Fenomena “Ozempic Personality”: Ketika Obat Penurun Berat Badan Mempengaruhi Mood dan Kepribadian

Ozempic Personality menunjukkan bahwa keberhasilan penurunan berat badan perlu diimbangi dengan perhatian pada mood dan kepribadian demi menjaga kualitas hidup.

adinda nur shyavira
Oleh adinda nur shyavira - Reporter
Fenomena “Ozempic Personality”: Ketika Obat Penurun Berat Badan Mempengaruhi Mood dan Kepribadian
Fenomena “Ozempic Personality”: Ketika Obat Penurun Berat Badan Mempengaruhi Mood dan Kepribadian (Merdeka.com)

Istilah seperti "Ozempic face" dan "Ozempic butt" mungkin sudah akrab di telinga banyak orang, terutama mereka yang mengikuti perkembangan dunia kesehatan dan kecantikan. Namun, ada satu istilah baru yang kini mulai mencuri perhatian: "Ozempic personality". Istilah ini merujuk pada perubahan mood dan kepribadian yang dilaporkan oleh sebagian pengguna obat agonis GLP-1, seperti Ozempic, yang sejauh ini dikenal efektif membantu menurunkan berat badan.

Salah satu alasan utama mengapa Ozempic begitu efektif adalah karena cara kerjanya yang tidak hanya menargetkan lambung, tetapi juga otak. Pengaruh pada pusat kendali tubuh ini memang menguntungkan dalam upaya penurunan berat badan. Namun, di sisi lain, sejumlah pengguna mulai mempertanyakan apakah perubahan yang mereka alami pada tingkat emosional dan sosial adalah bagian dari efek samping obat tersebut.

Meskipun kasus perubahan mood dan kepribadian ini relatif jarang terjadi, fenomena ini tetap menarik untuk disoroti. Perubahan ini bisa berdampak positif, tetapi ada pula laporan anekdotal tentang efek yang kurang menyenangkan, mengundang diskusi serius di kalangan pengguna, dokter, dan peneliti. Simak ulasannya lebih lanjut yang dilansir dari womenshealthmag.com di bawah ini.

Bagaimana Ozempic Mempengaruhi Otak dan Kepribadian

Ilustrasi Otak
Ilustrasi Otak Pexels/KATRIN BOLOVTSOVA

Ozempic dan obat agonis GLP-1 lainnya bekerja dengan cara meniru hormon alami yang ditemukan di usus dan otak. Mekanisme ini membantu tubuh merasa kenyang lebih lama dengan memperlambat pencernaan, serta mengatur pusat penghargaan (reward center) di otak, khususnya pada area hipotalamus. Selain itu, Ozempic juga dapat mengurangi lonjakan dopamin, yaitu zat kimia otak yang terkait dengan rasa senang.

Menurut Dr. Rekha Kumar, seorang ahli endokrinologi terkemuka, "GLP-1 bukan hanya obat diabetes dan penurun berat badan, mereka juga bekerja sebagai obat otak." Dengan memengaruhi pusat penghargaan di otak, obat ini tidak hanya membantu mengendalikan nafsu makan, tetapi juga berpotensi mengubah cara seseorang merasakan kesenangan.

Dalam banyak kasus, efek ini bisa sangat positif. Pengguna melaporkan stabilisasi mood, peningkatan libido, dan kejernihan berpikir berkat pengurangan peradangan di otak. Kondisi gula darah yang lebih stabil pun turut memperbaiki kondisi emosional secara umum.

Namun, tidak semua perubahan ini bersifat menyenangkan. Beberapa pengguna berbagi pengalaman negatif, seperti penurunan minat terhadap aktivitas yang dulunya disukai, menurunnya libido, meningkatnya iritabilitas, atau perubahan dalam gaya berkomunikasi menjadi lebih monoton dan pendiam. Seorang pengguna Reddit bahkan menggambarkan pengalamannya, "Saya merasa lebih tenang, tetapi seolah kehilangan 'spark'. Kesenangan tidak seintens dulu." Bahkan, ada yang mengatakan bahwa teman dan keluarga mulai menganggap mereka menjadi lebih "membosankan" setelah menjalani terapi dengan GLP-1.

Anhedonia: Kehilangan Kemampuan Merasakan Kesenangan

Ilustrasi Anhedonia
Ilustrasi Anhedonia Pexels/Anastasia Shuraeva

Salah satu perubahan psikologis yang paling banyak dilaporkan oleh pengguna Ozempic adalah anhedonia, yaitu ketidakmampuan untuk merasakan kesenangan dari aktivitas yang sebelumnya dinikmati.

Menurut Dr. Michael Russo, seorang spesialis bedah bariatrik, kasus anhedonia terkait penggunaan GLP-1 memang ada, meskipun sangat jarang. Ia memperkirakan bahwa kejadian ini terjadi pada kurang dari 1% pasien dalam praktiknya. Namun, fenomena ini tetap layak diperhatikan, mengingat dampaknya yang dapat mempengaruhi kualitas hidup secara signifikan.

Mengapa ini bisa terjadi? Dr. Russo menjelaskan bahwa karena GLP-1 memodulasi pusat kesenangan di otak, ia berpotensi mengurangi semua jenis kesenangan. Artinya, bukan hanya nafsu makan yang ditekan, melainkan juga dorongan emosional lain yang berhubungan dengan rasa puas dan bahagia.

Sementara bukti ilmiah mengenai anhedonia akibat GLP-1 masih terbatas, baik Dr. Russo maupun Dr. Kumar mengakui bahwa efek ini kemungkinan besar bisa terjadi, meski pada sebagian kecil pengguna. Oleh karena itu, penting bagi pengguna untuk memahami perubahan yang mereka alami dan tidak ragu untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.

Apa yang Harus Dilakukan Jika Mengalami Perubahan Mood?

Ilustrasi Konsultasi dengan Dokter
Ilustrasi Konsultasi dengan Dokter Pexesls/MART PRODUCTION

Jika Anda mulai merasakan perubahan mood atau kepribadian setelah menggunakan Ozempic atau obat agonis GLP-1 lainnya, langkah pertama yang harus dilakukan adalah segera berkonsultasi dengan dokter. Jangan anggap remeh perubahan ini, karena ada berbagai solusi yang dapat dipertimbangkan.

Beberapa tindakan yang dapat dilakukan meliputi:

  1. Menurunkan dosis obat secara bertahap,
  2. Beralih ke jenis GLP-1 lain, misalnya dari semaglutide (komponen aktif Ozempic) ke tirzepatide, yang diyakini memiliki dampak lebih ringan terhadap mood

.

Dalam hal ini, Dr. Russo menegaskan, "Kita meresepkan obat ini untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan membuat orang menderita." Artinya, kesejahteraan emosional pasien menjadi bagian penting dari tujuan pengobatan, bukan sekadar berfokus pada penurunan berat badan atau kontrol gula darah.

Penting juga untuk mendokumentasikan perubahan apa pun yang Anda rasakan. Catatan harian tentang mood, aktivitas, dan interaksi sosial dapat menjadi alat berharga saat berdiskusi dengan tenaga medis tentang opsi perawatan yang terbaik.

Ilustrasi Perubahan Mood
Ilustrasi Perubahan Mood Pexels/@rawpixel.com

Ozempic dan obat agonis GLP-1 lainnya membawa harapan besar bagi mereka yang berjuang dengan obesitas atau diabetes tipe 2. Dengan efektivitas yang telah terbukti dalam menurunkan berat badan dan mengontrol gula darah, manfaatnya tidak bisa diabaikan. Namun, penting untuk diingat bahwa setiap intervensi medis juga membawa potensi risiko, termasuk perubahan mood dan kepribadian.

Fenomena "Ozempic personality" mengingatkan kita bahwa tubuh dan pikiran adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Perubahan fisiologis yang terjadi akibat pengobatan dapat merambat ke aspek emosional dan sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan kesadaran penuh terhadap efek samping yang mungkin muncul, serta komunikasi terbuka dengan tenaga medis, pengguna Ozempic dapat lebih siap mengelola perubahan ini dan memastikan bahwa perjalanan mereka menuju kesehatan yang lebih baik tetap mempertahankan kualitas hidup yang optimal.

Rekomendasi