Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta memperpanjang rekayasa lalu lintas di koridor Jalan Raya Bekasi hingga Jalan Raya Cakung-Cilincing, Jakarta Timur, mulai pukul 15.00 WIB, Kamis (23/7/2026). Kebijakan ini diambil setelah langkah serupa pada Rabu 22 Juli 2026 malam dinilai efektif mengurai kemacetan.
Skema yang diterapkan tetap berupa penutupan putaran balik (U-turn) di sejumlah lokasi rawan pada koridor tersebut.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaludin menyampaikan arus lalu lintas di kedua arah berangsur normal pada Rabu malam usai rekayasa diberlakukan. Pola yang sama kembali diterapkan hari ini.
Advertisement
U-Turn di Cakung, Babek, dan JGC Ditutup
Penutupan U-turn difokuskan pada kawasan Cakung, Babek, dan Jakarta Garden City (JGC). Penjagaan di lapangan dilakukan oleh personel Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur dan Jakarta Utara di titik-titik yang sebelumnya menjadi lokasi kepadatan.
"Penutupan U-turn akan kembali dilakukan di kawasan Cakung, Babek, dan Jakarta Garden City (JGC) oleh personel Suku Dinas Perhubungan Jakarta Timur dan Jakarta Utara," ujar Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Budi Awaludin, Kamis (23/7/2026).
Dishub DKI menegaskan rekayasa lalu lintas tersebut menjadi kelanjutan dari pengaturan serupa yang telah dijalankan sehari sebelumnya.
Advertisement
Kondisi Rabu Malam Berangsur Normal
Budi menyebut arus kendaraan di koridor Jalan Raya Bekasi hingga Jalan Raya Cakung-Cilincing pada Rabu 22 Juli 2026 malam sudah kembali lancar setelah rekayasa diterapkan.
"Alhamdulillah (kemarin) semua bisa teratasi. Sebelah kiri maupun kanan kondisinya sudah sangat lancar setelah dilakukan rekayasa lalu lintas dengan penutupan U-turn di Cakung, Babek, dan JGC," kata Budi.
Pernyataan itu disampaikan setelah uji rekayasa berupa penutupan U-turn diberlakukan di koridor tersebut pada Rabu malam.
Advertisement
Pemicu Kemacetan dan Permintaan Peningkatan Kapasitas
Menurut Budi, kemacetan di kawasan Jalan Raya Bekasi hingga Jalan Raya Cakung-Cilincing dipicu penumpukan peti kemas di pelabuhan akibat tingginya volume impor yang tidak diimbangi aktivitas ekspor.
Kondisi tersebut membuat peti kemas menumpuk di pelabuhan maupun depo, memicu antrean panjang truk di ruas jalan terkait.
"Kami berharap kapasitas depo Pelindo dapat ditingkatkan dari 65 persen menjadi 75 hingga 80 persen agar tidak terjadi lagi penumpukan peti kemas di depo," kata Budi.