Unipa Buka Akses Pendidikan Tinggi bagi Warga Binaan Lapas Manokwari, Wujudkan Hak Pendidikan Sepanjang Hayat

Universitas Papua (Unipa) dan Lapas Kelas IIB Manokwari berkolaborasi membuka **akses pendidikan** tinggi bagi warga binaan dan pegawai, memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi dan mendukung reintegrasi sosial.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Unipa Buka Akses Pendidikan Tinggi bagi Warga Binaan Lapas Manokwari, Wujudkan Hak Pendidikan Sepanjang Hayat
Universitas Papua (Unipa) dan Lapas Kelas IIB Manokwari berkolaborasi membuka **akses pendidikan** tinggi bagi warga binaan dan pegawai, memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi dan mendukung reintegrasi sosial. (AntaraNews)

Universitas Papua (Unipa) telah menandatangani kerja sama penting dengan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Manokwari. Kolaborasi ini bertujuan untuk membuka **akses pendidikan** tinggi bagi warga binaan maupun pegawai di lingkungan lapas. Penandatanganan kerja sama ini dilaksanakan di Manokwari, Papua Barat, pada Jumat (20/2), menandai langkah progresif dalam pemenuhan hak pendidikan.

Rektor Unipa, Prof. Hugo Warami, menegaskan bahwa inisiatif ini memastikan hak pendidikan tetap terpenuhi, bahkan bagi mereka yang sedang menjalani masa pidana. Pendidikan dianggap sebagai investasi jangka panjang untuk membangun sumber daya manusia (SDM) dan mendukung masa depan generasi muda. Langkah ini juga krusial dalam memfasilitasi proses reintegrasi sosial warga binaan setelah mereka menyelesaikan masa hukuman.

Kepala Lapas Kelas IIB Manokwari, Adhy Prasetyanto, menyambut baik terobosan ini, mengapresiasi Unipa yang telah membuka kesempatan. Kemitraan ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas akademik dan profesionalitas bagi seluruh pegawai lapas. Setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam mengakses layanan pendidikan, dan kolaborasi ini menjadi bukti nyata komitmen tersebut.

Kolaborasi Strategis Unipa-Lapas Manokwari Wujudkan Hak Pendidikan

Kerja sama antara Universitas Papua dan Lapas Kelas IIB Manokwari merupakan wujud nyata komitmen terhadap pemenuhan hak asasi manusia, khususnya dalam bidang pendidikan. Rektor Unipa, Prof. Hugo Warami, menekankan pentingnya pendidikan yang berkelanjutan sepanjang hayat bagi setiap individu. "Pendidikan harus tetap berjalan sepanjang hayat," kata Hugo, "Kami ingin memastikan mahasiswa yang studinya sempat terhenti karena persoalan hukum, bisa punya kesempatan menyelesaikan pendidikan."

Pendidikan tinggi diyakini memiliki peran vital dalam pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas. Bagi warga binaan, kesempatan ini bukan hanya sekadar melanjutkan studi, tetapi juga sebagai bekal berharga untuk masa depan. Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas SDM di seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang berada di balik jeruji besi.

Selain itu, pendidikan juga berfungsi sebagai alat efektif untuk mendukung proses reintegrasi sosial warga binaan ke masyarakat. Dengan bekal ilmu dan keterampilan yang diperoleh, mereka diharapkan dapat lebih mudah beradaptasi dan berkontribusi positif. "Semua warga negara memiliki hak yang sama dalam mengakses layanan pendidikan," ujar Hugo, menegaskan bahwa status hukum tidak boleh menjadi penghalang bagi individu untuk mengembangkan potensi diri.

Skema Khusus Perkuliahan untuk Akses Pendidikan Merata

Untuk memastikan warga binaan dapat mengikuti perkuliahan tanpa harus keluar dari area lapas, Unipa telah menyiapkan skema khusus yang inovatif. Skema ini mencakup sistem pembelajaran hybrid, yang menggabungkan metode daring dan luring secara fleksibel. Selain itu, metode penugasan dan portofolio juga akan menjadi bagian integral dari proses belajar mengajar, memungkinkan evaluasi yang komprehensif.

Prof. Hugo Warami menjelaskan bahwa penjadwalan dosen untuk mengajar langsung di dalam lapas juga akan diterapkan. "Supaya warga binaan tidak keluar dari area lapas. Skema-skema khusus yang akan diterapkan," ujar Hugo. Pendekatan ini dirancang untuk memaksimalkan interaksi antara dosen dan mahasiswa warga binaan, sekaligus memastikan keamanan dan ketertiban.

Aspek penilaian akademik juga akan mempertimbangkan aktivitas produktif yang dilakukan warga binaan selama di lapas. Kegiatan seperti perikanan, pertanian, atau keterampilan lainnya dapat diakui sebagai bagian dari pemenuhan beban studi. Pendekatan holistik ini tidak hanya mengukur kemampuan akademis, tetapi juga menghargai pengembangan keterampilan praktis yang relevan.

Manfaat Jangka Panjang bagi Warga Binaan dan Petugas Lapas

Kepala Lapas Kelas IIB Manokwari, Adhy Prasetyanto, menyatakan apresiasinya terhadap inisiatif Unipa yang membuka kesempatan pendidikan tinggi ini. "Kami mengapresiasi keterbukaan kampus. Semoga kerja sama ini berkelanjutan supaya memberikan manfaat bagi warga binaan dan pegawai lapas," ucap dia. Ia berharap kerja sama ini dapat berkelanjutan dan memberikan manfaat maksimal bagi warga binaan serta pegawai lapas.

Tidak hanya bagi warga binaan, kesempatan ini juga terbuka lebar bagi setiap pegawai lapas yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang S1, S2, hingga S3. Peningkatan kapasitas akademik petugas lapas sangat penting untuk memperkuat kualitas sistem pembinaan yang diterapkan. Ilmu yang diperoleh dari lembaga pendidikan tinggi dapat langsung diaplikasikan untuk menciptakan lingkungan lapas yang lebih edukatif dan rehabilitatif.

Dengan adanya pendidikan yang lebih baik, diharapkan kualitas pembinaan di Lapas Manokwari akan semakin meningkat. Petugas yang berpendidikan tinggi akan memiliki perspektif yang lebih luas dan metode yang lebih efektif dalam membimbing warga binaan. Pada akhirnya, ini akan berkontribusi pada terciptanya masyarakat yang lebih baik dengan individu yang lebih berdaya, baik di dalam maupun setelah keluar dari lapas.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi