Keracunan makanan bukan masalah besar, benarkah?

Adalah bayi, balita, ibu hamil, dan manula yang paling rentan mengalami kondisi serius akibat keracunan makanan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Keracunan makanan bukan masalah besar, benarkah?
Ilustrasi keracunan makanan. ©Shutterstock/DmitriMaruta

Ketika keracunan makanan, banyak orang menganggap kalau setelah dibiarkan sehari atau dua hari, kondisinya akan membaik dan semuanya sudah berakhir. Benarkah demikian?

"Sangat tidak benar," tegas Bethany Thayer, ahli diet dan juru bicara resmi dari Academy of Nutrition and Dietetics di Amerika.

Menurut Thayer, kasus keracunan makanan menyebabkan setidaknya 48 juta penyakit dan 3.000 kematian setiap tahun di negaranya.

"Seberapa parah kondisi seseorang bergantung pada bakteri yang menyebabkan dia keracunan, berapa banyak yang sudah dimakan, dan sistem imun seseorang itu sendiri," tegas Thayer, seperti yang dikutip dari Woman's Day.

Adalah bayi, balita, ibu hamil, dan manula yang paling rentan mengalami kondisi serius akibat keracunan makanan. Bahkan mereka berisiko tinggi merasakan efek jangka panjang.

Lantas apa saja dampak jangka panjang dari keracunan makanan? Food Safety pun merangkumnya untuk Anda.

Gagal ginjal
Karena terjadi infeksi dalam sistem pencernaan yang menghancurkan sel darah merah, ginjal akan mengalami cedera. Hal ini terjadi ketika seseorang keracunan akibat bakteri E. coli.

Radang sendi akut
Pada beberapa orang yang keracunan makanan akibat bakteri Shigella atau Salmonella juga merasakan radang pada persendian, iritasi mata, dan nyeri di organ intim ketika buang air kecil. Selama beberapa bulan sampai tahun, radang sendi bisa bertambah parah dan semakin sulit disembuhkan.

Kerusakan saraf dan otak
Jika bayi yang baru lahir terinfeksi bakteri Listeria, efek jangka panjang akan menimbulkan gangguan mental, tuli, buta, sampai lumpuh.

Kematian
Di Amerika, sekitar 3.000 warganya meninggal dunia akibat penyakit yang ditimbulkan dari keracunan makanan. Organisme yang menyebabkan kematian dari keracunan makanan tersebut kebanyakan adalah Salmonella, Toxoplasma, Listeria, norovirus, dan Campylobacter.

Kini sudah jelas bukan bahwa keracunan masalah tidak bisa dianggap sebagai masalah sepele. Jadi ketika merasakan gejala yang tidak wajar setelah keracunan makanan, jangan ragu menghubungi dokter.

Baca juga:
Jangan lewatkan makanan ini saat hamil!
Sering makan junk food saat hamil bikin anak agresif
4 Kekhawatiran ibu hamil
Jenis kelamin bayi bisa diprediksi dari detak jantungnya?
Bentuk perut ibu hamil tentukan jenis kelamin janin, benarkah?

Rekomendasi