Anak Krakatau Terus Tumbuh, Bagaimana Kembali Membangun Tubuhnya?

Gunung Anak Krakatau perlahan membangun kembali tubuhnya setelah sebagian tubuh gunung runtuh pada 2018. Lantas, berapa lama proses tersebut berlangsung?

Cinta Najwa Fauzi
Oleh Cinta Najwa Fauzi - Reporter
Anak Krakatau Terus Tumbuh, Bagaimana Kembali Membangun Tubuhnya?
Gunung Anak Krakatau tengah membangun kembali tubuhnya setelah sebagian besar kubahnya longsor pada 2018 lalu. (Liputan6.com/Ardi Munthe).

Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan aktivitas vulkanik setelah episode erupsi menerus selama hampir 25 jam pada 4-6 September 2026. Meski erupsi menerus telah berakhir dan berganti ke tipe Strombolian, gunung api di Selat Sunda ini terus beraktivitas membangun kembali tubuhnya yang sempat runtuh dahsyat pada 2018 lalu.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mencatat, meski intensitasnya mulai fluktuatif dan cenderung menurun hingga 11 September 2026, status Gunung Anak Krakatau masih bertahan pada Level III (Siaga). Masyarakat serta wisatawan dilarang mendekat dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.

Jejak Keruntuhan 2018 dan Proses Pertumbuhan

Aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini tidak bisa dilepaskan dari peristiwa kelam di tahun 2018. Pada 22 Desember 2018, erupsi hebat Gunung Anak Krakatau menyebabkan sebagian tubuh gunung runtuh. Material longsoran yang masuk ke laut kemudian memicu tsunami Selat Sunda.

Sejak saat itu, morfologi Anak Krakatau perlahan berubah. Berdasarkan pencatatan visual Badan Geologi Kementerian ESDM dari periode 2019 hingga 2024 yang diunggah melalui akun Instagram resminya, material hasil erupsi yang keluar secara berkala mulai menumpuk dan membentuk fondasi baru.

Pertumbuhan Morfologi Gunung Anak Krakatau
Pertumbuhan Morfologi Gunung Anak Krakatau yang diunggah pada akun Instagram resmi Badan Geologi Kementerian ESDM (@badan.geologi), Selasa (08/09/2026).

Berapa Lama Waktu untuk Tubuh Gunung Anak Krakatau Tumbuh?

Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan, Suwarno, menjelaskan bahwa tidak ada estimasi waktu pasti kapan tubuh Anak Krakatau akan kembali utuh seperti sebelum 2018. Pertumbuhannya berjalan secara alami dan sangat bergantung pada intensitas erupsi serta volume material yang dimuntahkan.

"Sebetulnya Gunung Anak Krakatau ini lagi membangun tubuhnya kembali, karena kubah yang tahun 2018 sudah longsor," ujar Suwarno pada tim Liputan6.com, Jumat (11/9/2026).

Ia menambahkan, bentuk fisik gunung yang saat ini terlihat cenderung melebar juga merupakan bagian dari proses alami tersebut.

"Masalah pengaruh melebar itu nantinya akan tertutup kembali oleh material yang mereka keluarkan. Contohnya akumulasi material yang terus bertambah dari Juli hingga saat ini," lanjut Suwarno.

Apakah Tumbuhnya Gunung Baru Berpotensi Memicu Tsunami Susulan?

Meski terus tumbuh, Badan Geologi Kementerian ESDM memastikan bahwa ukuran tubuh Gunung Anak Krakatau saat ini masih jauh lebih kecil dibanding kondisi sebelum keruntuhan 2018. Oleh karena itu, potensi keruntuhan skala besar yang sanggup memicu tsunami susulan dalam waktu dekat dinilai masih sangat kecil.

“Berdasarkan hasil evaluasi hingga saat ini, dimensi tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” jelas Badan Geologi Kementerian ESDM melalui unggahan pada akun instagram resminya, Selasa (08/09/2026).

Proses "rekonstruksi alami" Gunung Anak Krakatau ini dipastikan bakal memakan waktu lama. Selama magma dan material dari perut bumi terus keluar, selama itu pula Gunung Anak Krakatau akan terus membesarkan tubuhnya secara bertahap.

Rekomendasi