Abrakadabra, Kata Magis di Dunia Sulap yang Awalnya sebagai Penangkal Orang Kuno Terkena Demam

Muncul pertama kali kata itu bukan untuk sulap namun lebih ke pengobatan.

Fauzan Jamaludin
Oleh Fauzan Jamaludin - Reporter
Abrakadabra, Kata Magis di Dunia Sulap yang Awalnya sebagai Penangkal Orang Kuno Terkena Demam
Abrakadabra, Kata Magis di Dunia Sulap yang Awalnya sebagai Penangkal Orang Kuno Terkena Demam (© Umich.Edu)

Kata “abrakadabra” atau “abracadabra” mungkin merupakan kata yang sudah umum di telinga masyarakat, sekalipun bagi mereka yang tidak mengikuti dunia sihir dan sulap.

Kata yang acap kali dikaitkan dengan dunia sihir ini ternyata memiliki sejarah yang panjang, mulai dari digunakan oleh orang yang terkena demam hingga digunakan sebagai penangkal hal jahat, seperti dikutip dari National Geographic, Rabu (6/3).

Sebenarnya, asal-usul dari kata “abrakadabra” masih belum terlalu jelas dan juga menjadi bahan perdebatan dari para ahli. Satu hal yang pasti, abrakadabra sudah ada sejak masa kuno.<br>
© Pixabay/KELLEPICS

Abrakadabra pertama kali ditemukan dalam buku Liber Medicinalis (Buku Obat-obatan) tulisan Quintus Serenus Sammonicus di abad ke-2.

Di dalam bukunya, Serenus menulis bahwa abrakadabra merupakan sebuah pengobatan magis untuk mengatasi demam, sebuah penyakit yang menyusahkan banyak orang karena antibiotik belum banyak digunakan.

Serenus menyarankan pembuatan sebuah azimat/jimat yang terdiri dari perkamen—alat tulis sejenis kertas—yang ditulisi kata “ABRACADABRA”. 

Dok. Istimewa
© Pixabay/Dlee

Azimat tersebut kemudian akan digantungkan di leher orang yang menderita demam. Ia memerintahkan agar kata tersebut dituliskan sebanyak sebelas baris, tetapi setiap satu huruf terakhir dihapuskan pada setiap satu baris ke bawah. 

Dok. Istimewa
© Pixabay/Pexel

Hasilnya, tercipta barisan berbentuk segitiga, dengan kata paling atas bertuliskan “ABRACADABRA” dan pada baris terakhir bertuliskan “A”. Hal tersebut difungsikan agar demam dapat menghilang bersamaan dengan menghilangnya kata “ABRACADABRA”.

Serenus sendiri merupakan seseorang yang mempunyai jabatan penting di dalam keluarga bangsawan yang memiliki pengaruh sangat tinggi di Kekaisaran Romawi.

Hal itu menyebabkan kata-kata dan tulisannya dipertimbangkan oleh orang-orang di zamannya.
 
Tulisan serupa, dengan beberapa variasinya, juga ditemukan dalam sebuah papirus Mesir abad ke-3 yang ditulis dalam bahasa Yunani dan pada kodeks Koptik abad ke-6. 

Dok. Istimewa
© Umich.Edu

Kedua tulisan tersebut dituliskan dengan menggunakan metode yang sama, yaitu dengan menuliskan kata secara berbaris-baris dan menghilangkan dua huruf vokal yang ada di depan dan belakang kata setiap turun satu baris.

Teknik penulisan tersebut ditujukan untuk mengusir roh jahat dengan menuliskan kata-kata dari mantra lisan dalam sebuah struktur yang memiliki “bentuk hati” atau “kluster anggur” dengan bentuk segitiga.

Roh-roh jahat yang diusir dipercaya membawa penyakit sehingga mantra abrakadabra tersebut dipercaya juga dapat menyembuhkan demam dan penyakit lain.

Sejak kemunculannya yang pertama kali, abrakadabra masih tetap digunakan di berbagai belahan dunia.
© Pixabay/stevepb

Pada abad ke-16, tulisan Yahudi dari Italia menggunakan mantra abrakadabra sebagai penghalau demam. Saat Wabah Besar London di abad ke-17 di Inggris, orang-orang menggunakan abrakadabra untuk mencegah terkena infeksi wabah.

Rekomendasi