Di tengah kekhawatiran akan kembalinya lonjakan kasus COVID-19, Indonesia kini menghadapi tantangan baru berupa fenomena iklim yang tidak biasa: kemarau basah. Kondisi cuaca yang semestinya identik dengan kekeringan ini justru disertai hujan berkala dan kelembapan tinggi. Dampaknya tidak hanya pada sektor pertanian, melainkan juga kesehatan masyarakat, khususnya potensi penularan penyakit menular seperti COVID-19.
Menurut epidemiolog Dicky Budiman, kemarau basah dapat meningkatkan stabilitas virus di udara maupun di permukaan. Ia menjelaskan bahwa kelembapan tinggi memperpanjang usia virus dan memperbesar kemungkinan infeksi.
“BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) sebut saat ini Indonesia sedang kemarau basah. Sebetulnya kemarau basah itu menyebabkan kelembapan tinggi yang tentu dapat meningkatkan stabilitas virus di udara atau di permukaan,” ujar Dicky melalui pesan suara kepada Health Liputan6.com, Sabtu (7/6/2025).
Kondisi kemarau basah ini juga berdampak pada pola aktivitas masyarakat. Perubahan suhu ekstrem antara siang dan malam dapat melemahkan daya tahan tubuh. Di sisi lain, hujan yang turun secara berkala cenderung membuat orang lebih sering berkumpul di ruang tertutup, memperbesar risiko penularan virus.
Advertisement
Kemarau Basah dan Ancaman Kesehatan
Kemarau basah adalah kondisi cuaca yang tidak umum, di mana hujan tetap turun pada musim kemarau. Menurut BMKG, ini disebabkan oleh dinamika atmosfer regional dan global, termasuk suhu muka laut yang hangat, angin monsun yang aktif, serta pengaruh La Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD) negatif. Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perubahan iklim global dapat mengacaukan pola musim yang biasa.
Kelembapan yang tinggi di musim kemarau basah berdampak besar terhadap penyebaran penyakit, khususnya infeksi saluran pernapasan. COVID-19, yang ditularkan melalui droplet dan partikel di udara, menjadi lebih mudah menyebar dalam kondisi ini. Virus menjadi lebih stabil, bertahan lebih lama, dan memperbesar kemungkinan penularan antarmanusia.
"Namun itu semua bisa diminimalisir dengan personal hygiene, pakai masker, dan membuka ventilasi," tambah Dicky, menekankan pentingnya perilaku pencegahan.
Selain itu, perubahan suhu yang ekstrem antara siang dan malam membuat tubuh rentan mengalami penurunan sistem imun. Bagi kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, atau mereka yang memiliki komorbiditas, ini menjadi risiko tambahan yang tidak bisa diabaikan.
Advertisement
Urgensi Kesadaran Kolektif dan Upaya Mitigasi
Potensi peningkatan kasus COVID-19 di tengah kemarau basah bukan hanya isu individu, tetapi persoalan kolektif. Masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan langkah-langkah sederhana namun efektif. Mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, serta memastikan sirkulasi udara yang baik di ruang tertutup tetap menjadi langkah kunci.
Di sisi lain, pemerintah dan lembaga terkait diharapkan aktif menyampaikan informasi cuaca dan kesehatan secara cepat dan akurat. BMKG telah memprediksi bahwa kemarau basah akan berlangsung hingga Agustus 2025. Masa transisi (pancaroba) akan terjadi antara September hingga November, sebelum musim hujan kembali datang pada Desember 2025 hingga Februari 2026.
Pentingnya literasi iklim menjadi hal krusial, terutama karena dampak kemarau basah tidak hanya dirasakan di sektor kesehatan. Sektor pertanian misalnya, harus berhadapan dengan lahan yang terlalu lembap, memicu gagal panen dan berkembangnya hama serta penyakit tanaman. Ini menunjukkan bahwa kemarau basah memiliki efek domino yang bisa menjangkau berbagai aspek kehidupan.
BMKG mencatat bahwa 57,7% wilayah Indonesia atau sekitar 403 Zona Musim (ZOM) telah memasuki musim kemarau sejak April hingga Juni 2025. Wilayah Nusa Tenggara menjadi salah satu yang mengalami kemarau lebih awal. Puncaknya diprediksi terjadi pada Agustus 2025, dengan durasi kemarau yang lebih pendek dari normal di 298 ZOM atau 43% wilayah.
Advertisement
Harapan dan Tindakan Nyata
Menghadapi ancaman ganda berupa perubahan iklim dan kemungkinan lonjakan COVID-19, masyarakat Indonesia perlu bersikap adaptif dan bijak. Tidak hanya mengandalkan pemerintah, tetapi juga aktif melindungi diri dan lingkungan sekitar.
Kesadaran bahwa perubahan iklim nyata dan berdampak langsung pada kesehatan harus menjadi pendorong untuk perubahan perilaku. Adaptasi terhadap cuaca lembap, meningkatkan daya tahan tubuh melalui konsumsi makanan sehat, istirahat cukup, dan tidak abai terhadap gejala ringan seperti batuk atau pilek adalah langkah awal yang sangat penting.
Kesehatan bukan sekadar urusan medis, melainkan juga persoalan ekologi. Fenomena kemarau basah mengingatkan kita akan pentingnya menjaga alam agar tetap seimbang. Dalam konteks ini, pandemi COVID-19 adalah sinyal kuat bahwa krisis kesehatan dan krisis iklim saling terhubung.
Melalui edukasi berkelanjutan, upaya pencegahan, serta kesiapan menghadapi perubahan, diharapkan Indonesia bisa menghindari lonjakan kasus seperti di tahun-tahun sebelumnya. Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh di awal Juni ini seharusnya menjadi pengingat bahwa menjaga bumi juga berarti menjaga kesehatan umat manusia.