Anas Urbaningrum Singgung Gantung di Monas & Kezaliman Hukum: Bertaubatlah!

"Kemudian minta maaf pada yang menciptakan manusia. Menciptakan kita semua. Minta maaf kalau saya bergetar soal ini," katanya.

Rahmat Baihaqi
Oleh Rahmat Baihaqi - Reporter
Anas Urbaningrum Singgung Gantung di Monas & Kezaliman Hukum: Bertaubatlah!
Anas Urbaningrum Singgung Gantung di Monas & Kezaliman Hukum: Bertaubatlah! (Merdeka.com)

Hal itu ia sampaikan saat pidato politik di Monas.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Anas Urbaningrum menggelar pidato politik di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.

Ketua Umum Partai Kebangkitan Nusantara (PKN) Anas Urbaningrum menggelar pidato politik di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
Dok. Istimewa

Lokasi tersebut dipilih, lantaran sempat viral setelah ucapannya 'Gantung Anas di Monas jika terlibat sepeser pun korupsi Hambalang.'

Pidato politiknya itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-54. Anas berkali-kali menyinggung kezaliman hukum dalam isi pidato politiknya.

Pidato politiknya itu bertepatan dengan hari ulang tahunnya yang ke-54. Anas berkali-kali menyinggung kezaliman hukum dalam isi pidato politiknya.
Dok. Istimewa

Ia meminta 'orang' yang pernah berbuat zalim hukum segera bertaubat.

"Bagi yang pernah melakukan kedzaliman hukum bertaubatlah. Tidak perlu minta maaf kepada Anas, Itu bukan sesuatu bagi saya. Tetapi cara taubat baik jangan mengulangi lagi,"

"Bagi yang pernah melakukan kedzaliman hukum bertaubatlah. Tidak perlu minta maaf kepada Anas, Itu bukan sesuatu bagi saya. Tetapi cara taubat baik jangan mengulangi lagi,"
Dok. Istimewa

kata Anas dalam pidatonya di lapangan silang Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (15/7).

Namun, dia tidak memerlukan pihak yang pernah melakukan kezaliman untuk meminta maaf kepadanya.

Namun, dia tidak memerlukan pihak yang pernah melakukan kezaliman untuk meminta maaf kepadanya.
Dok. Istimewa

Dia hanya ingin yang bersangkutan tak mengulangi kembali perbuatannya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

"Kemudian minta maaf pada yang menciptakan manusia. Menciptakan kita semua. Minta maaf kalau saya bergetar soal ini," katanya.

Ia berharap kezaliman hukum hanya terjadi kepadanya. Bukan putra bangsa lainnya.

Ia berharap kezaliman hukum hanya terjadi kepadanya. Bukan putra bangsa lainnya.
Dok. Istimewa

"Jangan diulangi lagi boleh tejadi pada Anas tapi tidak boleh terjadi pada anak anak bangsa lain," katanya.

Dalam peristiwa hukum yang menimpanya, Anas meminta sejumlah pihak memetik hikmah.

Dalam peristiwa hukum yang menimpanya, Anas meminta sejumlah pihak memetik hikmah.
Dok. Istimewa

Bahwa, tidak lagi boleh terulang apapun jenis suku, ras dan agamanya.

Dok. Istimewa
Dok. Istimewa

"Tapi harus ada hikmah yang dipetik bangsa ini bahwa tidak boleh terjadi lagi pada anak bangsa Indonesia apapun agamanya, apapun suku, ras, partainya, warna kulitnya apapun orientasi politiknya," tuturnya.

Ia beranggapan bahwa semua orang tidak ada yang memiliki derajat yang lebih tinggi maupun lebih rendah di mata hukum.

Ia beranggapan bahwa semua orang tidak ada yang memiliki derajat yang lebih tinggi maupun lebih rendah di mata hukum.
Dok. Istimewa

Terlebih tidak ada yang dipandang istimewa.

Selanjutnya ia pun menyinggung soal Monas yang dinyatakannya sebagai lokasi gantung dirinya. Monumen yang pernah dibangun oleh Presiden pertama, Soekarno sebagai bentuk mengenang revolusi kemerdekaan. Dikatakannya tugu Monas dibangun untuk mengenang para pahlawan kenangan, ingatan, dan memori, termasuk harapan para pendahulunya. Lalu tersimpan juga nilai-nilai dasar reporodulsi yang menjadi nilai-nilai patriotisme, ia menyebut hal itu sebagai mahkotanya keadilan.

"Artinya adalah hukum yang tegak tetapi keadilan roboh maka sesungguhnya hukum itu roboh dengan sendirinya. Hukum yang ditegakkan tanpa mempertimbangkan azas keadilan bahkan melecehkan azas keadilan itu adalah hukum yang secara yuridis dan sosial sesat,"

"Artinya adalah hukum yang tegak tetapi keadilan roboh maka sesungguhnya hukum itu roboh dengan sendirinya. Hukum yang ditegakkan tanpa mempertimbangkan azas keadilan bahkan melecehkan azas keadilan itu adalah hukum yang secara yuridis dan sosial sesat,"
Dok. Istimewa

ujar dia.

"Maka mahkota Indonesia hari ini ke depan dan sampai kapanpun tidak boleh lepas dari nilai keadilan. Karena kalau mahkota Indonesia yang sedang kita bangun bersama dibangun oleh pemerintah, dibangun oleh seluruh potensi bangsa ini kemudian abai terhadap keadilan maka sesungguhnya kita tidak sedang membangun Indonesia,"

"Maka mahkota Indonesia hari ini ke depan dan sampai kapanpun tidak boleh lepas dari nilai keadilan. Karena kalau mahkota Indonesia yang sedang kita bangun bersama dibangun oleh pemerintah, dibangun oleh seluruh potensi bangsa ini kemudian abai terhadap k
Dok. Istimewa

katanya.

Ia bahkan sempat menyinggung pihak-pihak yang menjadikan hukum sebagai alat untuk menyingkirkan seseorang.

Apalagi di tahun yang memasuki kampanye politik 2024 yang menurut dia harus bertanding secara kesatria. "Jangan pakai tangan pihak lain. Itu pertandingan yang terbuka, kesatria, objektif, karena dalam pertandingan yang kesatria kalah menang itu soal lain," tuturnya.

Rekomendasi