Penyebab Perilaku Agresif pada Anak, Orangtua Perlu Tahu Cara Mengatasinya

Perilaku agresif pada anak perlu disadari oleh orangtua dan diatasi secara cepat dan tepat.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Penyebab Perilaku Agresif pada Anak, Orangtua Perlu Tahu Cara Mengatasinya
Anak balita juga bisa menggigit, membenturkan kepala, memberontak, melempar atau menendang barang. (Shutterstock)

Perilaku agresif pada anak seringkali menjadi tantangan besar bagi orangtua. Agresi, baik fisik (seperti memukul atau mendorong) maupun verbal (seperti memaki), adalah cara anak mengekspresikan kemarahan atau ketidakpuasan mereka terhadap seseorang atau situasi tertentu. Meskipun agresi adalah bagian normal dari perkembangan anak, penting untuk memahami penyebabnya dan mencari solusi yang tepat agar anak dapat mengelola emosinya dengan baik.

Dilansir dari Mom Junction, menurut penelitian, agresi pada anak dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari peristiwa kehidupan yang tidak menyenangkan, masalah kesehatan mental, hingga kondisi medis tertentu. Mengidentifikasi penyebab agresi dan melatih anak untuk mengelola emosi adalah langkah efektif untuk membantu mereka mengendalikan perilaku agresif. Dengan pendekatan yang tepat, orangtua dapat menciptakan lingkungan rumah yang damai sekaligus mendukung perkembangan emosional dan sosial anak.

Agresi pada anak dapat dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

Agresi Tidak Disengaja (Accidental Aggression)

Agresi ini terjadi tanpa niat untuk menyakiti orang lain. Contohnya, anak tidak sengaja memukul tangan teman saat memakai jaket atau menginjak kaki teman saat bermain.

Agresi Ekspresif (Expressive Aggression)

Anak melakukan tindakan agresif karena merasa senang atau lebih baik, tanpa bermaksud menyakiti orang lain. Misalnya, anak menikmati merobohkan menara balok milik saudaranya tanpa menyadari bahwa hal itu bisa membuat saudaranya sedih.

Agresi Instrumental (Instrumental Aggression)

Agresi ini dilakukan untuk mendapatkan sesuatu, seperti mainan atau kesempatan menggunakan ayunan. Anak-anak berusia 2-6 tahun sering menunjukkan agresi jenis ini karena mereka cenderung egosentris dan sulit berbagi.

Agresi Permusuhan (Hostile Aggression)

Ini adalah bentuk agresi yang paling ekstrem, di mana anak berniat menyakiti orang lain secara fisik atau psikologis. Agresi ini sering terlihat dalam kasus perundungan (bullying).

Tidak ada satu penyebab tunggal agresi pada anak. Berikut adalah beberapa faktor yang dapat memengaruhi perilaku agresif:

Faktor Pranatal

Paparan rokok dan alkohol selama kehamilan dapat memengaruhi perkembangan otak janin, meningkatkan risiko anak memiliki sifat agresif dan hiperaktif di kemudian hari.

Faktor Keluarga

Dinamika keluarga yang tidak harmonis, seperti seringnya pertengkaran atau kekerasan dalam rumah tangga, dapat membuat anak meniru perilaku agresif. Selain itu, karakteristik orangtua yang impulsif atau memiliki riwayat gangguan mental juga dapat memengaruhi perkembangan emosional anak.

Faktor Sosial

Lingkungan tempat tinggal dan pergaulan anak juga berperan besar. Anak yang tinggal di lingkungan penuh kekerasan atau berteman dengan anak-anak agresif cenderung meniru perilaku tersebut.

Paparan Kekerasan

Anak yang mengalami atau menyaksikan kekerasan, baik di dunia nyata maupun melalui media, lebih rentan menunjukkan perilaku agresif.

Kondisi Patologis

Beberapa gangguan mental, seperti ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder), gangguan bipolar, atau autisme, dapat menyebabkan anak menjadi agresif.

Anak yang sering menunjukkan perilaku agresif berisiko mengalami berbagai masalah, seperti:

Cedera pada diri sendiri atau orang lain.

Kerusakan properti.

Hubungan keluarga yang buruk.

Kesulitan bersosialisasi dan membuat teman.

Masalah akademis di sekolah.

Peningkatan risiko penyalahgunaan zat.

Berikut adalah beberapa strategi yang dapat dilakukan orangtua untuk membantu anak mengelola agresi:

Ajarkan Anak Menggunakan Kata-Kata

Dorong anak untuk mengungkapkan perasaannya secara verbal daripada fisik. Misalnya, katakan, "Ibu tahu kamu marah," untuk membantu anak mengidentifikasi emosinya.

Jadilah Contoh Perilaku Non-Agresif

Anak belajar dari orangtua. Tunjukkan sikap tenang dan sopan, bahkan dalam situasi yang membuat frustrasi.

Berikan Pujian

Apresiasi anak ketika mereka berhasil menyelesaikan masalah tanpa agresi. Pujian dapat memperkuat perilaku positif.

Jangan Menuruti Amukan

Menuruti amukan anak hanya akan mengajarkan bahwa agresi adalah cara efektif untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Sebaliknya, jelaskan alasan di balik keputusan Anda dengan tenang.

Tetapkan Jadwal dan Aturan

Buat rutinitas harian yang jelas untuk mengurangi frustrasi anak. Batasi paparan terhadap konten kekerasan di media dan atur waktu bermain dengan adil.

Jika upaya di rumah tidak membuahkan hasil, atau jika agresi anak disebabkan oleh kondisi psikologis atau patologis, sebaiknya konsultasikan dengan psikolog atau psikiater anak. Terapi perilaku kognitif (CBT) dan obat-obatan mungkin diperlukan untuk membantu anak mengelola gejala mereka.

Perilaku agresif pada anak bukanlah hal yang harus diabaikan. Dengan memahami penyebabnya dan menerapkan strategi yang tepat, orangtua dapat membantu anak mengelola emosi mereka secara sehat. Ingatlah bahwa perubahan perilaku membutuhkan waktu dan kesabaran. Dengan dukungan yang konsisten, anak dapat belajar mengatasi agresi dan tumbuh menjadi individu yang lebih bahagia dan seimbang.

Rekomendasi