Yogyakarta, sebuah kabar membanggakan datang dari institusi kesehatan nasional. BPJS Kesehatan secara resmi masuk dalam nominasi penerima Nobel Perdamaian untuk tahun 2025.
Pengumuman bersejarah ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prof. Ali Ghufron Mukti, pada Sabtu (18/10). Beliau mengungkapkan bahwa ini adalah kali pertama institusi dari Indonesia dinominasikan sejak kemerdekaan Republik Indonesia.
Nominasi prestisius tersebut diajukan oleh Center for Peace and Security, Coventry University, Inggris, bukan oleh BPJS Kesehatan sendiri. Pengusulan ini didasarkan pada nilai-nilai gotong royong yang diusung BPJS Kesehatan dalam menjamin akses kesehatan bagi seluruh masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Gotong Royong sebagai Fondasi Perdamaian
Prof. Ali Ghufron Mukti menjelaskan bahwa pengusulan nominasi ini didasarkan pada penilaian bahwa nilai-nilai gotong royong yang dijalankan BPJS Kesehatan mencerminkan perdamaian dan kemanusiaan. Konsep perdamaian, menurut pandangan pengusul, tidak hanya berarti bebas dari konflik semata.
Lebih dari itu, perdamaian juga terwujud ketika setiap manusia dapat hidup bermartabat tanpa terhambat akses layanan dasar seperti kesehatan. "Bagaimana kemartabatan manusia dijaga melalui saling tolong-menolong. Dengan gotong royong, orang kaya membantu yang miskin, orang sehat membantu yang sakit, orang muda membantu yang tua," tutur Ghufron.
Sistem ini menjadi "benchmark" atau tolok ukur karena nilai-nilai lokal gotong royong yang kuat. BPJS Kesehatan dianggap berhasil mengimplementasikan prinsip-prinsip kemanusiaan melalui jaminan kesehatan universal, yang secara fundamental berkontribusi pada kemartabatan hidup masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Dampak BPJS Kesehatan: Perubahan Paradigma dan Inspirasi Dunia
Keberadaan BPJS Kesehatan telah membawa perubahan signifikan dalam paradigma masyarakat Indonesia. Dulu, kekhawatiran akan beban biaya pengobatan seringkali membuat orang takut sakit, namun kini masyarakat dapat lebih tenang lantaran memiliki jaminan kesehatan.
"Dulu (ada ungkapan) orang miskin dilarang sakit, sekarang sudah tidak ada," ucap Prof. Ali Ghufron Mukti, menyoroti dampak positif program ini. Dalam waktu yang relatif singkat, sistem jaminan ini telah mencakup hampir seluruh penduduk Indonesia, mencapai tingkat universalitas yang mengesankan.
Keberhasilan ini bahkan menjadikan BPJS Kesehatan sebagai rujukan bagi berbagai negara lain yang ingin belajar tentang implementasi jaminan kesehatan universal. Prof. Ali Ghufron Mukti mengklaim bahwa penghargaan Nobel yang pernah diterima Grameen Bank di Bangladesh masih kalah berdampak dibandingkan sistem BPJS Kesehatan.
Advertisement
Grameen Bank memperoleh Nobel karena upaya membantu kelompok miskin memperoleh akses pinjaman dengan saling menjamin antaranggota. Namun, sistem yang dijalankan BPJS Kesehatan tidak hanya berfokus pada akses finansial, melainkan secara komprehensif menjamin kesehatan seluruh warga negara. Bahkan, sistem ini turut mendorong penciptaan lapangan kerja serta menekan angka kemiskinan akibat beban biaya pengobatan, menunjukkan dampak sosial-ekonomi yang lebih luas dan transformatif.
Sumber: AntaraNews