Terobosan 100 Batalyon: IARMI Sebut Sektor Pertahanan Paling Menonjol Setahun Kepemimpinan Prabowo

Setahun kepemimpinan Prabowo, DPN IARMI menilai sektor pertahanan sebagai yang paling menonjol, dengan inovasi seperti pembentukan 100 Batalyon Teritorial Pembangunan. Bagaimana kebijakan Pertahanan Prabowo ini memperkuat negara dan pembangunan daerah?

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Terobosan 100 Batalyon: IARMI Sebut Sektor Pertahanan Paling Menonjol Setahun Kepemimpinan Prabowo
Car Free Day Jakarta pada 5 Oktober 2025 tetap berlangsung seperti biasa, meskipun bertepatan dengan perayaan HUT ke-80 TNI yang menampilkan 156 pesawat tempur. Penasaran bagaimana pengamanan dan atraksi udara akan berjalan bersamaan? (Merdeka.com)

Dewan Pengurus Nasional Ikatan Alumni Resimen Mahasiswa Indonesia (DPN IARMI) menyoroti sektor pertahanan sebagai salah satu bidang paling menonjol selama setahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Penilaian ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris Jenderal DPN IARMI, Muhammad Arwani Deni, dalam keterangan resminya di Jakarta. Ia menekankan bahwa arah kebijakan pertahanan nasional kini jauh lebih terarah dan modern.

Menurut Muhammad Arwani Deni, kebijakan pertahanan di era Prabowo tidak hanya fokus pada pembaruan alat utama sistem senjata (alutsista), tetapi juga membangun sistem pertahanan yang menyeluruh. Hal ini mencakup aspek semangat sistem pertahanan dan keamanan rakyat semesta (Sishankamrata). Pendekatan ini berhasil menciptakan postur pertahanan yang kuat secara militer sekaligus menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama di tengah masyarakat.

Stabilitas politik dan ekonomi nasional yang relatif terjaga selama setahun pemerintahan Prabowo juga tidak terlepas dari peran pertahanan negara yang solid. Sinergi antara TNI, Polri, dan intelijen dinilai berhasil menciptakan situasi yang kondusif. Kondisi ini memungkinkan pembangunan nasional berjalan aman dan produktif, memberikan jaminan bagi aktivitas masyarakat.

Arah Kebijakan Pertahanan Nasional yang Terarah

Muhammad Arwani Deni dari DPN IARMI mengapresiasi kebijakan pertahanan nasional yang dinilai semakin terarah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto. Ia menyebutkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada modernisasi alutsista, tetapi juga pada pembangunan sistem pertahanan yang komprehensif. Kebijakan ini secara signifikan menyentuh aspek semangat Sishankamrata, yang melibatkan seluruh elemen bangsa dalam menjaga kedaulatan negara.

Pembangunan postur pertahanan yang kuat tidak hanya dilihat dari sisi militer, tetapi juga dari kemampuan menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama di masyarakat. Ini menunjukkan bahwa kebijakan Pertahanan Prabowo berupaya menciptakan pertahanan yang inklusif. Langkah ini bertujuan agar setiap warga negara merasa memiliki peran dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negara.

Salah satu terobosan penting yang diapresiasi adalah pembentukan Dewan Pertahanan Nasional (DPN). Kehadiran DPN ini menjadi simbol keseriusan Presiden Prabowo dalam membangun arsitektur pertahanan nasional yang terencana dan terpadu. DPN diharapkan dapat menata kebijakan pertahanan secara lintas lembaga, memastikan koordinasi yang efektif antar instansi terkait.

Sinergi dan Stabilitas Nasional

Sektor pertahanan yang solid di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto turut berkontribusi pada terjaganya stabilitas politik dan ekonomi nasional. Muhammad Arwani Deni menyoroti sinergi yang kuat antara TNI, Polri, dan intelijen. Kolaborasi ini berhasil menciptakan situasi yang kondusif, memungkinkan pembangunan nasional berjalan dengan aman dan produktif.

Menurut Arwani Deni, "Pertahanan yang tangguh jadi jaminan bagi stabilitas politik dan ekonomi. Ketika unsur keamanan bersinergi dengan baik, rakyat bisa beraktivitas dengan tenang dan pembangunan terus bergerak." Pernyataan ini menegaskan pentingnya peran pertahanan dalam mendukung kemajuan bangsa secara keseluruhan.

Meskipun demikian, DPN IARMI berharap pelibatan unsur masyarakat sipil dalam Dewan Pertahanan Nasional dapat diperkuat di masa depan. Keterlibatan elemen sipil ini penting agar konsep pertahanan semesta benar-benar inklusif dan berakar dari rakyat. Hal ini akan memastikan kebijakan pertahanan tidak eksklusif militeristik, melainkan merepresentasikan kekuatan sosial dan kultural bangsa.

Inovasi Pertahanan untuk Pembangunan Daerah

Dalam konteks pembangunan nasional, DPN IARMI menilai langkah pemerintah membentuk 100 Batalyon Teritorial Pembangunan dan 20 Brigade Infanteri Teritorial Pembangunan sebagai inovasi besar. Inovasi ini secara efektif menghubungkan fungsi pertahanan dengan agenda pembangunan daerah. Langkah ini menunjukkan pendekatan baru dalam mengintegrasikan pertahanan dengan kesejahteraan masyarakat.

Muhammad Arwani Deni menyatakan, "Ini langkah luar biasa karena prajurit kini tidak hanya menjaga wilayah, tapi juga terlibat langsung mendukung pembangunan di daerah perbatasan, wilayah tertinggal, dan pulau-pulau terluar." Pernyataan ini menyoroti dampak langsung peran bidang pertahanan bagi rakyat, terutama di wilayah-wilayah yang membutuhkan perhatian khusus.

Melalui program ini, prajurit tidak hanya berfungsi sebagai penjaga kedaulatan, tetapi juga sebagai agen pembangunan. Keterlibatan mereka dalam pembangunan daerah diharapkan dapat mempercepat pemerataan pembangunan. Ini juga akan memperkuat ikatan antara militer dan masyarakat sipil, sesuai dengan semangat Sishankamrata.

Modernisasi Alutsista dan Kemandirian Industri

Langkah modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista) dan penguatan industri pertahanan nasional juga diapresiasi sebagai strategi yang tepat. Strategi ini dilakukan melalui kerja sama teknologi luar negeri, yang bertujuan memperkuat kemandirian bangsa di bidang pertahanan. Kebijakan Pertahanan Prabowo ini berorientasi jangka panjang untuk kedaulatan teknologi.

Kemandirian industri pertahanan dalam negeri dianggap sebagai kunci utama. Transfer teknologi yang diupayakan pemerintah merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan pertahanan Indonesia. Ini akan mengurangi ketergantungan pada negara lain dan meningkatkan kemampuan produksi dalam negeri.

Penguatan industri pertahanan nasional ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas alutsista. Lebih dari itu, langkah ini juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sektor strategis. Dengan demikian, investasi di bidang ini memiliki manfaat ganda bagi negara.

Adaptasi Terhadap Tantangan Zaman dan Peran Masyarakat

Selain penguatan alutsista, perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan prajurit dan penguatan sistem pertahanan siber menunjukkan adaptasi kebijakan pertahanan terhadap tantangan zaman. Kebijakan Pertahanan Prabowo mengakui bahwa ancaman modern tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga digital. Oleh karena itu, perlindungan data dan kemandirian teknologi menjadi sangat krusial.

Muhammad Arwani Deni menegaskan, "Pertahanan hari ini tidak cukup dengan kekuatan senjata. Harus ada perlindungan data, kemandirian teknologi, dan kesadaran bela negara di semua lapisan masyarakat." Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya pendekatan multi-dimensi dalam pertahanan nasional, yang mencakup aspek teknologi dan kesadaran kolektif.

Sebagai bagian dari komponen pertahanan bangsa, DPN IARMI menegaskan kesiapannya bersinergi dengan Kementerian Pertahanan. Mereka siap memperkuat pendidikan bela negara dan karakter kebangsaan di kalangan generasi muda. "Kami siap jadi mitra strategis pemerintah dalam memperkuat Sishankamrata, agar Indonesia semakin kuat, mandiri dan disegani di dunia," tutup Arwani Deni.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi