Ulta Levenia Nababan tidak lagi menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama di Kantor Staf Presiden. Kabar itu disampaikan Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman.
Nama Ulta sebelumnya menjadi perbincangan usai mengaitkan erupsi Anak Krakatau dengan proyek High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP).
Menurut Dudung, Ulta kini menjadi salah satu deputi di Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom). Dudung juga menegaskan pandangan Ulta mengenai fenomena alam tersebut bukan merupakan sikap resmi KSP. Menurut dia, bencana alam yang terjadi merupakan bagian dari dinamika alam yang telah dikaji para ahli.
“Menurut saya, tidak dikaitkan dengan apalagi kepentingan dengan pihak luar dan sebagainya,” kata Dudung di Gedung Bina Graha, Jakarta, Kamis (10/9).
Bukan kali ini pernyataan Ulta menjadi sorotan. Berikut jejak kontroversi Ulta Levenia sebelum akhirnya tak lagi menjadi bagian dari KSP.
Advertisement
Soroti Rencana Perdamaian Gaza
Sebelum polemik mengenai HAARP, Ulta sempat menjadi sorotan setelah memaparkan 20 poin rencana perdamaian Gaza yang disusun Board of Peace (BoP).
Saat itu, Ulta yang masih berstatus Tenaga Ahli Utama KSP menjelaskan bahwa dokumen tersebut menjadi salah satu dasar pertimbangan Indonesia untuk bergabung dalam BoP.
Ulta meminta publik membaca dokumen tersebut secara utuh dan objektif. Ia juga membantah anggapan bahwa rencana tersebut tidak berpihak pada Palestina.
Dalam penjelasannya, Ulta menyoroti sejumlah poin yang menurutnya memberikan ruang bagi masa depan Palestina. Salah satunya mengenai pemerintahan transisi Gaza yang dipimpin Komite Palestina.
Ia juga menyebut terdapat poin yang menegaskan Gaza tidak akan dikuasai Israel serta membuka jalan bagi Palestina untuk menentukan masa depannya sendiri.
Pernyataan tersebut kemudian memicu pro dan kontra di ruang publik, terutama karena isu Palestina sangat sensitif bagi masyarakat Indonesia.
Advertisement
Singgung HAARP di Tengah Erupsi Gunung
Kontroversi terbaru yang membuat nama Ulta kembali viral terjadi pada September 2026.
Melalui akun Instagram pribadinya, Ulta menyinggung fenomena erupsi sejumlah gunung api yang terjadi dalam waktu berdekatan. Ia kemudian mempertanyakan kemungkinan adanya faktor lain di balik fenomena tersebut dan mengaitkannya dengan HAARP.
Dalam unggahannya, Ulta mengakui belum memiliki bukti ilmiah yang kredibel untuk mendukung dugaan tersebut. Ia menyebut dirinya skeptis dan membuka kemungkinan bahwa pemikiran tersebut nantinya dikategorikan sebagai teori konspirasi.
Pernyataan itu langsung memicu perdebatan publik. Sejumlah pihak mempertanyakan dasar ilmiah yang digunakan untuk menghubungkan aktivitas gunung api dengan HAARP.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono juga menegaskan fenomena erupsi gunung api tidak disebabkan oleh rekayasa teknologi atau senjata konspirasi.
Advertisement
Tak Lagi Jadi Tenaga Ahli KSP
Di tengah polemik tersebut, Dudung Abdurachman memastikan Ulta sudah tidak lagi menjabat sebagai Tenaga Ahli Utama KSP.
Dudung menyebut Ulta kini menjadi salah satu deputi di Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom).
Ia juga menegaskan pandangan Ulta mengenai dugaan keterkaitan fenomena alam dengan pihak luar tidak mewakili sikap KSP.
“Jadi, bukan anggota saya lagi itu,” ujar Dudung.
Dengan demikian, berdasarkan keterangan KSP, perubahan posisi Ulta bukan disebut sebagai pemberhentian, melainkan perpindahan tugas. Kontroversi mengenai sejumlah pernyataannya pun kini menjadi bagian dari rekam jejak publik Ulta, yang sebelumnya dikenal sebagai peneliti isu keamanan, terorisme, dan konflik global.