Jangan Sampai Lupa, Pentingnya Masker Jadi ‘Tameng’ Anak saat di Lokasi Kurban!

Menjelang Idul Adha, anak perlu masker di lokasi kurban untuk cegah gangguan pernapasan akibat debu dan bau menyengat.

Rahma Aisy
Oleh Rahma Aisy - Reporter
Jangan Sampai Lupa, Pentingnya Masker Jadi ‘Tameng’ Anak saat di Lokasi Kurban!
Jangan Sampai Lupa, Pentingnya Masker Jadi ‘Tameng’ Anak saat di Lokasi Kurban! (Merdeka.com)

Menjelang Hari Raya Idul Adha, semarak persiapan kurban mulai terasa di berbagai daerah. Lapak-lapak hewan kurban mulai bermunculan di pinggir jalan, membawa serta kegembiraan sekaligus rasa penasaran anak-anak yang kerap diajak orang tua untuk melihat langsung sapi, kambing, atau domba yang akan dikurbankan. Namun di balik keseruan itu, ada ancaman tersembunyi bagi kesehatan anak yang tidak boleh diabaikan: paparan debu, bau menyengat, dan lingkungan kurang higienis di tempat penampungan hewan.

Menurut dokter spesialis anak konsultan respirologi, dr. Nastiti Kaswandani, membekali anak-anak dengan masker saat mengunjungi lokasi hewan kurban sangat penting untuk mencegah gangguan pernapasan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat penyakit seperti asma atau alergi.

“Supaya anak-anak itu tidak terganggu, caranya sebagai orang tua mesti melihat apakah ada bau menyengat, debu yang berterbangan, apakah kotorannya dikelola dengan baik. Kalau tidak, sarannya menggunakan masker,” ungkapnya dalam wawancara bersama ANTARA, Sabtu (1/6).

Peringatan ini perlu menjadi perhatian serius, mengingat lokasi penampungan hewan kurban sering kali berada di area terbuka, seperti pinggir jalan, yang tidak dirancang dengan sistem sanitasi dan sirkulasi udara yang memadai. Situasi tersebut dapat berisiko besar bagi anak-anak yang memiliki daya tahan tubuh lebih rendah dibandingkan orang dewasa.

Dokter Nastiti, yang juga dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia serta menjabat sebagai Ketua Unit Kerja Koordinasi Respirologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menjelaskan bahwa bukan hewan ternaknya yang berbahaya, melainkan pengelolaan lingkungan di sekitar tempat penampungan yang kerap menjadi sumber gangguan kesehatan.

“Masalahnya bukan pada hewan ternaknya, sapi, kambing, atau domba, tapi bagaimana pengelolaannya. Harusnya lebih ideal,” ujarnya.

Penampungan hewan kurban yang dibangun dadakan sering kali hanya memanfaatkan lahan kosong di sekitar pemukiman atau jalan raya, tanpa perlakuan khusus terhadap kebersihan kandang, penanganan kotoran hewan, dan pengelolaan bau. Akibatnya, udara sekitar menjadi penuh dengan partikel debu dan gas amonia dari kotoran, yang berpotensi memicu iritasi saluran pernapasan.

Bagi anak-anak yang memiliki riwayat asma, bronkitis, atau alergi pernapasan, situasi ini bisa memunculkan gejala seperti batuk, sesak napas, bahkan serangan asma akut. Meskipun anak dalam kondisi sehat sekalipun, paparan debu dan bau menyengat tetap berisiko menurunkan kualitas pernapasan dan menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas.

Selain itu, kerumunan manusia di lokasi penampungan juga meningkatkan kemungkinan penularan infeksi saluran pernapasan, termasuk flu atau ISPA. Masker pun menjadi benteng pertama yang sederhana namun efektif, terutama jika digunakan dengan benar dan sesuai ukuran wajah anak.

Menggunakan masker kesehatan anak saat mengunjungi lokasi kurban bukan hanya soal pencegahan penyakit, tetapi juga langkah awal mengajarkan anak hidup bersih dan sehat. Masker kini tidak lagi sekadar atribut masa pandemi, melainkan menjadi bagian dari gaya hidup sehat, terutama dalam situasi lingkungan berisiko tinggi.

