Bruce Willis Alami Demensia Frontotemporal Hingga Kesulitan Berkomunikasi, Mengungkap Fakta Tentang Penyakitnya

Bruce Willis, aktor berusia 68 tahun, telah dihadapkan pada tantangan yang sulit setelah didiagnosis menderita demensia frontotemporal.

Titah Mranani
Oleh Titah Mranani - Reporter
Bruce Willis Alami Demensia Frontotemporal Hingga Kesulitan Berkomunikasi, Mengungkap Fakta Tentang Penyakitnya
Bruce Willis (© 2023 merdeka.com)

Bruce Willis, aktor berusia 68 tahun, telah dihadapkan pada tantangan yang sulit setelah didiagnosis menderita demensia frontotemporal.

Bruce Willis, aktor berusia 68 tahun, telah dihadapkan pada tantangan yang sulit setelah didiagnosis menderita demensia frontotemporal.
© 2023 merdeka.com

Teman lama Willis, pencipta serial televisi Moonlighting Glenn Gordon Caron, memberikan gambaran tentang keadaan aktor tersebut. 

Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com

Dalam wawancara terbaru dengan New York Post, Caron mengungkapkan bagaimana Willis mengalami kesulitan dalam perilaku dan bahasa, khususnya gejala afasia yang mempengaruhi kemampuan berkomunikasi akibat kerusakan di bagian depan dan samping otak.

Kehilangan Kebahagiaan Hidup

Kehilangan Kebahagiaan Hidup
© 2023 merdeka.com

Caron menyatakan bahwa meskipun Willis masih bisa dikenali, semangat dan kebahagiaan hidupnya mulai memudar. "Namun, kebahagiaan hidupnya hilang," ujar Caron. Meskipun demikian, mereka tetap menjaga hubungan persahabatan mereka meski Willis tidak lagi dapat berkomunikasi secara verbal seperti dulu.

Moonlighting Kembali ke Layar Kaca

Moonlighting Kembali ke Layar Kaca
© 2023 merdeka.com

Meskipun menghadapi kondisi sulit, Willis masih dapat merasakan kebahagiaan melalui prestasi masa lalunya. Caron memberitahu bahwa serial televisi Moonlighting, yang dibintangi oleh Willis dari 1985 hingga 1989, akan tayang kembali di platform streaming Hulu. 

Meskipun Willis tidak dapat menyampaikan rasa senangnya secara langsung, Caron merasa Willis bersyukur bahwa karyanya akan dinikmati kembali oleh penonton.

Meskipun Willis tidak dapat menyampaikan rasa senangnya secara langsung, Caron merasa Willis bersyukur bahwa karyanya akan dinikmati kembali oleh penonton.
© 2023 merdeka.com

Diagnosis dan Progresi Penyakit

Diagnosis dan Progresi Penyakit
© 2023 merdeka.com

Awal tahun ini, keluarga Willis mengumumkan bahwa penyakitnya dimulai dengan diagnosis afasia sebelum berkembang menjadi demensia frontotemporal.

Penyakit ini memengaruhi lobus frontal dan temporal otak, menyebabkan perubahan dalam kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbahasa.

Gejala yang Diperhatikan

Gejala yang Diperhatikan
Dok. Istimewa

Menurut University of Navarra, gejala demensia frontotemporal melibatkan perubahan kepribadian, perilaku tidak pantas, impulsivitas, apatis, kehilangan empati, perilaku berulang atau kompulsif, dan perubahan pola makan. 

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

Keunikan penyakit ini adalah kemungkinan menyerang orang yang lebih muda, antara usia 40 hingga 65 tahun, dibandingkan dengan jenis demensia lainnya yang biasanya muncul pada usia 65 tahun ke atas.

Jenis-Jenis Demensia Frontotemporal

Jenis-Jenis Demensia Frontotemporal
Dok. Istimewa

John Hopkins Medicine membedakan beberapa jenis demensia frontotemporal, termasuk FTD varian depan yang lebih memengaruhi perilaku dan kepribadian, afasia progresif primer dengan kesulitan berkomunikasi, dan tipe lain yang sangat langka yang memengaruhi gerakan tubuh.

