Komisi V DPRD Jawa Barat menyoroti temuan desain sanitasi yang kurang memadai pada proyek pembangunan Unit Sekolah Baru (USB) SMA Negeri 20 Kota Bekasi. Desain toilet sekolah Bekasi ini dinilai berpotensi mengganggu kenyamanan belajar siswa akibat tidak adanya sistem sirkulasi udara yang memadai. Temuan ini terungkap saat inspeksi mendadak (sidak) Komisi V terhadap proyek yang baru mencapai progres 72 persen, di tengah kebutuhan mendesak akan ruang kelas bagi ratusan siswa yang masih menumpang belajar.
Ketua Komisi V DPRD Jawa Barat, Yomanius Untung, menyatakan bahwa penempatan fasilitas toilet di dalam Ruang Kelas Baru (RKB) tanpa dilengkapi exhaust vent adalah masalah serius. Kondisi teknis ini, meskipun terlihat sepele, bisa berdampak fatal bagi suasana belajar mengajar di sekolah tersebut. Pembangunan fasilitas pendidikan seharusnya mengutamakan kebermanfaatan dan kenyamanan siswa, bukan sekadar penyelesaian fisik gedung yang terburu-buru.
Selain masalah desain toilet, DPRD Jawa Barat juga menyoroti keterlambatan proyek yang seharusnya rampung menggunakan anggaran tahun 2025. Hingga awal Februari 2026, realisasi fisik pembangunan baru mencapai 72 persen, sementara target penyelesaian sisa pekerjaan diproyeksikan hanya tinggal 15 hingga 20 hari ke depan. Urgensi penyelesaian gedung ini sangat tinggi mengingat SMAN 20 Kota Bekasi telah berdiri sejak 2016 namun masih menempati lokasi sewa.
Advertisement
Advertisement
Desain Toilet Minim Ventilasi Ancam Kenyamanan Belajar
Komisi V DPRD Jawa Barat menemukan desain toilet sekolah Bekasi yang kurang ideal di SMAN 20 Kota Bekasi. Fasilitas toilet yang berada di dalam Ruang Kelas Baru (RKB) tidak dilengkapi dengan exhaust vent. Yomanius Untung, Ketua Komisi V, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa kondisi ini sangat rawan karena bau dari toilet bisa masuk ke ruang kelas, terutama jika ada tekanan udara dari luar ke dalam.
Meskipun pekerjaan fisik belum tuntas sepenuhnya, DPRD Jawa Barat menekankan bahwa orientasi utama pembangunan fasilitas pendidikan haruslah pada kebermanfaatan dan kenyamanan siswa. Aspek ini jauh lebih penting daripada sekadar menyelesaikan pembangunan gedung secara fisik. Desain yang tidak mempertimbangkan sirkulasi udara dapat menciptakan lingkungan belajar yang tidak kondusif bagi para siswa.
Advertisement
Keterlambatan Proyek dan Dampaknya pada Siswa
Proyek pembangunan USB SMA Negeri 20 Kota Bekasi menghadapi masalah serius terkait keterlambatan penyelesaian. Proyek yang seharusnya rampung pada anggaran tahun 2025 ini, hingga awal Februari 2026, baru mencapai 72 persen realisasi fisik. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) memproyeksikan sisa pekerjaan dapat diselesaikan dalam 15 hingga 20 hari ke depan, namun waktu yang sempit ini menimbulkan kekhawatiran.
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Lilis Nurlaila, memperingatkan bahwa sisa waktu yang terbatas ini menuntut komitmen tinggi dari pihak pelaksana. Hal ini penting agar tidak ada lagi siswa yang menjadi korban ketidakpastian infrastruktur pendidikan. Saat ini, sekitar 700 hingga 750 siswa SMAN 20 Kota Bekasi masih bergantung pada penyelesaian gedung baru tersebut.
Ironisnya, dari rencana 20 ruang kelas, baru 10 ruang yang siap dimanfaatkan secara bertahap, sementara daya tampung gedung baru nantinya hanya tersedia 11 ruang kelas. Kondisi ini memperparah urgensi penyelesaian pembangunan agar siswa dapat belajar di fasilitas yang layak dan permanen.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Pembangunan dan Harapan Sekolah
Pembangunan USB SMA Negeri 20 Kota Bekasi menghadapi berbagai kendala kompleks. Lilis Nurlaila menyebutkan beberapa di antaranya, mulai dari keterlambatan awal pekerjaan, gesekan sosial dengan masyarakat sekitar, hingga masalah akses jalan yang melintasi lahan pihak lain. Permasalahan akses jalan ini memerlukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Kota Bekasi dan Dinas Bina Marga setempat.
Anggota Komisi V lainnya, Irpan Haeroni, menambahkan peringatan penting agar upaya mengejar target waktu tidak mengorbankan kualitas bangunan. Ia menekankan perlunya pengawasan ketat terhadap kualitas pekerjaan agar penyelesaian pembangunan tidak dilakukan secara tergesa-gesa. Harapannya, pembangunan ini dapat segera selesai tanpa kendala lebih lanjut dengan masyarakat maupun perusahaan sekitar.
Kepala SMAN 20 Kota Bekasi, Sri Suwarsih, sangat berharap pembangunan tahap lanjutan dapat kembali dianggarkan pada tahun 2026. Hal ini krusial agar seluruh kegiatan belajar mengajar (KBM) dapat dilakukan dalam satu shift. Dengan demikian, diharapkan dapat meningkatkan prestasi siswa dan mengakomodasi seluruh masyarakat sekitar tanpa mengganggu kegiatan belajar mengajar.
Advertisement
Sumber: AntaraNews