Delapan Desa di Aceh Tengah Masih Terisolasi Bencana, BPBD Berupaya Buka Akses

BPBD Aceh Tengah melaporkan delapan desa masih terisolasi pascabencana. Akses terbatas, upaya pembukaan jalan terus dilakukan. Simak detailnya.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Delapan Desa di Aceh Tengah Masih Terisolasi Bencana, BPBD Berupaya Buka Akses
BPBD Aceh Tengah melaporkan delapan desa masih terisolasi pascabencana. Akses terbatas, upaya pembukaan jalan terus dilakukan. Simak detailnya. (AntaraNews)

Pascabencana yang melanda wilayah Aceh Tengah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat melaporkan bahwa delapan desa masih berada dalam kondisi terisolasi. Kondisi ini menjadi perhatian serius mengingat aksesibilitas yang terbatas menghambat distribusi bantuan serta mobilitas warga di daerah tersebut. Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, menegaskan bahwa upaya maksimal terus dilakukan untuk memulihkan akses jalan.

Pada awalnya, terdapat total 101 desa yang terdampak dan terisolasi akibat bencana alam di Aceh Tengah. Namun, berkat kerja keras tim penanggulangan bencana dan partisipasi masyarakat, kini jumlah desa yang terisolasi telah berkurang drastis. Meskipun demikian, delapan desa yang tersisa masih menghadapi tantangan besar karena kerusakan infrastruktur yang parah.

Jembatan yang terputus menjadi penyebab utama terputusnya akses ke delapan desa tersebut, diperparah dengan belum tersedianya material untuk perbaikan jalan. Desa-desa ini tersebar di dua kecamatan, yakni Ketol dan Lingge, yang kini hanya dapat dijangkau menggunakan kendaraan roda dua. Situasi ini menuntut solusi cepat dan efektif dari pihak berwenang.

Kondisi Delapan Desa Terisolasi dan Tantangan Aksesibilitas

Delapan desa yang masih terisolasi meliputi Bergang, Pantardog, dan Karangampar di Kecamatan Ketol. Sementara itu, di Kecamatan Lingge, desa-desa yang terdampak adalah Lingge, Jamat, Dulung Sekinel, Rejepayung, dan Utinrejo. Kondisi geografis yang sulit serta kerusakan infrastruktur yang signifikan menjadi faktor penghambat utama dalam upaya pembukaan akses.

Meskipun akses menuju desa-desa tersebut sangat sulit, Kepala BPBD Aceh Tengah, Andalika, memastikan bahwa bantuan dan partisipasi dari berbagai unsur masyarakat tidak pernah berhenti. "Saudara kami di sana masih terisolir, hanya bisa diakses dengan kendaraan roda dua. Tetapi bantuan dan partisipasi unsur masyarakat tidak berhenti ke sana walaupun aksesnya sulit," ungkap Andalika. Pernyataan ini menunjukkan semangat gotong royong yang kuat di tengah kesulitan.

Keterbatasan akses hanya untuk kendaraan roda dua berarti pasokan logistik dan bantuan kemanusiaan harus diangkut secara manual atau dengan cara yang lebih menantang. Hal ini tentu memperlambat proses pemulihan dan distribusi kebutuhan pokok bagi warga terdampak. Koordinasi yang erat antara pemerintah daerah dan relawan menjadi kunci dalam situasi ini.

Upaya Pemerintah Daerah dan BPBD dalam Pemulihan Akses

Pemerintah Aceh Tengah bersama BPBD terus berupaya semaksimal mungkin untuk membuka kembali akses jalan ke desa-desa yang terisolasi. Fokus utama adalah perbaikan jembatan yang terputus serta penyediaan material yang dibutuhkan untuk membangun kembali infrastruktur jalan. Kecepatan penanganan sangat krusial untuk memastikan kehidupan warga dapat kembali normal.

Langkah-langkah strategis sedang dirumuskan untuk mempercepat proses pemulihan, termasuk kemungkinan pengerahan alat berat jika kondisi medan memungkinkan. Prioritas diberikan pada desa-desa dengan tingkat isolasi paling parah dan jumlah penduduk terdampak yang signifikan. Diharapkan, dengan sinergi berbagai pihak, akses dapat segera dipulihkan.

Kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk instansi terkait, TNI/Polri, serta organisasi kemanusiaan, diharapkan dapat mempercepat upaya pembukaan akses. Dukungan logistik dan sumber daya manusia sangat dibutuhkan untuk mengatasi tantangan yang ada. Pemerintah daerah berkomitmen penuh untuk tidak meninggalkan warga di desa-desa terisolasi.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi