Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menegaskan bahwa Ibu Kota Nusantara (IKN) bukan sekadar pemindahan pusat pemerintahan. IKN merupakan kesempatan emas untuk merancang ulang cara negara bekerja, bagaimana birokrasi mengambil keputusan, dan melayani masyarakat secara lebih efektif dan efisien.
Pernyataan ini disampaikan Rini saat menjadi pembicara dalam kuliah umum bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, pada Jumat (13/2). Beliau menekankan bahwa kualitas birokrasi di IKN akan menjadi cerminan peradaban baru Indonesia yang unggul.
Konsep IKN Cara Baru Bernegara ini sejalan dengan pesan Presiden Prabowo Subianto yang mengutip Thucydides, bahwa hanya bangsa dengan fondasi kuat yang mampu menentukan nasibnya sendiri. Birokrasi yang unggul adalah salah satu syarat utama untuk kelangsungan peradaban sebuah negara.
Advertisement
Advertisement
Rini Widyantini menjelaskan bahwa IKN bukan sekadar pemindahan fisik ibu kota, melainkan simbol dari cara baru negara bekerja. Ini adalah transformasi fundamental yang bertujuan membangun birokrasi yang tidak lagi bekerja secara terpisah, melainkan terintegrasi dan kolaboratif.
Visi ini menempatkan IKN sebagai wajah peradaban baru Indonesia, di mana birokrasi yang unggul menjadi pilar utama. Dalam konteks ini, IKN diharapkan mampu menciptakan ekosistem pemerintahan yang lebih lincah dan responsif terhadap tantangan global.
Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa integrasi kawasan dan layanan digital terpadu merupakan kunci efektivitas pemerintahan. Di IKN, kesempatan ini dimanfaatkan sejak awal sebagai desain dasar, bukan sekadar perbaikan di kemudian hari.
Advertisement
Pendekatan ini menjadi fondasi bagi terciptanya smart governance yang terintegrasi, kolaboratif, dan berorientasi pada hasil nyata bagi masyarakat.
Advertisement
Pembangunan IKN secara aktif mengusung konsep smart governance, yang berfokus pada penciptaan negara yang lebih lincah, terintegrasi, dan hadir bagi warganya. Konsep ini diwujudkan melalui implementasi layanan berbagi pakai, baik shared office maupun shared system.
Layanan berbagi pakai ini dirancang untuk mendorong efisiensi operasional, meningkatkan kolaborasi antarlembaga, dan mempercepat proses pengambilan keputusan. Dengan demikian, fasilitas pendukung dapat dikelola bersama, sistem digital terintegrasi, dan pola kerja bergerak menuju agile government.
Integrasi dan kolaborasi ini memungkinkan IKN untuk mengoptimalkan sumber daya dan memberikan pelayanan publik yang lebih baik. Hal ini juga sejalan dengan tuntutan era disrupsi yang membutuhkan kecepatan dan responsivitas.
Advertisement
IKN memiliki peluang unik untuk menerapkan prinsip-prinsip smart governance ini dari awal, menjadikannya model bagi pemerintahan modern di Indonesia.
Advertisement
Menteri Rini Widyantini menekankan bahwa IKN lahir di tengah era disrupsi yang didorong oleh digitalisasi dan percepatan kecerdasan buatan (AI). Oleh karena itu, pelayanan publik dituntut untuk semakin cepat, terintegrasi, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat.
Dengan kondisi ini, IKN tidak dapat dibangun dengan pola pikir birokrasi konvensional. ASN di IKN harus menjadi birokrasi digital-native pertama di Indonesia, yang adaptif dan siap memimpin perubahan.
Kualitas sumber daya manusia menjadi krusial. Kota yang cerdas hanya dapat dibangun oleh aparatur yang terus belajar dan berkembang. Oleh karena itu, penetapan standar kompetensi digital ASN IKN yang jelas dan terukur, disertai asesmen serta pemetaan terintegrasi dalam sistem nasional, sangatlah penting.
Advertisement
Ini adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa ASN IKN memiliki kapabilitas yang diperlukan untuk mewujudkan visi IKN sebagai Cara Baru Bernegara yang modern dan efisien.
Sumber: AntaraNews