Head to Head BI Vs Inang-Inang
Advertisement
Jalan Kalimalang sedang terik-teriknya. Mince sesekali menyeka keringat. Menggendong tas besar berisi uang-uang receh untuk dijajakan.
Uang yang dijual beragam. Mulai dari Rp5.000, Rp10.000, Rp20.000 hingga Rp75.000.
Advertisement
Mince adalah salah satu dari banyak Inang-Inang yang menjamur jelang Lebaran. Inang-Inang adalah istilah penyedia jasa penukaran uang pinggir jalan.
Mengapa disebut Inang-Inang? Karena kebanyakan mereka wanita berasal dari Tanah Batak.
Untuk memulai bisnis ini, Mince dan inang-inang harus merogoh modal tidak sedikit. Modal mininumnya rata-rata mencapai Rp20 juta.
"Tukarnya di Kota, nanti ada yang koordinir. Kalau (menukar) di BI saya harus bolak-balik karena ada batas maksimumnya kan? Jadi kita lewat koordinator saja
Advertisement
ujar Mince saat berbincang dengan kami.
Advertisement
Namun, profesi 'musiman' Inang-Inang bukan tanpa risiko
Advertisement
Sederet risiko jasa tukar uang pinggir jalan, antara lain:
1. Risiko uang yang dijajakan palsu 2. Memancing jambret karena transaksi di pinggir jalan 3. Penukaran uang di pinggir jalan dikenakan biaya
Advertisement
BI SIAP HEAD TO HEAD
BI menyiapkan langkah antisipasi untuk mengatasi maraknya jasa tukar uang pinggir jalan. Begini skemanya.
BI akan memperbanyak layanan kas keliling untuk memudahkan masyarakat menukarkan uang ke pecahan kecil. Jadi, di mana ada jasa tukar uang pinggi jalan, di situ BI membuka Layanan Kas BI.
Penjelasan dari Kepala Departemen Pengelolaan Keuangan BI, Marlison Hakim
Advertisement
Seorang ibu menukarkan uang pecahan kecil di Layanan Kas Penukaran Uang BI GBK, Senayan, Jakarta.
Advertisement
Selain kas keliling, BI menyediakan 5.066 titik penukaran pada bak yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Masyarakat yang ingin menukar uang di layanan BI diharuskan mendaftar terlebih dahulu secara online melalui situs Pintar.