Buku Sejarah Islam Kaltim: Merawat Toleransi dan Menginspirasi Generasi Emas 2045

Peluncuran buku 'Sejarah Islam di Kalimantan Timur' menjadi sorotan, membawa pesan penting tentang merawat toleransi keberagaman dan diharapkan menginspirasi Generasi Emas 2045.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Buku Sejarah Islam Kaltim: Merawat Toleransi dan Menginspirasi Generasi Emas 2045
Peluncuran buku 'Sejarah Islam di Kalimantan Timur' menjadi sorotan, membawa pesan penting tentang merawat toleransi keberagaman dan diharapkan menginspirasi Generasi Emas 2045. (AntaraNews)

Samarinda menjadi saksi peluncuran sebuah karya literatur monumental berjudul Sejarah Islam di Kalimantan Timur: Empat Setengah Abad Jaringan Dakwah, Ulama, dan Peradaban dari Kerajaan hingga Republik. Buku ini tidak hanya mengisi kekosongan literatur sejarah Islam di Kaltim yang belum diperbarui selama tiga dekade terakhir, tetapi juga membawa pesan mendalam mengenai pentingnya merawat toleransi keberagaman. Penulis utama, Muhammad Sarip, seorang sejarawan publik, mengungkapkan bahwa buku ini menyoroti bagaimana figur tokoh Islam di masa lalu berhasil menghidupkan agama untuk harmonisasi kehidupan masyarakat.

Karya komprehensif ini mengupas tuntas perjalanan dakwah selama empat setengah abad, dimulai dari tonggak awal tahun 1575 hingga proyeksi tahun 2025. Proses penyusunannya melibatkan serangkaian diskusi mendalam dan penulisan intensif oleh tim ahli selama tiga bulan. Dukungan penuh dari Pusat Studi Lokal Komunitas Samarinda Bahari serta pengumpulan fakta deskriptif dari keluarga keturunan tokoh ulama turut memperkaya isi buku ini.

Peluncuran buku ini diharapkan dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, melalui penyalurannya ke berbagai perpustakaan daerah. Tim penyusun juga terbuka terhadap berbagai saran pembaca untuk perbaikan materi di masa mendatang, menyadari bahwa setiap karya manusia pasti memiliki kekurangan.

Mengungkap Jejak Dakwah dan Peradaban Islam Kaltim

Buku Sejarah Islam di Kalimantan Timur hadir sebagai literatur yang sangat dibutuhkan untuk memahami akar sejarah Islam di wilayah tersebut. Muhammad Sarip, penulis buku, menyoroti bahwa belum ada pembaruan literatur sejarah syiar Islam di Kaltim secara utuh selama tiga puluh tahun terakhir. Kesenjangan ini kini terjawab melalui karya yang mengulas perjalanan dakwah sejak tahun 1575 hingga 2025.

Proses kreatif di balik penyusunan buku ini melibatkan kerja keras tim ahli selama tiga bulan, mencakup diskusi mendalam dan penulisan intensif. Pusat Studi Lokal Komunitas Samarinda Bahari memberikan dukungan signifikan dalam riset dan pengumpulan data. Selain itu, fakta deskriptif yang diperoleh langsung dari keluarga keturunan tokoh ulama turut memperkuat validitas dan kedalaman narasi sejarah yang disajikan.

Komitmen untuk menjangkau khalayak luas ditunjukkan dengan rencana penyaluran buku ke berbagai perpustakaan daerah. Langkah ini bertujuan agar seluruh lapisan masyarakat, terutama kalangan muda, dapat dengan mudah mengakses dan mempelajari sejarah Islam yang kaya di Kalimantan Timur. Penulis juga menyambut baik masukan dan saran dari pembaca sebagai bentuk perbaikan berkelanjutan untuk karya tersebut.

Toleransi dan Harmonisasi: Pesan Abadi dari Sejarah Islam Kaltim

Pesan utama yang diusung oleh buku ini adalah pentingnya merawat toleransi keberagaman dalam kehidupan bermasyarakat. Muhammad Sarip menekankan bahwa ajaran Islam yang dibawa oleh figur-figur tokoh masa lalu di Kaltim selalu mengedepankan harmonisasi. Hal ini menjadi relevan dalam konteks masyarakat modern yang multikultural.

Prof. Abdunnur, Ketua Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kaltim sekaligus Rektor Universitas Mulawarman (Unmul), menegaskan bahwa ajaran Islam masuk ke Kaltim dengan mengutamakan penghormatan terhadap perbedaan sebagai tata nilai sosial. Interaksi harmonis antara ajaran agama dan dinamika budaya lokal Kalimantan Timur telah menciptakan kekuatan tersendiri bagi kehidupan bermasyarakat hingga saat ini.

Nilai-nilai egaliter yang diajarkan oleh para ulama terdahulu juga berperan besar dalam membangun kesamaan derajat manusia. Ajaran ini tidak membedakan ras, suku, maupun latar belakang agama, sehingga membentuk fondasi kuat bagi toleransi di Kaltim. Pesan ini menjadi pengingat akan warisan luhur yang harus terus dijaga dan dilestarikan.

Inspirasi Masa Depan dan Pengakuan Internasional

Prof. Abdunnur meyakini bahwa buku Sejarah Islam di Kalimantan Timur memiliki potensi besar untuk menjadi inspirasi dalam mempersiapkan Generasi Emas 2045. Pemahaman yang mendalam tentang sejarah dan nilai-nilai toleransi diharapkan dapat membentuk karakter generasi muda yang kuat dan berwawasan luas. Buku ini menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Universitas Mulawarman berencana menjadikan karya ini sebagai persembahan utama dalam konferensi Konsortium Universiti Universitas Borneo (KUUB) pada Juli 2026. KUUB merupakan forum internasional yang menghimpun perwakilan perguruan tinggi dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei Darussalam. Keikutsertaan buku ini dalam forum tersebut akan membuka pintu bagi pengakuan internasional.

Abdunnur berharap buku ini dapat menjadi referensi penting bagi perguruan tinggi internasional dalam memahami dinamika perkembangan syiar Islam di bumi Kalimantan secara lebih komprehensif. Ini merupakan langkah strategis untuk memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Islam Kaltim ke panggung global, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam kajian Islam di Asia Tenggara.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi