Dewan Pakar BPIP: Pakta Pertahanan Makkah Cerminkan Kesadaran Baru Keamanan Regional

Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri menilai Pakta Pertahanan Makkah antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan sebagai indikasi kesadaran baru dalam keamanan kawasan Timur Tengah, mengurangi ketergantungan pada AS.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dewan Pakar BPIP: Pakta Pertahanan Makkah Cerminkan Kesadaran Baru Keamanan Regional
Pembubaran JI perlu diwaspadai dengan program deradikalisasi untuk 1.400 eks anggota, ancaman terorisme regional dari pengungsi Rohingya juga perlu diatasi melalui kerja sama Indonesia, India, dan Bangladesh. (Planet Merdeka)

Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, memberikan pandangannya terkait penandatanganan Pakta Pertahanan Makkah. Menurutnya, kesepakatan antara Turki, Arab Saudi, dan Pakistan ini merupakan bentuk kesadaran baru terhadap keamanan di kawasan Timur Tengah. Perjanjian tersebut ditandatangani pada 7 Agustus 2026 di Istana Al-Safa, Arab Saudi, oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, dan Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif.

Darmansjah Djumala menegaskan bahwa Pakta Pertahanan Makkah tidak seharusnya diartikan sebagai deklarasi perang terhadap Iran. Ia juga menyatakan bahwa pakta ini bukan pembentukan aliansi militer yang solid. Sebaliknya, hal ini menunjukkan munculnya kesadaran bahwa keamanan kawasan harus lebih banyak ditentukan oleh negara-negara di kawasan itu sendiri.

Lebih lanjut, perjanjian pertahanan bersama ini mengindikasikan adanya penurunan tingkat ketergantungan ketiga negara terhadap payung keamanan Amerika Serikat. Ini menandakan pergeseran arsitektur keamanan Timur Tengah. Fokusnya beralih dari ketergantungan pada AS menuju upaya untuk membangun kapasitas pertahanan regional secara mandiri.

Pakta Pertahanan Makkah dan Pergeseran Arsitektur Keamanan

Darmansjah Djumala menjelaskan bahwa Pakta Pertahanan Makkah merupakan cerminan dari pergeseran signifikan dalam arsitektur keamanan Timur Tengah. Ketergantungan pada kekuatan eksternal seperti Amerika Serikat mulai berkurang. Negara-negara di kawasan kini berupaya memperkuat kemampuan pertahanan mereka sendiri.

Perjanjian ini, yang melibatkan Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, menunjukkan keinginan kuat untuk lebih mandiri dalam menjaga stabilitas. Hal ini muncul dari kesadaran bahwa keamanan regional harus menjadi tanggung jawab bersama. Tujuannya adalah untuk mengurangi kerentanan terhadap ancaman eksternal yang terus berkembang.

Darmansjah menambahkan bahwa kesepakatan ini tidak serta-merta membentuk aliansi militer ofensif. Sebaliknya, ini lebih kepada upaya kolektif untuk membangun kapasitas pertahanan yang lebih kuat. Pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih stabil dan aman bagi semua pihak di kawasan.

Motivasi di Balik Pakta Pertahanan Makkah

Keputusan Arab Saudi untuk menandatangani Pakta Pertahanan Makkah didasari oleh pengalaman konflik beberapa tahun terakhir, termasuk konfrontasi antara AS dan Iran. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga mengenai pentingnya kemandirian pertahanan.

Sementara itu, Turki melihat perjanjian ini sebagai kesempatan untuk meningkatkan pengaruh regionalnya. Selain itu, Turki juga berupaya mendapatkan akses lebih besar ke pasar pertahanan. Ini memungkinkan Turki memainkan peran yang lebih signifikan dalam menentukan tatanan keamanan di Timur Tengah.

Untuk Pakistan, partisipasi dalam Pakta Pertahanan Makkah didorong oleh hubungan strategis yang erat dengan Arab Saudi. Kerjasama ini memperkuat ikatan bilateral kedua negara. Ini juga mendukung tujuan keamanan bersama di tengah dinamika geopolitik yang kompleks.

Pelajaran dari Konflik dan Kesenjangan Pertahanan

Kerja sama antara ketiga negara ini terwujud karena konflik AS dengan Iran yang masih berlangsung hingga kini. Konflik tersebut memberikan pelajaran penting bahwa superioritas militer AS tidak secara otomatis menghilangkan kerentanan. Ancaman terhadap keamanan ketiga negara tetap ada meskipun ada kehadiran militer AS.

Serangan Iran baru-baru ini juga dinilai telah menguras persediaan sistem pertahanan udara negara-negara Teluk. Kejadian ini secara jelas memperlihatkan adanya kesenjangan kemampuan pertahanan yang perlu segera diatasi. Pakta Pertahanan Makkah diharapkan dapat menjadi salah satu solusi untuk memperkuat pertahanan regional.

Darmansjah Djumala menyimpulkan bahwa pakta ini adalah langkah proaktif. Ini untuk menghadapi tantangan keamanan yang semakin kompleks di Timur Tengah. Tujuannya adalah membangun kapasitas pertahanan yang lebih tangguh dan mandiri di masa depan.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi