbedaan besar," pungkasnya.

Rekomendasi