Polda Papua Tengah baru-baru ini mengungkap peredaran foto hoaks yang diklaim sebagai korban kericuhan di Kabupaten Dogiyai, Papua Tengah. Foto-foto tersebut ternyata merupakan dokumentasi lama dari wilayah lain dan tidak berkaitan dengan peristiwa terkini. Kepala Bidang Humas Polda Papua Tengah, AKBP I Made Suartika, menegaskan bahwa penyebaran informasi keliru ini berpotensi menyesatkan masyarakat sekaligus memperkeruh situasi keamanan di wilayah Papua Tengah.
Penelusuran mendalam oleh pihak kepolisian menunjukkan bahwa foto-foto yang beredar luas di media sosial dan aplikasi percakapan terbukti tidak berkaitan dengan peristiwa terbaru di Dogiyai. Klarifikasi ini disampaikan di Nabire pada Senin (7/4) untuk meluruskan informasi yang berpotensi memicu keresahan. Masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati dalam menerima dan menyebarkan informasi.
AKBP I Made Suartika menjelaskan bahwa tujuan dari pengungkapan hoaks ini adalah untuk menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di Papua Tengah. Informasi yang tidak terverifikasi dapat memicu kesalahpahaman di tengah publik. Oleh karena itu, verifikasi informasi menjadi sangat krusial sebelum dibagikan.
Advertisement
Advertisement
Penelusuran Hoaks Foto Dogiyai dari Akun Media Sosial
Salah satu kasus hoaks foto Dogiyai yang diungkap Polda Papua Tengah berasal dari akun “KNPB News Nabire”. Akun tersebut menyebarkan foto yang diklaim sebagai kejadian kericuhan di wilayah Dogiyai melalui media sosial dan aplikasi WhatsApp. Setelah penyelidikan, foto tersebut terbukti bukan merupakan kejadian di Dogiyai.
Penelusuran lebih lanjut menemukan bahwa foto yang disebarkan oleh akun Facebook milik LL dan AP tersebut adalah peristiwa lama. Gambar itu sebenarnya berasal dari kejadian di wilayah Sanggeng, Kabupaten Manokwari, Papua Barat. “Informasi tersebut merupakan posting-an hoaks yang berpotensi menyesatkan masyarakat serta memperkeruh situasi keamanan,” kata AKBP I Made Suartika.
Penyebaran hoaks semacam ini sangat berbahaya karena dapat menciptakan narasi palsu yang tidak sesuai dengan fakta. Masyarakat yang tidak kritis dapat dengan mudah termakan informasi yang tidak benar. Penting untuk selalu memeriksa kebenaran setiap konten yang diterima sebelum mempercayainya.
Advertisement
Advertisement
Klarifikasi Hoaks Foto Korban Dogiyai Tanggal 31 Maret 2026
Selain kasus sebelumnya, beredar juga gambar di media sosial yang diklaim sebagai korban kericuhan di Dogiyai pada 31 Maret 2026. Foto ini bahkan sempat dimuat dalam pemberitaan salah satu media di Papua pada 3 April 2026. Namun, klaim tersebut juga terbukti tidak benar setelah ditelusuri oleh Polda Papua Tengah.
Penelusuran menunjukkan bahwa gambar yang sama pernah dipublikasikan sebelumnya pada salah satu media di Papua pada 27 Februari 2026. Ini membuktikan bahwa foto tersebut adalah dokumentasi lama, bukan peristiwa baru di Dogiyai. “Dengan demikian, narasi yang menyebutkan bahwa kejadian dalam gambar tersebut terjadi pada 31 Maret 2026 di Dogiyai ini adalah tidak benar (hoaks). gambar tersebut adalah foto lama,” ujar AKBP I Made Suartika.
Klarifikasi ini menekankan pentingnya jurnalisme yang bertanggung jawab dan verifikasi fakta. Media massa memiliki peran vital dalam menyajikan informasi yang akurat kepada publik. Kesalahan dalam pemberitaan dapat memperburuk situasi dan merusak kepercayaan masyarakat.
Advertisement
Advertisement
Kondisi Keamanan Dogiyai dan Imbauan Polda
AKBP I Made Suartika memastikan bahwa kondisi keamanan di Dogiyai saat ini terpantau aman dan kondusif. Meskipun demikian, aparat kepolisian tetap meningkatkan patroli dan pengawasan di wilayah tersebut. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) yang mungkin timbul.
Polda Papua Tengah mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum jelas sumbernya. Masyarakat juga diminta untuk tidak menyebarluaskan konten yang belum terverifikasi kebenarannya. Kerjasama dari seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan untuk menjaga situasi keamanan tetap kondusif.
“Dengan klarifikasi ini, diharapkan masyarakat lebih bijak dalam menerima dan menyaring informasi agar tidak terpengaruh isu yang dapat memecah persatuan,” tegas AKBP I Made Suartika. Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis menjadi kunci utama dalam menghadapi era informasi yang serba cepat ini.
Advertisement
Sumber: AntaraNews