Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Wihaji, menyatakan bahwa Program Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (Genting) berperan penting dalam menyediakan rumah layak huni bagi keluarga yang berisiko mengalami kekurangan gizi. Inisiatif ini menjadi solusi kolaboratif untuk menjangkau keluarga yang sebelumnya sulit mendapatkan bantuan pemerintah karena terganjal persyaratan administratif.
Wihaji menjelaskan bahwa kolaborasi melalui Genting mengatasi berbagai kesulitan birokrasi yang kerap menghambat penyaluran anggaran dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Kendala seperti syarat sertifikat kepemilikan tanah seringkali menjadi penghalang bagi keluarga yang sangat membutuhkan.
Pernyataan ini disampaikan Mendukbangga Wihaji saat meninjau langsung sejumlah Keluarga Risiko Stunting (KRS) di Kecamatan Pangkalbalam, Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung, pada Sabtu. Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya Kemendukbangga/BKKBN untuk memperkuat intervensi pencegahan stunting dari hulu.
Advertisement
Advertisement
Kolaborasi Genting Atasi Kendala Administratif Bantuan
Mendukbangga Wihaji menegaskan bahwa Program Genting menjadi jawaban atas tantangan dalam menyalurkan bantuan kepada keluarga yang belum terjangkau oleh program pemerintah. Banyak keluarga berisiko stunting terkendala oleh persyaratan administratif yang ketat, terutama terkait kepemilikan aset.
"Kalau mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), seringkali sulit karena ada syarat sertifikat dan sebagainya," ujar Wihaji. Ia menambahkan bahwa melalui orang tua asuh, persyaratan menjadi tidak rumit, namun negara tetap hadir untuk membantu.
Wihaji menekankan pentingnya tidak membiarkan keluarga kehilangan kesempatan memperoleh bantuan hanya karena keterbatasan dokumen. "Masa hanya karena tidak memiliki sertifikat, negara tidak hadir, tentu itu tidak adil. Oleh karena itu, kita bantu sesuai dengan kewenangan yang kita miliki," tuturnya.
Advertisement
Keterlibatan berbagai pihak, seperti PT Timah yang berperan sebagai orang tua asuh, menunjukkan efektivitas model kolaborasi ini. Mereka memberikan dukungan perbaikan rumah kepada keluarga penerima manfaat, membuktikan bahwa bantuan dapat disalurkan secara fleksibel dan tepat sasaran.
Advertisement
Intervensi Pencegahan Stunting Sejak Dini dan Lingkungan Sehat
Dalam kunjungannya ke Pangkalpinang, Wihaji meninjau langsung beberapa titik Keluarga Risiko Stunting (KRS), termasuk keluarga yang memiliki anak pada fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Ia menekankan bahwa pencegahan stunting harus dilakukan sebelum anak mengalami gangguan pertumbuhan.
"Keluarga risiko stunting kita data. Tadi saya melihat tiga titik, kemarin dua titik. Mereka memiliki anak pada fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Sebelum terjadi stunting, kita lakukan pendekatan, termasuk memperbaiki kondisi rumahnya," jelas Wihaji.
Selain perbaikan rumah, kunjungan tersebut juga mencakup penyerahan bantuan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (3B), serta bantuan nutrisi lainnya. Ini menunjukkan pendekatan komprehensif dalam penanganan stunting.
Advertisement
Wihaji juga berdialog langsung dengan keluarga penerima manfaat untuk memahami kondisi kesehatan anak, kebutuhan gizi, pola pengasuhan, dan kondisi ekonomi. Menurutnya, pemenuhan gizi harus diiringi dengan lingkungan yang sehat, sanitasi yang baik, akses air bersih, dan hunian yang layak agar tumbuh kembang anak optimal.
Advertisement
Peran Serta Berbagai Pihak dalam Mewujudkan Keluarga Berkualitas
Program Genting dirancang untuk mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam membantu keluarga berisiko stunting sesuai kebutuhannya, termasuk melalui bantuan perbaikan rumah tidak layak huni. Ini merupakan wujud nyata dari semangat gotong royong dalam pembangunan keluarga.
Melalui intervensi terpadu yang melibatkan kolaborasi dari berbagai pihak, mulai dari pemenuhan gizi, pendampingan keluarga, hingga perbaikan rumah tidak layak huni, pemerintah berupaya memastikan setiap keluarga berisiko stunting memperoleh layanan yang tepat sasaran. Tujuannya adalah menciptakan keluarga Indonesia yang sehat dan berkualitas secara berkelanjutan.
Kolaborasi ini tidak hanya fokus pada aspek nutrisi semata, tetapi juga pada faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Dengan demikian, Program Genting menjadi model efektif dalam penanganan stunting secara holistik.
Advertisement
Keberhasilan Genting sangat bergantung pada sinergi antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Hal ini memastikan bahwa tidak ada keluarga yang tertinggal dalam upaya mewujudkan generasi penerus bangsa yang sehat, cerdas, dan kuat.
Sumber: AntaraNews