Kecelakaan pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, telah memasuki hari ketiga operasi pencarian. Operasi Modifikasi Cuaca Pencarian Korban kini menjadi salah satu opsi utama untuk membantu proses evakuasi. Hal ini diungkapkan Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengingat tantangan besar di lapangan.
Mohammad Syafii menyatakan bahwa kondisi cuaca ekstrem menjadi hambatan signifikan bagi tim SAR gabungan. Koordinasi telah dilakukan untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca. Diharapkan, langkah ini dapat mempercepat pelaksanaan operasi SAR yang krusial.
Operasi SAR yang melibatkan lebih dari 1.200 personel ini difokuskan pada pencarian, penemuan, serta evakuasi korban. Namun, cuaca ekstrem dan medan yang sulit terus menjadi tantangan utama. Kondisi ini membuat tim harus beradaptasi dan mencari solusi alternatif.
Advertisement
Advertisement
Cuaca ekstrem telah menjadi penghalang utama dalam Operasi Modifikasi Cuaca Pencarian Korban pesawat ATR 42-500. Kondisi ini menghambat penggunaan sarana udara secara maksimal, meskipun lokasi kecelakaan sangat dekat dengan bandara. Pesawat tidak dapat dioperasikan secara optimal karena kondisi cuaca.
Asisten Personel Kepala Staf TNI AU menjelaskan bahwa prioritas SAR adalah menggunakan sarana udara. Penambahan kekuatan udara telah dilakukan sejak pagi, termasuk memanfaatkan pesawat Boeing TNI AU. Pesawat ini digunakan untuk melaksanakan air surveillance di area pencarian.
Selanjutnya, helikopter diturunkan untuk membawa tim rescuer yang memiliki kemampuan khusus ke lokasi. Bantuan helikopter dari Polda Sulsel serta Basarnas juga didatangkan dari Surabaya. Langkah ini diambil demi memperkuat upaya pencarian di medan sulit.
Advertisement
Meskipun demikian, kondisi cuaca ekstrem terus menghambat operasi pencarian dan evakuasi. Tim SAR gabungan terus berjibaku di lapangan, mengerahkan seluruh kemampuan. Namun, faktor alam menjadi penentu utama dalam kelancaran operasi ini.
Advertisement
Dalam kurun waktu 'golden time' ini, tim SAR gabungan berharap dapat menemukan seluruh korban kecelakaan. Kepala Basarnas menekankan bahwa kepastian hanya milik Tuhan, namun pencarian akan terus dikejar secara maksimal. Total 10 orang tercatat sebagai korban dalam insiden pesawat naas itu.
Beberapa bagian atau properti pesawat yang telah ditemukan akan diserahkan kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). KNKT nantinya akan menganalisis bagian-bagian tersebut untuk menjelaskan fungsinya dan apakah akan menjadi bahan penyelidikan. Ini penting untuk memahami penyebab kecelakaan.
Fokus utama tim di lapangan adalah pencarian terhadap korban. Memang telah ditemukan korban, namun proses evakuasi ke Posko Biddokes Polri belum dapat dilakukan. Hal ini disebabkan oleh kondisi cuaca dan medan yang sangat sulit di Gunung Bulusaraung.
Advertisement
Pada Operasi SAR hari ketiga, tim SAR gabungan berhasil menemukan satu korban dengan jenis kelamin perempuan di jurang Gunung Bulusaraung, pada kedalaman 50 meter dari puncak. Sehari sebelumnya, tim juga menemukan jenazah korban laki-laki di lereng jurang. Kepala Basarnas mengapresiasi kerja keras tim SAR gabungan yang telah menemukan lokasi dan dua korban dalam waktu kurang dari 24 jam.
Sumber: AntaraNews