Tanda dan Gejala Demensia Frontotemporal

Tanda dan Gejala Demensia Frontotemporal
Dok. Istimewa

1. Perubahan Perilaku

1. Perubahan Perilaku
Dok. Istimewa

Gejala umum demensia frontotemporal melibatkan perubahan perilaku, seperti kehilangan empati, kurangnya penilaian, perilaku kompulsif, dan perubahan kebiasaan makan. Pasien juga mungkin tidak peduli dengan kebersihan diri dan cenderung memasukkan benda-benda yang bukan makanan ke dalam mulut.

2. Kesulitan Berbahasa
Kesulitan berbahasa juga merupakan gejala umum, termasuk kesulitan menemukan kata yang tepat dan berbicara terbata-bata.

2. Kesulitan Berbahasa<br>Kesulitan berbahasa juga merupakan gejala umum, termasuk kesulitan menemukan kata yang tepat dan berbicara terbata-bata.
Dok. Istimewa

3. Masalah pada Sistem Gerak
Beberapa pasien mengalami masalah pada sistem gerak, termasuk koordinasi tubuh yang memburuk, kesulitan menelan, tremor, otot kaku, dan kejang.

Penyebab dan Faktor Risiko

Penyebab dan Faktor Risiko
Dok. Istimewa

Penyebab utama demensia frontotemporal tidak diketahui secara pasti, tetapi ada kaitan dengan penyusutan otak di bagian frontal dan temporal, serta penumpukan zat tertentu di otak. Faktor risiko utamanya adalah genetik, terutama jika ada riwayat keluarga dengan penyakit serupa.

Diagnosis dan Pengobatan

Diagnosis dan Pengobatan
Dok. Istimewa

Tidak ada tes spesifik untuk mendiagnosis demensia frontotemporal. Diagnosis didasarkan pada pengamatan gejala dan pemeriksaan yang membantu menyingkirkan kemungkinan penyebab lainnya.

Tes Kesehatan yang Dilakukan

Tes Kesehatan yang Dilakukan
Dok. Istimewa

Tes darah, pengamatan gejala tidur, pengujian neuropsikologis, dan pemindaian otak seperti MRI dan FDG-PET dapat membantu dalam proses diagnosis.

Pengobatan yang Dilakukan

Pengobatan yang Dilakukan
© 2023 merdeka.com

Hingga saat ini, tidak ada obat atau pengobatan khusus untuk menyembuhkan demensia frontotemporal. Pengobatan melibatkan manajemen gejala, seperti penggunaan antidepresan atau antipsikotik, terapi wicara, dan dukungan pengasuh.

Kehidupan dengan Demensia Frontotemporal

Kehidupan dengan Demensia Frontotemporal
© 2023 merdeka.com

Pasien membutuhkan bantuan dalam menjalani aktivitas harian. Olahraga rutin, konsumsi makanan sehat, dan menciptakan lingkungan rumah yang aman dan nyaman dapat meningkatkan kualitas hidup pasien.

Pencegahan

Pencegahan
© 2023 merdeka.com

Tidak ada tindakan pencegahan yang dapat menurunkan risiko demensia frontotemporal. Kaitannya dengan faktor genetik membuat sulit untuk mencegah penyakit ini.

Dok. Istimewa
© 2023 merdeka.com

Demensia frontotemporal adalah tantangan yang kompleks, memengaruhi kepribadian, perilaku, dan kemampuan berbahasa seseorang. Dalam kasus Bruce Willis, penyakit ini telah merubah kehidupannya secara drastis. 

Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan, pemahaman tentang gejala, faktor risiko, dan pendekatan pengelolaan dapat membantu pasien dan keluarganya dalam menghadapi perjalanan yang sulit ini. 

Meskipun tidak ada obat yang dapat menyembuhkan, pemahaman tentang gejala, faktor risiko, dan pendekatan pengelolaan dapat membantu pasien dan keluarganya dalam menghadapi perjalanan yang sulit ini.&nbsp;
© 2023 merdeka.com

Semoga artikel ini memberikan wawasan yang bermanfaat dan dukungan untuk mereka yang terkena dampak demensia frontotemporal.

Rekomendasi