Dari #ResetIndonesia hingga #BravePinkHeroGreen, Ini Fakta Unik Masyarakat Bangun Resistansi Digital Lewat Algoritma Media Sosial

Masyarakat Indonesia menunjukkan kekuatan dalam membangun resistansi digital melalui pemanfaatan algoritma media sosial. Simak bagaimana tagar-tagar populer menjadi alat perlawanan efektif.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dari #ResetIndonesia hingga #BravePinkHeroGreen, Ini Fakta Unik Masyarakat Bangun Resistansi Digital Lewat Algoritma Media Sosial
Ratusan mahasiswa BEM Unpad gelar aksi di DPR RI, serukan pemenuhan Tuntutan 17+8 Mahasiswa. Ada batas waktu hingga 2025, dan warna unik jadi sorotan. Apa saja isinya? (Merdeka.com)

Fenomena tagar #ResetIndonesia baru-baru ini menjadi sorotan utama di berbagai platform media sosial. Gerakan ini muncul sebagai akumulasi keresahan masyarakat yang menuntut perubahan tata kelola negara secara sistemik dan menyeluruh. Ini menunjukkan bagaimana warga aktif menyuarakan aspirasi mereka.

Sebelum #ResetIndonesia, berbagai tagar lain seperti #BubarkanDPR dan #PolisiPembunuh juga telah dimobilisasi. Tagar-tagar ini merupakan respons terhadap insiden dan kebijakan yang dinilai tidak empati atau merugikan masyarakat. Keresahan publik ini memicu gelombang protes digital.

Respons aparat yang tegas dan suara pejabat yang belum memenuhi tuntutan masyarakat semakin memperkuat gerakan ini. Masyarakat Indonesia secara sadar memanfaatkan algoritma media sosial untuk membangun resistansi digital. Ini menjadi bukti partisipasi aktif warga dalam dinamika politik.

Algoritma media sosial memiliki dua sisi yang tak terpisahkan dalam mobilisasi politik. Satu sisi dimanfaatkan oleh pihak berkuasa untuk kepentingan mereka. Mereka menggunakan kampanye disinformasi dan polarisasi.

Akademisi Australia National University, Ross Tapsell, menyoroti bagaimana elite menguasai platform digital. Ini dilakukan dengan mengorganisir kelimpahan informasi melalui pendengung (buzzer) dan pemengaruh (influencer). Pola ini telah terlihat di Indonesia sejak tahun 2014.

Senada, akademisi Indonesia di Carleton University, Kanada, Merlyna Lim, menyatakan bahwa pertumbuhan populasi daring dibarengi peningkatan kemampuan pemerintah mengendalikan teknologi. Namun, kelompok penguasa bukan satu-satunya pemain. Kelompok yang menantang status quo juga aktif.

Masyarakat sipil menjadi aktor dominan dalam jejaring mobilisasi digital kali ini. Analisis Drone Emprit menunjukkan sentimen negatif yang sangat tinggi pada insiden Brimob melindas ojol. Ini menandakan narasi tandingan tidak berhasil mengambil porsi dalam gerakan digital ini.

Namun, tren berbeda terlihat pada gerakan #BravePinkHeroGreen, di mana sebaran sentimen mulai terdistribusi. Munculnya narasi tandingan, termasuk manipulasi konten seperti deepfake, menjadi tantangan baru. Ini menunjukkan kompleksitas perang narasi digital.

Dominasi masyarakat sipil tidak hanya berhenti pada penyampaian tuntutan. Mereka juga aktif membangun resistansi digital. Kekhawatiran akan terulangnya tragedi tahun 1998 memicu aksi solidaritas horizontal.

Pengguna media sosial memproduksi konten #WargaJagaWarga dan #SipilJagaSipil secara masif. Konten ini beragam, dari informasi perlindungan hukum hingga kesehatan fisik dan mental. Pesan disebarkan luas melalui berbagai platform.

Efektivitas interaksi konten juga terlihat pada dukungan ketahanan ojol di tengah gelombang demonstrasi. Cuitan panduan membeli makanan untuk ojol mendapat interaksi sangat tinggi. Ini memicu solidaritas kuat lintas geografis.

Inaya Rakhmani dkk menemukan bahwa teknologi digital memperluas partisipasi ekonomi-politik warga biasa. Ini memberikan ruang bagi praktik alternatif redistribusi kekuasaan dan kesejahteraan. Resistansi juga berupa sanggahan disinformasi.

Gerakan menyebarkan sanggahan disinformasi adalah bentuk resistansi masyarakat yang progresif. Masyarakat membanjiri informasi melalui produksi dan reproduksi konten. Ini adalah strategi yang efektif untuk menghambat penyebaran disinformasi.

Lim mencatat bahwa perlawanan terhadap ancaman hegemoni bisa dilakukan oleh mereka yang terampil memanfaatkan alat digital. Ruang digital tidak bisa menjadi perangkat tunggal reformasi, tetapi sangat penting. Kekuatan tandingan akar rumput sangat krusial dalam dinamika ini.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi