Gerindra menepis tuduhan bahwa partainya lebih dekat dengan Islam garis keras. Ini dibuktikan dengan makin intensifnya komunikasi dengan para ulama dan kiai-kiai Nahdlatul Ulama (NU) menjelang Pemilu 2019.
"Tudingan-tudingan bahwa Gerindra lebih dekat dengan Islam garis keras dengan sendirinya tertepis," tegas Sekretaris DPD Partai Gerindra Jawa Timur, Anwar Sadad, Kamis (19/7).
Politikus yang juga anggota DPRD Jawa Timur ini menjelaskan, saat ini, Partai Gerindra baik di daerah maupun pusat memang terlihat rajin menyambangi pondok pesantren dan kiai-kiai NU.
Di Jawa Timur, misalnya, dalam dua hari, yaitu 6-7 Juli lalu, Anwar Sadad dan ketuanya, Soepriyatno diketahui melakukan safari politik ke pesantren-pesantren. Mulai dari Sidogiri di Pasuruan, Bumi Shalawat di Sidoarjo, hingga Ploso dan Lirboyo di Kediri.
Sementara di pusat, Senin (16/7) malam lalu, Ketum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto juga diketahui silaturahim menemui Ketum PBNU, KH Said Aqil Siroj.
"Pak Prabowo ingin menyampaikan satu pesan, satu sinyal, kepada masyarakat soal tuduhan itu (dekat dengan Islam garis keras) karena bagi Gerindra, Pak Prabowo, memang tak ada masalah komunikasi dengan kiai-kiai NU," tegas Sadad.
Hanya saja, Sadad yang masih keluarga Ponpes Sidogiri itu menduga, ada agenda tersendiri yang ingin mencoba mengaitkan antara Gerindra atau Prabowo dengan Islam kanan. "Tapi itu kan dengan sendirinya tertepis," tandasnya lagi.