Dokter Terangkan Jadi Vegetarian Belum Tentu Bisa Cegah Kolesterol Tinggi

Vegetarian tidak menjamin kolesterol seseorang menjadi bagus. Menurut Dafsah tergantung bagaimana pelaku memproses makanan atau sayuran yang akan disantap.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Dokter Terangkan Jadi Vegetarian Belum Tentu Bisa Cegah Kolesterol Tinggi
Ilustrasi vegetarian. ©Shutterstock/DUSAN ZIDAR

Kolesterol tinggi merupakan salah satu masalah kesehatan yang menjadi kekhawatiran bagi banyak orang. Banyak yang percaya bahwa permasalahan ini bisa diatasi dengan mengubah pola konsumsi makanan dengan menjadi vegetarian.

Lantas, benarkah vegetarian mujarab untuk mencegah kolesterol tinggi?

"Belum tentu," kata Dr dr Dafsah Arifa Juzar SpJP (K) menjawab pertanyaan Health Liputan6.com dalam bincang-bincang santai belum lama ini.

Vegetarian tidak menjamin kolesterol seseorang menjadi bagus. Menurut Dafsah tergantung bagaimana pelaku memproses makanan atau sayuran yang akan disantap.

"Kayak misalnya mau makan burger, tapi burger sintetis, sama saja itu processed food. Kan banyak sekarang ayam bohongan, itu kan proses juga," kata Dafsah.

Dafsah sadar bahwa tidak semua orang yang beralih menjadi vegetarian atau vegan semata-mata untuk kesehatan. Ada juga karena merasa mengolah daging untuk konsumsi sehari-hari menggunakan bahan bakar yang banyak.

Untuk yang alasan kesehatan, Dafsah mengimbau untuk lebih berhati-hati dalam mengolahnya. Lagipula menurut dokter jantung spesialiasi intervensi kardiologi dan kardiovaskular intensif di Heartology Cardiovascular Center, Brawijaya Hospital Saharjo, Jakarta, menyantap makanan yang lazim ditemui sehari-hari juga dapat membantu kita terhindar dari kolesterol tinggi.

Makanan untuk Mencegah Kolesterol Tinggi

Idealnya, kata Dafsah, santaplah makanan yang tidak banyak diproses. Mau itu daging, ikan, atau sayur jangan terlalu lama diolahnya.

"Yang whole food, lah, intinya. Yang kaleng-kaleng, sudahlah tinggalin," katanya.

Dafsah bahkan tidak memersoalkan makanan yang digoreng. Termasuk misalnya ingin makan kol goreng, silakan saja.

"Digoreng asal tidak sampai blenyek sih masih oke, lah," ujarnya.

Dafsah kemudian mengatakan bahwa tidak sedikit orang yang selalu berpikir 'kalau sakit berarti ada makanan yang harus dihindari', padahal itu keliru.

"Prinsipnya, balik lagi ke faktor risiko tadi. Kalau faktor risikonya baik dan enggak ada penambahan berat badan, BMI berada di angka ideal, 25 sampai 30 antara itu masih okelah. Mau makan apa saja enggak papa," katanya.

Sebab, lanjut Dafsah, apapun yang dipilih harus yang suistannable (berkelanjutan), bukan yang sifatnya temporary (sementara).

"Itu enggak ada gunanya menurut saya," kata Dafsah.

"Harus dijadikan bagian dari gaya hidup, bukan sesuatu yang kayak 'saya diet mau target sekian'. Entar kalau sudah sampai target, loss, balik lagi (berat badannya)," dia menekankan.

Dalam hal mencegah penyakit apapun, kata Dafsah, sebaiknya gaya hidupnya yang diperbaiki sekarang juga.

"Cara makannya yang diubah, yang bisa dilakukan sampai tua," terangnya.

Reporter: Aditya Eka Prawira
Sumber: Liputan6.com

Rekomendasi