Jenazah sopir logistik bernama Aris Sanda (41) tiba di Terminal Kargo Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Jumat (18/9). Jenazah Aris Sandi disambut isak tangis keluarga yang sudah menunggu. Korban ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Jalur Trans Wamena-Nduga, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Keluarga Aris Sanda, Somba Tonapa, mengatakan jenazah Aris Sandi diterbangkan dari Jayapura menuju ke Makassar menggunakan Lion Air JT-797. Peti jenazah tiba di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin pada pukul 14.00 Wita.
"Dua jam baru tiba di bandara, peti jenazah langsung dibawa ke luar ke terminal kargo. Setelah ini jenazah kita bawa pulang ke kampung halaman," ujarnya kepada wartawan.
Usai peti jenazah diserahterimakan, selanjutnya keluarga menggelar ibadat singkat. Somba mengaku jenazah akan terlebih dahulu disemayamkan di Lembang Tampang Buwonga, Kecamatan Bangkelekila, Kabupaten Toraja Utara.
"Untuk jadwal pemakaman belum ada. Tunggu kesepakatan keluarga," tuturnya.
Somba menceritakan sosok Aris Sanda yang sudah merantau selama 13 tahun ke Papua. Aris Sanda bekerja sebagai sopir yang mengantarkan logistik ke pedalaman dan pegunungan Papua.
"Dia mengabdi di Tanah Papua sana, untuk membawa logistik ke pendalaman, khususnya di Nuha, untuk kebutuhan masyarakat setempat," tuturnya.
Somba mengenal sosok Aris Sanda sebagai sosok yang baik. Apalagi, Aris merupakan tulang punggung bagi keluarganya yang ada di Toraja Utara.
"Sangat baik dan sangat mengabdi. Memang tulang punggung dalam keluarganya," ujarnya.
Somba juga menyinggung soal video sebelum Aris Sanda ditembak KKB. Somba menyebut Aris Sanda dipaksa membacakan pernyataan agar bisa selamat.
"Dia itu menyelamatkan diri, sehingga apa pun dia bisa katakan kepada orang-orang penduduk di sana," katanya.
Somba juga mengatakan Aris selama berada di Papua memiliki hubungan baik dengan masyarakat setempat, termasuk seorang bapak angkat yang merupakan warga asli Papua. Somba berharap keamanan di Papua dapat terus ditingkatkan agar masyarakat yang bekerja maupun mengantarkan kebutuhan logistik ke wilayah pedalaman dapat menjalankan aktivitas dengan aman.
"Semoga saudara-saudara kita di Papua itu sadar bahwa jangan lagi terjadi kejadian seperti begini. Karena kita adalah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia," kata Somba.
Dia juga berharap pelaku menyadari dampak dari aksi tersebut dan masyarakat setempat ikut menjaga keamanan.
"Semoga yang pelaku sendiri sadar. Masyarakat di sana juga memberikan arahan supaya di Papua itu aman," pungkasnya.