Demokrat: Megawati tak mau ada dua matahari di koalisi Jokowi

Kamis, 26 Juli 2018 17:21 Reporter : Muhammad Genantan Saputra
Demokrat: Megawati tak mau ada dua matahari di koalisi Jokowi Pertemuan SBY dan Prabowo. ©2018 Merdeka.com/Iqbal S. Nugroho

Merdeka.com - Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum partai Demokrat Ferdinand Hutahaean membantah Ketum Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 'baper' dengan hubungannya yang tidak harmonis dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Menurutnya, jika SBY berada di koalisi Jokowi, Megawati yang akan khawatir ada terbagi menjadi dua kubu.

"Bukan baper, justru pak SBY tidak mau menganggu kenyamanan bu Megawati dan pak Jokowi. Bayangkan di situ, bu Mega itu tidak mau ada dua matahari di sana. Kalau ada SBY di sana, nanti lama kelamaan koalisi malah pindah ke SBY dan justru Mega yang baper," katanya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan, Kamis (26/7).

"Justru pak SBY nya yang sangat bijaksana, tidak mau menganggu hubungan baik bu Mega dengan pak Jokowi, maka beliau mengurungkan dirinya di sana. Jadi bukan baper, kalau disebut SBY baper ya itu salah," sambungnya.

Ferdinand juga membantah bila SBY hanya memikirkan putra pertamanya Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) untuk jadi cawapres Jokowi. Justru dia mempertanyakan apakah Demokrat dihalangi karena hubungan SBY dan Megawati masih panas.

"Pak SBY ketemu pak Jokowi itu tidak pernah membicarakan capres cawapres. Saya selalu disampaikan hasil pertemuan dengan pak SBY dengan pak Jokowi. Yang selalu dipertanyakan adalah hubungan beliau dengan bu Mega ya. Ini yang tidak terjawab," ucapnya.

Kemudian, dari beberapa pertemuan SBY dengan Jokowi tak kunjung mencapai modal kesepakatan dan modal awal untuk berbicara lebih lanjut bersama koalisi Jokowi. Baginya, Demokrat hanya ingin setara dengan parpol koalisi dan saling terbuka.

"Tidak pernah ada di sana pak SBY menawarkan AHY, tidak pernah juga pak Jokowi untuk menyatakan AHY, itu tidak sama sekali. Jadi ini masih sebatas bagaimana koalisi ini bisa setara sederajat. Tapi itu tidak kunjung bisa. Pak SBY kan presiden 10 tahun, tentu tidak akan mau lah menganggu apa yang sudah ada di dalam sana. Beliau cukup bijaksana jadi bukan baper," ujarnya.

Sikap SBY ini bukan juga sebagai keluhan musiman karena jelang Pemilu dan Pilpres 2019. Justru, kata Ferdinand, komunikasi antara Jokowi dan SBY yang terjalin baik dianggap tidak harmonis karena Megawati.

"Setahun lebih, lima kali pertemuan (SBY dengan Jokowi), jadi kalau Ngabalin juga ngomong (SBY) tidak pamit salah juga, karena SBY tidak perlu pamit dari sana. Jadi ini kalau PDIP menuduh seperti itu ya kita sayangkan PDIP-nya ya. Jadi kita anggap justru PDIP itu tidak memahami hubungan pak Jokowi dan SBY," paparnya.

"Seperti yang dikatakan mas Hasto (Sekjen PDIP) barrier ada di Jokowi, justru yang tidak pernah ingin bertemu dan berbaikan dengan pak SBY itu bu Mega. Bahkan almarhum Taufiq Kiemas (suami Megawati) berulang kali mencoba mencairkan hubungan pak sby dengan bu Mega tidak kunjung bisa," tambahnya.

Untuk itu, Ferdinand meminta para pihak tak menyebut jika SBY yang 'baper', apalagi bila SBY banyak permintaan. Demokrat juga tidak pernah menuntut banyak kepada Ketum Gerindra Prabowo Subianto saat melakukan penjajakan koalisi.

"Itu fakta. Jadi jangan dibangun narasi-narasi seolah olah pak SBY terlalu banyak maunya dan itu tidak baik di dalam kancah politik kita nanti karena akan menjadi pemicu-pemicu pertentangan narasi di tengah publik. Kasihan masyarakat kita menonton elit kita ribut terus," imbuhnya.

Baca juga:
Jokowi
Jokowi
PDIP minta SBY bersaksi atas tragedi Kudatuli daripada sibuk bicara koalisi
SBY
SBY

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini