Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda menunjukkan tren penurunan. Hingga Jumat (11/9/2026) siang, tidak tercatat erupsi dari gunung api yang berada di Kabupaten Lampung Selatan tersebut.
Kepala Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Lampung Selatan, Suwarno, menyebut energi pendorong material ke permukaan mulai melemah.
"Sudah mulai menurun erupsinya. Bahkan sementara hari ini pun tidak ada erupsi," kata Suwarno, Jumat (11/9/2026).
Ia menegaskan kondisi ini bukan berarti suplai magma habis, melainkan daya dorongnya kian berkurang.
"Bukan habis. Energinya sudah mulai berkurang untuk mendorong ke atas," ujarnya.
Berdasarkan laporan pengamatan periode Jumat (11/9/2026) pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, tidak terjadi erupsi, namun aktivitas kegempaan masih terekam. Petugas mencatat satu kali gempa Low Frequency dengan amplitudo 34 milimeter dan durasi enam detik.
Selain itu, terekam empat kali gempa Hybrid atau Fase Banyak dengan amplitudo 11 hingga 23 milimeter dan durasi 8 hingga 11 detik, lalu satu kali gempa Vulkanik Dalam dengan amplitudo 41,3 milimeter. Tremor menerus juga terpantau dengan amplitudo 1 hingga 8 milimeter.
Secara visual, puncak gunung tertutup kabut level 0–III sehingga asap kawah tidak teramati. Cuaca di sekitar gunung api cerah hingga berawan dengan angin berkecepatan sedang bertiup ke arah barat laut.
Gunung Anak Krakatau memiliki ketinggian sekitar 157 meter di atas permukaan laut.
Advertisement
Imbauan PVMBG untuk Warga Sekitar Anak Krakatau
Suwarno mengimbau warga, khususnya nelayan, wisatawan, dan pendaki, untuk mematuhi rekomendasi Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Aktivitas dilarang dalam radius tiga kilometer dari kawah aktif.
"Kami mohon rekomendasi yang telah ditentukan oleh Badan Geologi PVMBG dipatuhi. Jangan beraktivitas dalam radius tiga kilometer dari pusat kawah aktif agar terhindar dari lontaran batu pijar, awan panas dan abu vulkanik," tegas Suwarno.
Ia juga meminta masyarakat di wilayah pesisir tetap beraktivitas normal dengan meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah terpancing informasi yang tidak jelas.
"Masyarakat pesisir diharapkan tetap tenang beraktivitas seperti biasa, yang penting tetap waspada dan jangan terpancing isu-isu yang tidak jelas kebenarannya," ujarnya.
Bagi masyarakat yang terdampak hujan abu, ia menyarankan penggunaan masker dan pelindung mata saat beraktivitas di luar ruangan.
"Gunakan masker dan pelindung mata seperti kacamata. Kalau bepergian menggunakan kendaraan roda dua, gunakan helm yang ada kacanya agar tidak teriritasi abu vulkanik," tandasnya.