OMC dan Operasi Udara Terus Dipadukan Padamkan Karhutla

BNPB mengandalkan OMC, operasi darat, dan water bombing untuk kebakaran hutan di puncak kemarau El Nino. Satu metode dinilai paling efektif.

Jonathan Pandapotan Purba
OMC dan Operasi Udara Terus Dipadukan Padamkan Karhutla
Instruksi tersebut disampaikan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kepada Kepala BNPB Suharyanto saat meninjau Posko Penanganan Darurat Karhutla di Guntung Damar, Kalimantan Selatan, Kamis (10/8/2026) (Istimewa)

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengandalkan kombinasi operasi modifikasi cuaca (OMC), operasi darat, dan operasi udara untuk menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat puncak kemarau akibat El Nino.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan penanganan karhutla di enam provinsi prioritas lahan gambut, yakni Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, terus dilakukan secara masif dan terpadu.

“Tahun 2026 ini prediksi BMKG El Nino kuat dan memang betul-betul terbukti. Luas lahan terbakar di provinsi-provinsi prioritas lahan gambut meningkat,” ujarnya seperti dilansir Antara, Minggu (13/9).

Suharyanto mengatakan efektivitas masing-masing metode pemadaman menjadi pertimbangan dalam penanganan karhutla. Dari tiga metode tersebut, OMC dinilai paling efektif karena hujan dapat membasahi dan memadamkan area yang luas.

Operasi darat berada di urutan kedua, terutama untuk menangani lahan gambut yang memiliki bara api di bawah permukaan sehingga lebih sulit dipadamkan. Sementara itu, water bombing berada di urutan ketiga karena kapasitas angkut air yang terbatas, yakni sekitar 4 ton per sorti.

“Namun ketiganya tidak bisa dipisahkan. Water bombing memadamkan kepala api, lalu pasukan darat masuk membasahi lahan. Tanpa water bombing, pasukan darat juga berisiko,” ujarnya.

Menurut Suharyanto, lahan gambut membutuhkan penanganan khusus karena api yang terlihat sudah padam di permukaan belum tentu benar-benar mati. Bara api masih dapat bertahan di kedalaman gambut.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, BNPB menggunakan alat suntik gambut untuk memasukkan air hingga kedalaman 1–2 meter.

“Lahan gambut tidak cukup disiram sekali dua kali. Butuh pembasahan sampai kedalaman, sampai tanahnya berubah seperti bubur. Kami punya alat suntik gambut,” kata Suharyanto.

Dari tiga provinsi di Kalimantan yang terdampak karhutla, Suharyanto menyebut kondisi di Kalimantan Selatan relatif lebih ringan.

“Hari ini hanya memadamkan lahan kurang lebih 36 hektare. Tapi besok belum tentu segitu karena besok ada patroli lagi, siapa tahu ada titik api baru atau titik lama hidup lagi,” ujar Suharyanto.

Arahan Presiden dan Wapres

Suharyanto mengatakan Presiden dan Wakil Presiden juga mengarahkan agar OMC dimaksimalkan, termasuk ketika terdapat potensi awan hujan meski kecil. OMC juga dilakukan di wilayah yang tidak mengalami kebakaran di Kalimantan maupun Sumatra.

Ia mencontohkan Banjarmasin. Meski tidak terjadi kebakaran, BMKG mendeteksi potensi hujan sehingga OMC dilakukan untuk mengantisipasi paparan asap yang berasal dari kabupaten lain.

Berdasarkan data BNPB per 8 September 2026, total indikasi luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai 76.922,3 hektare.

Sementara itu, hingga 6 September 2026, dari total 72.009,10 hektare lahan gambut yang terbakar, sebanyak 939,45 hektare masih dalam proses pemadaman intensif.

Rekomendasi