Presiden Prabowo Subianto menyinggung isu fitnah dan mengutip surah Al-Baqarah ayat 191 saat menghadiri puncak HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Jumat (18/9/2026).
Di awal sambutan, ia menyebut latar belakang PAN yang memiliki basis agamis, lalu menanyakan kepada hadirin soal rujukan kalimat yang menyebut fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.
Ia berkata, "PAN kan juga ada basis agamis, ya? Kalau tidak salah, apakah ada hadis, ya, yang bunyinya apa, 'Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan'? Ada, ya?" kata Prabowo.
Setelahnya, ia menyampaikan bahwa rujukan yang dimaksud berada dalam Alquran, tepatnya surah Al-Baqarah ayat 191.
"Surat Al-Baqarah ayat 191. 'Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan'," ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Prabowo juga menyinggung sejumlah pakar yang menurutnya kerap menyampaikan fitnah kepada pemerintah.
"Ada beberapa pakar, saking pakarnya, dia melontarkan fitnah," kata Prabowo.
Ia menyebut tidak ingin memperpanjang persoalan tersebut. Prabowo menyatakan akan mencatatnya dan bersedia memaafkan apabila pihak yang dimaksud menyadari perbuatannya.
"Tapi sudahlah, kita bangsa yang besar, bangsa yang kuat. Saya pun mencatat saja. Kalau dia sadar, saya maafkan," ujar Prabowo.
Prabowo juga mengingatkan para cendekiawan untuk menjunjung tinggi kejujuran dalam menggunakan ilmu dan kepakarannya.
"Tapi saya ingatkan, kalau Anda punya kepintaran, kalau Anda punya kepakaran, jangan lupa seorang cendekiawan itu harus jujur! Itu namanya kejujuran intelektual, intellectual honesty," kata dia.
Advertisement
Prabowo Subianto Ingin Indonesia Makmur
Masih dalam pidato yang sama, Prabowo menyampaikan nilai dan visi perjuangan yang menurutnya sejalan dengan tujuan pemerintah, yakni menyejahterakan rakyat.
"Saya pun ingin melihat suatu saat Indonesia terhormat, rakyatnya sejahtera, tidak ada kelaparan, tidak ada bapak dan ibu yang bingung kalau anaknya sakit, stunting, tidak dapat gizi, tulang lemah, otot lemah, sel otak lemah, atau tidak bisa bersaing dengan anak-anak bangsa lain," ungkap Prabowo.
Ia menuturkan pengalaman dan penderitaan yang dialami rakyat membuatnya merasa perlu menjaga nama baik bangsa. Prabowo menyatakan komitmennya telah tertanam sejak muda.
"Saya dari kecil saya disumpah. Saya siap, waktu itu 18 tahun, saya siap mati untuk negara ini," kata Prabowo.
Menurutnya, masih banyak tantangan untuk mencapai tujuan tersebut yang memerlukan keberanian dan keteguhan sikap.
"Nilai perjuangan itu sulit, memerlukan suatu keberanian yang perlu kita perjuangkan. Dari sinilah nilai perjuangan itu dibutuhkan, yakni dengan adanya ketabahan, ketegaran, dan kesetiaan," tandas Presiden dalam sambutannya.