Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) menegaskan tidak ingin Indonesia hanya menjadi penonton atau sekadar 'penyedia lahan' dalam pesatnya pertumbuhan industri data center di Tanah Air.
Danantara mendorong transformasi industri digital nasional menuju penguasaan teknologi tingkat tinggi berbasis Artificial Intelligence (AI) dan semikonduktor.
Chief Technology Officer (CTO) BPI Danantara Sigit Puji Santosa mengungkapkan bahwa skema bisnis data center yang hanya mengandalkan sewa lahan memberikan dampak ekonomi (economic impact) yang sangat minim bagi negara.
"Kalau kita hanya menyewakan lahan, dampak ekonominya tidak besar. Investor asing bisa menanam modal USD 3 sampai 4 miliar, tapi pendapatan (revenue) yang kita terima dari sewa lahan paling cuma sekitar USD 100 sampai 150 juta (sekitar Rp1,5 triliun hingga Rp2,3 triliun)," ujar Sigit dalam konferensi pers pra-acara Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta.
Advertisement
Kuasai Otak Komputer 'AI'
Guna mendongkrak nilai tambah tersebut, Danantara berniat menggeser fokus ke pengembangan pusat data berbasis AI yang terintegrasi dengan produksi komponen utama, yakni chip atau 'otak' komputer. Langkah ini diyakini mampu memasukkan Indonesia ke dalam rantai pasok (supply chain) teknologi global.
Jika Indonesia mampu memproduksi serta memiliki hak atas teknologi chip dan pengendali berbasis AI tersebut, potensi penerimaan negara diproyeksikan bakal melonjak drastis hingga belasan kali lipat.
"Kalau kita ikut membangun dan memiliki teknologi chip-nya sendiri, pendapatan yang dihasilkan bisa tembus USD 1,5 sampai 1,7 miliar (sekitar Rp23 triliun hingga Rp26 triliun). Inilah pendorong ekonomi yang sedang kita bangun," jelas Sigit.
Advertisement
Sudah Amankan Kerjasama Global
Sigit membeberkan bahwa rencana ini telah melangkah ke tahap konkret. Danantara telah mengantongi kesepakatan strategis dengan ARM, raksasa perancang arsitektur chip asal Inggris.
Tak hanya itu, jajaran pimpinan Danantara juga telah menggelar pertemuan tertutup dengan sejumlah bos perusahaan teknologi Silicon Valley di Bali guna menyepakati proyek pusat data berkapasitas raksasa hingga 1 Gigawatt-hour (GWh).
"Tujuan utama kita adalah membangun platform dan melengkapi ekosistem industri nasional. Kita punya sumber daya mineral kritis (critical minerals) yang melimpah. Dari mineral ini kita olah menjadi material maju, komponen, hingga chip semikonduktor yang digunakan pada berbagai produk teknologi," tegas Sigit.
Tak berhenti pada pusat data, penguasaan teknologi komponen semikonduktor ini nantinya juga akan disalurkan untuk mendukung industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) nasional.
Mengingat satu unit mobil listrik membutuhkan hingga 600–700 unit chip, penguasaan rantai pasok teknologi ini menjadi kunci utama agar industri otomotif nasional sanggup bersaing di tingkat global.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382841/original/099018500_1793012597-1315167.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382827/original/066952300_1793012113-IMG-20261026-WA0044.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9381978/original/020745200_1792916852-Detik-detik_byd_lindas_driver_ojol_di_kawasan_blok-m.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382772/original/013226500_1793009078-1001795506.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9382724/original/073963500_1793007217-IMG-20261026-WA0168.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4439890/original/058272000_1684940355-348237169_599185758943490_3150403143734906669_n.jpg)