Trauma akibat tragedi sebabkan kelainan mental

Anak yang mengalami trauma akibat tragedi kemungkinan akan menderita kelainan mental PTSD. Seperti apa itu?

Kun Sila Ananda
Oleh Kun Sila Ananda - Reporter
Trauma akibat tragedi sebabkan kelainan mental
Ilustrasi anak trauma. ©Shutterstock.com/Denizo71

Penembakan yang terjadi di sekolah dasar Newton Connectitut memakan banyak korban meninggal sekaligus menyisakan trauma pada korban yang berhasil hidup. Meski cedera fisik yang dialami oleh korban selamat telah pulih, namun trauma yang mereka alami akibat tragedi tersebut akan menghantui seumur hidup.

Berdasarkan CNN, setelah mengalami tragedi, orang akan mengalami dua tahap penyembuhan. Pertama adalah penyembuhan dengan cepat dan penyembuhan yang lama.

Meski kebanyakan orang bisa sembuh dari trauma namun menurut Russel T Jones, profesor psikologi dari Virginia Tech, sekitar delapan hingga 15 persen orang akan memiliki post-traumatic stress disorder (PTSD) sebagai ganti trauma yang mereka rasakan.

Berdasarkan Boston Children's Hospital, PTSD adalah kelainan mental yang bisa menyerang anak-anak, remaja, dan orang dewasa yang telah menjalani kejadian traumatis.

Anak-anak yang mengalami PTSD biasanya akan mengalami tiga jenis gejala. Pertama adalah mengalami trauma terus menerus, bersikap menghindar, atau mengalami ketakutan yang besar.

Anak usia lima sampai 12 tahun kemungkinan tak akan memiliki kenangan dan bisa mengingat hal tersebut untuk bisa mengatasi ketakutan mereka seperti orang dewasa. Sebaliknya, trauma mereka akan terlihat dari cara mereka bermain.

Misalkan seorang anak mungkin ingin selalu bermain menembak setelah dia melihat penembakan di sekolahnya. Mereka merasa ingin membawa senjata api ke sekolah, atau malah sebaliknya sangat menghindari senjata api dan merasa sangat ketakutan ketika melihatnya.

Beberapa gejala lainnya adalah munculnya rasa cemas, stres, susah tidur, atau rasa bersalah akibat tragedi yang traumatis tersebut. Meski begitu, tak semua orang akan terkena PTSD.

"Tak semua orang yang menyaksikan kejadian traumatis akan mengalami PTSD. Risiko terbesar adalah pada anak-anak," ungkap Dr melissa Brymer dari National Center for Child Traumatic Stress, seperti dilansir oleh Huffington Post (14/12).

Sebuah penelitian pada korban penembakan di Santana High School, California yang selamat menunjukkan bahwa sekitar seperempat murid dari 247 siswa menderita PTSD setelah mengalami tragedi tersebut.

Rekomendasi