Ramai Antrean Biosolar di Lampung, Ini Fokus Penelusuran Polda

Polda Lampung menyebut stok Biosolar tersedia namun antrean tetap panjang. Faktor harga dan pola konsumsi disorot. Ini langkah yang disiapkan.

Ardi Munthe
Oleh Ardi Munthe - Reporter
Ramai Antrean Biosolar di Lampung, Ini Fokus Penelusuran Polda
Antrean panjang kendaraan untuk mendapatkan Biosolar bersubsidi di sejumlah SPBU di Lampung. (Liputan6.com/Istimewa).

Antrean kendaraan untuk mendapatkan BBM bersubsidi jenis Biosolar masih terlihat di sejumlah SPBU di Lampung. Padahal, pengecekan bersama kepolisian dengan pemerintah daerah, Pertamina, dan pemangku kepentingan lain menyebut stok tersedia.

Pertamina Patra Niaga menyatakan telah meningkatkan penyaluran Biosolar untuk merespons lonjakan konsumsi. Di sisi lain, Polda Lampung menelusuri penyebab antrean tetap mengular meski pasokan disebut mencukupi.

Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Lampung Kombes Pol Heri Rusyaman menjelaskan pengecekan lapangan sudah dilakukan bersama pihak terkait. "Hasil kita turun ke lapangan, stok itu sebenarnya ada, lengkap, cukup," kata Heri, Jumat (18/9/2026).

Ia menilai tingginya permintaan menjadi salah satu pemicu antrean, selain disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi yang cukup lebar. "Karena selisihnya jauh sekali, akhirnya banyak yang beralih ke subsidi," ujarnya.

Menurut Heri, tim kini mendata pola konsumsi di setiap SPBU, mulai dari kuota yang diterima, jumlah konsumen, waktu pasokan datang, hingga kapan stok habis. Data ini akan dicocokkan dengan Pertamina serta BPH Migas. "Kalau kuotanya lengkap sampai ke daerah, ternyata masih terjadi antrean, ini yang harus kita cari tahu," ungkapnya.

Evaluasi juga dilakukan untuk menilai kecukupan kuota terhadap kebutuhan di masing-masing SPBU. SPBU dengan jumlah konsumen tinggi berpeluang mendapatkan alokasi lebih besar, sementara SPBU dengan konsumen lebih sedikit akan dikaji ulang jika memiliki kuota relatif tinggi. Perhatian turut diarahkan ke SPBU di Mesuji dan Tulang Bawang, termasuk lokasi di luar pusat kota.

Selain distribusi, polisi mencermati kendaraan dari luar Lampung yang mengisi BBM subsidi mengingat provinsi ini menjadi jalur lintasan antardaerah. Mekanisme pembelian berbasis barcode juga diperiksa guna mengidentifikasi potensi pengisian berulang dalam waktu yang tidak semestinya. "Kita akan cross-check. Apakah kendaraan hari ini sudah dapat 100 liter, besok bisa dapat lagi atau tidak. Itu yang kita lihat," ujar Heri.

Polisi menerima informasi lapangan mengenai kendaraan yang diduga mengambil kembali BBM setelah melakukan pengisian. Informasi tersebut masih didalami dan belum dapat disimpulkan sebagai pelanggaran.

Polisi Hitung Potensi Keuntungan Jual Kembali Biosolar

Disparitas harga antara BBM subsidi dan nonsubsidi menjadi perhatian penyidik. Heri memaparkan simulasi potensi keuntungan apabila Biosolar subsidi disalahgunakan dan dijual kembali dengan harga lebih tinggi.

Pada simulasi itu, satu kendaraan yang mendapat 100 liter Biosolar subsidi dengan harga sekitar Rp 6.700 per liter membutuhkan modal Rp 670.000. "Apabila BBM tersebut dijual kembali dengan harga Rp15.000 hingga Rp 18.000 per liter, terdapat potensi selisih keuntungan sekitar Rp 830.000 hingga Rp 1,13 juta," bebernya.

Heri menegaskan perhitungan tersebut hanya simulasi celah keuntungan, bukan bukti bahwa seluruh kendaraan yang mengantre melakukan penjualan kembali BBM subsidi. Untuk pencegahan sekaligus mengurai antrean, Polda Lampung bersama pihak terkait mempertimbangkan pengaturan frekuensi pengisian berbasis barcode kendaraan, termasuk opsi penerapan ganjil-genap.

Pertamina Patra Niaga memastikan tidak ada pengurangan penyaluran Biosolar di Lampung. Volume distribusi disebut ditingkatkan bertahap. Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Rusminto Wahyudi menyampaikan rata-rata penyaluran Biosolar di Lampung pada Januari–April 2026 sekitar 2.178 kiloliter (KL) per hari, naik menjadi sekitar 2.503 KL per hari pada Mei–Agustus 2026.

Memasuki September 2026, Pertamina kembali menambah sekitar 265 KL per hari atau 10,6 persen dari rata-rata Mei–Agustus, sehingga rata-rata penyaluran menjadi sekitar 2.768 KL per hari. "Untuk merespons peningkatan konsumsi tersebut, rata-rata penyaluran harian Biosolar di Lampung telah ditingkatkan secara bertahap," kata Rusminto.

Pertamina juga menambah pasokan ke SPBU dengan konsumsi tinggi, memperpanjang jam operasional SPBU yang padat, serta menambah jumlah operator untuk mempercepat layanan.

Sales Branch Manager Pertamina Patra Niaga Lampung 3 Fuel Muhammad Alwan Azhari menyebut penyaluran yang sebelumnya rata-rata sekitar 2.500 KL per hari pada Mei–Agustus kini ditingkatkan menjadi sekitar 2.700 hingga 2.800 KL per hari. Ia menegaskan stok di depot tersedia, distribusi dijaga, dan pengiriman melalui kapal pengangkut tetap berjalan.

Alwan menambahkan pengawasan diperkuat di lapangan. "Pengawasan terus diperkuat melalui verifikasi QR Code, inspeksi bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum, serta pemeriksaan transaksi melalui rekaman CCTV SPBU. Langkah ini dilakukan untuk memastikan penyaluran Biosolar tepat sasaran dan membantu mengurai antrean kendaraan yang masih terjadi di sejumlah wilayah Lampung," tandasnya.

Rekomendasi