Iran Klaim Intervensi Asing Ubah Unjuk Rasa Jadi Kerusuhan Mematikan

Duta Besar Iran di Jakarta mengungkapkan adanya Intervensi Asing yang membajak unjuk rasa damai di negaranya, mengubahnya menjadi kerusuhan mematikan. Simak detail klaim Iran.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Iran Klaim Intervensi Asing Ubah Unjuk Rasa Jadi Kerusuhan Mematikan
Duta Besar Iran di Jakarta mengungkapkan adanya Intervensi Asing yang membajak unjuk rasa damai di negaranya, mengubahnya menjadi kerusuhan mematikan. Simak detail klaim Iran. (AntaraNews)

Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menyampaikan tudingan serius terkait gejolak yang melanda Iran baru-baru ini. Ia menyebut bahwa unjuk rasa damai yang berlangsung pada akhir Desember 2025 telah "dibajak" oleh oknum-oknum asing. Pembajakan ini menyebabkan aksi protes berubah menjadi kerusuhan besar pada awal Januari 2026, sebelum akhirnya mereda.

Boroujerdi menjelaskan, unjuk rasa awalnya dipicu oleh masalah ekonomi dan depresiasi tajam mata uang rial Iran, yang merupakan pemicu wajar aspirasi masyarakat. Pemerintah Iran pada saat itu telah mendengarkan tuntutan para demonstran dan siap mengambil langkah-langkah tindak lanjut.

Namun, Duta Besar Iran menegaskan bahwa pada fase kedua unjuk rasa di awal Januari, muncul pihak-pihak tertentu yang berupaya membajak aksi damai tersebut. Pihak-pihak ini dituding melaksanakan komando dari luar negeri untuk menciptakan kekacauan dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Awal Mula Protes dan Klaim Pembajakan

Unjuk rasa di Iran bermula pada 28-31 Desember 2025, didorong oleh kesulitan ekonomi dan penurunan nilai mata uang rial yang signifikan. Kondisi ini memicu masyarakat untuk menyuarakan aspirasinya secara damai. Pemerintah Iran menunjukkan kesediaan untuk menanggapi tuntutan tersebut.

Namun, situasi berubah drastis pada periode 1-7 Januari 2026, ketika unjuk rasa damai beralih menjadi kerusuhan. Duta Besar Boroujerdi mengklaim bahwa perubahan ini terjadi karena adanya Intervensi Asing. Ia menyatakan bahwa oknum pemrotes tertentu bertindak atas instruksi dari luar negeri.

Penyadapan komunikasi yang dilakukan oleh pemerintah Iran, menurut Boroujerdi, membuktikan adanya instruksi kepada oknum di tengah masyarakat untuk menyerang aparat keamanan dan memicu kekacauan. Klaim ini menjadi dasar tuduhan Iran terhadap pihak asing.

Bukti dan Aktor di Balik Intervensi Asing

Duta Besar Iran secara spesifik menuding Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel sebagai dalang di balik "pembajakan" aksi protes tersebut. Ia menyebut bahwa sejumlah pejabat AS secara terang-terangan mendukung gerakan "pergantian rezim" di Iran.

Lebih lanjut, Boroujerdi menyoroti pernyataan seorang pejabat AS yang bahkan secara terbuka mendukung agen-agen intelijen Israel yang beroperasi di tengah masyarakat Iran. Ini dianggap sebagai bukti kuat adanya Intervensi Asing yang terkoordinasi.

Iran juga meyakini bahwa AS dan Israel berencana mengeksploitasi jumlah korban jiwa dalam kerusuhan tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan alasan menyerang Iran atas nama perlindungan hak asasi manusia, sebuah narasi yang sering digunakan dalam konflik geopolitik.

Upaya Penggagalan dan Dampak Korban Jiwa

Meskipun menghadapi tantangan besar, upaya intervensi asing ini berhasil digagalkan. Keberhasilan tersebut diklaim berkat kerja keras otoritas keamanan Iran dan kesadaran masyarakat yang menolak campur tangan pihak luar.

Setelah langkah pemblokiran internet ditempuh pada 10 Januari 2026, gejolak protes berangsur mereda dan provokator kerusuhan berhasil diamankan. Tindakan ini efektif dalam mengendalikan situasi yang semakin memburuk.

Dubes Iran mengungkapkan bahwa menurut catatan resmi pemerintah, jumlah korban tewas dalam kerusuhan yang terjadi di puluhan kota mencapai 3.117 orang. Dari jumlah tersebut, 2.427 di antaranya adalah warga sipil dan aparat keamanan, menunjukkan skala dampak yang signifikan dari kerusuhan tersebut.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi