Bantuan Helikopter Jepang Tiba di Kalbar, BNPB Ungkap Alasan Belum Dioperasikan

BNPB menyebut heli bantuan Jepang sudah tiba di Kalbar untuk karhutla, tapi belum bisa beroperasi. Ada ambang jarak pandang yang harus dipenuhi.

Winda Nelfira
Oleh Winda Nelfira - Reporter
Bantuan Helikopter Jepang Tiba di Kalbar, BNPB Ungkap Alasan Belum Dioperasikan
Foto udara ini memperlihatkan lahan yang terdampak kebakaran hutan di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat, Jumat, 4 September 2026. (AFP/ Bay Ismoyo)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan helikopter bantuan dari Jepang untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan sudah berada di Kalimantan Barat. Namun, armada tersebut belum bisa diterbangkan karena jarak pandang sangat terbatas akibat kabut asap.

"Bantuan helikopter Jepang saat ini sudah tiba di Kalimantan Barat, namun belum dapat dioperasikan karena memang visibility sangat rendah," kata Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan dalam keterangannya, Senin (15/9/2026).

Menurut Berton, operasi baru dapat dilakukan ketika kondisi jarak pandang memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan pihak operator.

"Pihak Jepang akan melakukan operasi ketika visibility sebesar 3.500 sampai 5.000 meter jarak pandang," ujarnya.

Sementara itu, data BNPB per 14 September 2026 mencatat luas area terbakar di Kalimantan Barat telah melampaui 48.536 hektare. Angka tersebut merupakan gabungan antara data SiPongi yang merekam lebih dari 38.310 hektare hingga 31 Juli 2026 dan hasil pengukuran lapangan BNPB yang mencapai lebih dari 10.224 hektare.

"Sedangkan yang kami ukur berdasarkan realita di lapangan 10.224 hektar lebih, sehingga total terbakar sebesar 48.536,73 hektar," katanya.

BNPB Catat 19 Titik Kebakaran

Pada 14 September 2026, BNPB mencatat 19 titik kebakaran dengan estimasi luas lahan terdampak lebih dari 261 hektare. Tim gabungan melakukan pemadaman melalui jalur darat serta dukungan operasi udara.

Pemadaman darat berhasil mengendalikan lebih dari 175 hektare, sementara operasi water bombing memadamkan lebih dari 5 hektare.

Hingga akhir kegiatan, masih tersisa lebih dari 80 hektare yang dijadwalkan ditangani pada 15 September 2026.

Rekomendasi