Benarkah Puasa Ramadan Bisa Menormalkan Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes?

Jika seseorang menjalani puasa dengan pola makan yang seimbang, manfaatnya akan lebih signifikan, termasuk dalam menjaga kestabilan kadar gula darah.

Dyah Puspita Wisnuwardani
Benarkah Puasa Ramadan Bisa Menormalkan Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes?
Benarkah Puasa Ramadan Bisa Menormalkan Kadar Gula Darah pada Penderita Diabetes? (Merdeka.com)

Puasa Ramadan sering kali dianggap memiliki berbagai keuntungan bagi kesehatan, salah satunya adalah kemampuannya dalam menormalkan kadar gula darah. Namun, apakah anggapan ini benar-benar berlaku untuk semua orang? Menurut Kristina Joy Herlambang, seorang Dokter Spesialis Gizi Klinik di RS EMC Tangerang, puasa dapat memberikan dampak positif pada kadar gula darah, tetapi ada beberapa aspek yang harus diperhatikan.

"Secara umum, puasa bisa membantu mengontrol gula darah, tapi ini sangat tergantung pada kondisi pasien, bagaimana kontrol gula darahnya, serta pola makan selama puasa," jelasnya. Contohnya, bagi orang yang menjalani puasa tetapi saat berbuka mengonsumsi makanan yang tinggi karbohidrat sederhana, manfaat positif dari puasa tersebut bisa berkurang. "Kalau berbuka dengan minuman manis yang kandungan gulanya tinggi, makanan bertepung yang rendah serat, serta kurang protein, maka puasa malah bisa memperberat kondisi pasien," tambahnya.

Di sisi lain, jika seseorang menjalani puasa dengan pola makan yang sehat, maka manfaat baiknya akan lebih terasa, termasuk dalam menjaga kadar gula darah agar tetap stabil. "Puasa yang benar, dengan konsumsi makanan tinggi serat, protein cukup, serta bahan makanan segar yang kaya nutrisi, vitamin, dan mineral, tentu akan bermanfaat. Gula darah pun bisa lebih terkontrol," ungkapnya dalam Program Healthy Monday, dirangkum Merdeka.com, Senin(3/3/2025).

Apakah Puasa Berisiko bagi Penderita Diabetes?

Tidak semua individu yang mengalami diabetes atau memiliki kadar gula darah tinggi dapat melakukan puasa dengan aman. Menurut Dr. Kristina, penting untuk melakukan pemeriksaan terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan untuk berpuasa. "Kita harus lihat dulu kadar gula darahnya setinggi apa dan bagaimana kontrolnya.

Jika HbA1c masih dalam batas aman dan gula darah terkontrol dengan baik, puasa justru bisa memberikan manfaat," ungkapnya. Namun, bagi mereka yang kadar gula darahnya masih belum stabil atau masih bergantung pada insulin, diperlukan perhatian lebih. "Pada kondisi ini, pengawasan ketat dan konsultasi dengan dokter sangat diperlukan sebelum menjalankan puasa," imbuhnya.

Pilihan Menu untuk Buka Puasa dan Sahur

Pola makan yang diterapkan saat berpuasa memiliki dampak signifikan terhadap kestabilan kadar gula darah. Ketika waktu berbuka tiba, sebaiknya pilihlah minuman yang tidak terlalu manis, seperti air putih atau air kelapa. Selain itu, kurma juga merupakan pilihan yang tepat karena memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik.

"Kurma memang manis, tapi mengandung selenium, zinc, dan serat yang baik untuk tubuh. Saat dikunyah perlahan, kurma bisa meningkatkan gula darah secara bertahap tanpa lonjakan drastis," jelasnya.

Dengan mengonsumsi kurma, tubuh dapat memperoleh manfaat gizi yang optimal dan menjaga kestabilan gula darah. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan asupan saat berbuka puasa agar kesehatan tetap terjaga.

Mengonsumsi Sayuran Segar yang Tinggi Serat dan Vitamin

Setelah berbuka puasa, sangat penting untuk memilih makanan yang kaya serat dan tidak melalui proses penggorengan. Sayuran segar merupakan pilihan yang ideal karena mengandung banyak serat, vitamin, dan mineral yang dapat membantu menjaga kestabilan kadar gula darah dalam tubuh.

“Selain serat, protein dan lemak sehat juga berperan penting. Pilih protein dari bahan alami seperti ikan segar, ayam, atau telur. Hindari makanan olahan dan instan yang tinggi garam dan pengawet,” tambahnya.

Dengan memperhatikan asupan makanan setelah puasa, kita dapat memastikan bahwa tubuh mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan untuk pemulihan dan kesehatan secara keseluruhan.

Pilihlah Karbohidrat yang Kompleks

Penting untuk memperhatikan pemilihan jenis karbohidrat dalam pola makan. Karbohidrat yang bersifat kompleks lebih dianjurkan karena dapat mencegah terjadinya lonjakan kadar gula darah yang signifikan. "Nasi, kentang, dan umbi-umbian baik dikonsumsi selama tidak diolah berlebihan.

Jika dikukus atau direbus, manfaatnya masih optimal. Tapi jika sudah diolah menjadi makanan yang terlalu banyak tepung atau gula, efeknya bisa berbeda," pungkasnya.

Dengan memahami cara makan yang benar selama bulan puasa, kita dapat memaksimalkan manfaat kesehatan yang diinginkan, termasuk dalam menjaga kestabilan kadar gula darah.

Rekomendasi