“Membekali anak dengan masker bisa menjadi langkah perlindungan sekaligus pembelajaran kesehatan yang sederhana namun bermakna,” ujar dr. Nastiti.

Anak-anak sering kali antusias melihat langsung hewan kurban. Kunjungan ke tempat penampungan dapat dijadikan momen edukatif tentang makna ibadah kurban, tanggung jawab terhadap hewan, serta pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Di sinilah peran orang tua sangat penting untuk tidak hanya mempersiapkan masker, tetapi juga menjelaskan alasan penggunaannya secara sederhana agar anak bisa memahami dan tidak merasa terganggu.

Orang tua bisa menjelaskan, misalnya, bahwa debu dan bau dari kotoran hewan bisa masuk ke hidung dan menyebabkan batuk, dan masker akan membantu menyaring udara yang dihirup. Edukasi semacam ini akan menanamkan kesadaran sejak dini pada anak-anak tentang perlindungan diri dan pentingnya kebersihan lingkungan.

Agar momen melihat hewan kurban tetap menyenangkan dan aman bagi anak-anak, berikut beberapa tips penting yang bisa diterapkan orang tua:

  1. Gunakan masker yang sesuai ukuran anak. Pastikan masker yang digunakan tidak longgar dan menutup hidung serta mulut dengan baik.
  2. Hindari lokasi kurban yang terlalu padat dan berbau menyengat. Jika memungkinkan, pilih waktu kunjungan saat lokasi belum terlalu ramai dan bau tidak terlalu menyengat.
  3. Bekali anak dengan hand sanitizer atau tisu basah. Setelah menyentuh sesuatu, anak bisa membersihkan tangan sebelum menyentuh wajah atau makan.
  4. Batasi waktu kunjungan. Jangan terlalu lama berada di lokasi, terutama jika kondisi udara buruk atau terlalu panas.
  5. Perhatikan tanda-tanda reaksi alergi atau iritasi. Jika anak mulai batuk, bersin-bersin, atau mengeluh sesak, segera ajak menjauh dari lokasi dan beri pertolakan awal.

Dengan persiapan sederhana seperti ini, orang tua dapat memastikan bahwa pengalaman anak menjelang Idul Adha tetap aman dan bermakna, tanpa harus mengorbankan aspek kesehatan mereka.

Lebih jauh, dr. Nastiti juga menyoroti perlunya perbaikan pengelolaan tempat penampungan hewan kurban oleh pihak-pihak terkait, seperti panitia kurban dan pemerintah daerah. Penataan lokasi yang lebih bersih, pengelolaan limbah kotoran hewan yang tepat, serta kontrol jumlah hewan yang ditampung, dapat meminimalisasi risiko gangguan kesehatan bagi masyarakat sekitar, terutama anak-anak.

“Idealnya, penampungan hewan dibuat dengan pengelolaan yang lebih baik, sehingga tidak menimbulkan polusi udara dan gangguan bagi lingkungan,” jelasnya.

Momentum Idul Adha seharusnya menjadi kesempatan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kesehatan masyarakat dalam pelaksanaan ibadah, bukan hanya dalam hal distribusi daging kurban yang higienis, tetapi juga dalam pengelolaan tempat hewan kurban sebelum disembelih.

Melibatkan anak dalam perayaan Idul Adha adalah hal yang positif, apalagi jika diiringi dengan edukasi seputar nilai keikhlasan dan ibadah. Namun, kesehatan mereka tetap harus menjadi prioritas. Menggunakan masker saat mengunjungi lokasi hewan kurban adalah langkah kecil yang bisa berdampak besar, terutama dalam mencegah gangguan pernapasan dan penyakit lainnya.

Dengan pengelolaan lokasi kurban yang lebih baik serta kesadaran orang tua dalam menjaga kesehatan anak, perayaan Idul Adha dapat berlangsung lebih aman dan menyenangkan untuk semua kalangan, termasuk generasi penerus bangsa.

“Masker bukan hanya pelindung, tetapi bentuk kasih sayang dan tanggung jawab orang tua terhadap kesehatan anaknya,” pungkas dr. Nastiti.

Rekomendasi