Viral Bantuan Relawan Malang untuk Aceh Tertahan di Medan, Sempat Diminta Uang Pengiriman
Bantuan kemanusiaan dari relawan Malang untuk korban bencana di Aceh sempat tertahan di gudang BPBD Sumatra Utara.
Bantuan kemanusiaan yang dihimpun relawan Malang Bersatu untuk korban bencana di Aceh sempat tertahan di gudang Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut akibat persoalan administrasi dan biaya pengiriman.
Perwakilan Relawan Malang Bersatu, Mahardika Brilliandi, mengatakan bantuan tersebut dikirim melalui jalur laut menggunakan kapal kontainer dari Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya. Namun, saat relawan melakukan pengecekan di Pelabuhan Belawan, Medan, kontainer bantuan tidak ditemukan.
“Berdasarkan data yang kami terima, kontainer tersebut tidak ada di Pelabuhan Belawan. Setelah kami telusuri, ternyata barang-barang bantuan itu dibawa ke gudang BPBD Sumut,” kata Dika, Senin (29/12).
Biaya Administrasi
Dika menjelaskan, setelah dilakukan pengecekan, barang-barang yang berada di gudang BPBD Sumut tersebut dipastikan merupakan bantuan masyarakat Jawa Timur yang dikumpulkan relawan Malang Bersatu untuk disalurkan ke Aceh.
Namun, upaya melanjutkan pengiriman bantuan ke Aceh terkendala biaya administrasi pengiriman dari Pelabuhan Belawan ke gudang BPBD Sumut. Relawan keberatan menanggung biaya tersebut karena menilai kesalahan bukan berasal dari pihak mereka.
“Kami seharusnya mengambil bantuan ini di Pelabuhan Belawan. Tetapi pihak BPBD Sumut bersikukuh bahwa tanggung jawab ada di kami sebagai relawan dari Jawa Timur,” ujar Dika.
BPBD Bersedia Menanggung Biaya Pengiriman
Setelah dilakukan mediasi, pemerintah setempat melalui BPBD Sumut akhirnya bersedia menanggung biaya operasional pengiriman tersebut. Biaya pengiriman dari Pelabuhan Belawan ke gudang BPBD Sumut mencapai Rp1,2 juta per kontainer. Total biaya untuk dua kontainer sebesar Rp2,4 juta. Bantuan logistik tersebut telah tertahan sejak 21 Desember.
"Kami keberatan karena seharusnya itu bisa diatasi dari segi pemerintah karena sebagai percepatan penanganan bencana alam," ucap Dika.
Sementara itu, Kepala BPBD Sumut, Tuahta Saragih, mengatakan persoalan itu terjadi akibat ketidaksesuaian data jumlah kontainer bantuan yang dikirim dari Surabaya.
“Dari Surabaya berangkat 10 kontainer. BPBD Jawa Timur mengonfirmasi kepada kami hanya 10 kontainer. Kami tidak mengetahui ternyata ada 12 kontainer, dua di antaranya merupakan bantuan relawan,” kata Tuahta.
Demi Kemanusiaan
Tuahata menjelaskan, saat kapal tiba di Pelabuhan Belawan, hanya 11 kontainer yang sampai karena satu kontainer milik BPBD Jawa Timur tertinggal di Jakarta. Dari 10 kontainer yang tiba di Medan, sembilan merupakan milik BPBD Jawa Timur dan dua kontainer merupakan bantuan relawan Malang.
Menurut BPBD Sumut, dua kontainer milik relawan seharusnya tidak dikirim ke gudang BPBD Sumut oleh PT Pelayaran Nasional Indonesia (Pelni).
“Seharusnya yang dikirim ke gudang kami hanya sembilan kontainer. Dua kontainer milik relawan tidak kami minta untuk dikirim ke gudang BPBD Sumut. PT Pelni seharusnya membiarkan kontainer tersebut tetap berada di Pelabuhan Belawan hingga diambil relawan,” ujar Tuahta.
Ia menambahkan, pihak yang menyampaikan kewajiban pembayaran biaya pengiriman adalah PT Pelni, bukan BPBD Sumut. Kendati demikian, BPBD Sumut akhirnya menanggung biaya operasional tersebut demi kelancaran penyaluran bantuan.
“Kami yang membayar karena ini demi kemanusiaan. Sekarang persoalan sudah clear,” pungkas Tuahta.
Saat ini, bantuan logistik tersebut telah siap dikirim dan dijadwalkan disalurkan ke wilayah Aceh Tamiang sebagai bagian dari upaya percepatan penanganan bencana.