Dokter PPDS Unsri Alami Perundungan dan Pemerasan Senior Hingga Mau Bunuh Diri, ini Reaksi Mendikti

Kasus tersebut mencuat setelah adanya laporan tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh sejumlah senior kepada dokter junior.

Nur Habibie
Oleh Nur Habibie - Reporter
Dokter PPDS Unsri Alami Perundungan dan Pemerasan Senior Hingga Mau Bunuh Diri, ini Reaksi Mendikti
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto (Merdeka.com)

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) Brian Yuliarto mengaku telah berkoordinasi dengan Rektor Universitas Sriwijaya (Unsri) terkait kasus perundungan dan pemerasan terhadap dokter junior Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Unsri Palembang.

Kasus tersebut mencuat setelah adanya laporan tindakan tidak terpuji yang dilakukan oleh sejumlah senior kepada dokter junior.

"Nanti kita lihat. Saya sudah koordinasi dengan Rektor UNSRI," kata Brian kepada wartawan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (15/1).

Tak Ada Toleransi Terhadap Praktik Perundungan di Lingkungan Pendidikan

Brian menegaskan, setiap bentuk pelanggaran akan ditindak sesuai aturan yang berlaku. Ia memastikan tidak ada toleransi terhadap praktik perundungan di lingkungan pendidikan.

"Tentu setiap pelanggaran akan ada tindakan-tindakan mendisiplinkan, saya rasa teman-teman di UNSRI sudah mulai melakukan," tegasnya.

Saat ditanya apakah evaluasi akan dilakukan terhadap seluruh program studi, Brian menyatakan akan melakukan pengecekan lebih lanjut.

"Nanti saya cek ya," pungkasnya.

Hanya Diberi Sanksi Surat Peringatan

Sementara itu, hasil investigasi Fakultas Kedokteran Unsri bersama Rumah Sakit Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang membuktikan adanya praktik perundungan dan pemerasan terhadap junior PPDS. Ironisnya, para pelaku hanya dijatuhi sanksi berupa surat peringatan (SP).

Direktur Utama RSMH Palembang, Siti Khalimah, mengungkapkan bahwa pihaknya telah memberikan rekomendasi sanksi atas tindakan para pelaku. Fakultas Kedokteran Unsri pun telah menindaklanjuti dengan menjatuhkan sanksi kepada para pelaku yang merupakan kakak tingkat di program tersebut.

"FK telah mengeluarkan surat peringatan kepada para pelaku," ungkap Khalimah, Rabu (14/1).

Namun, Khalimah mengaku tidak mengetahui secara rinci bentuk sanksi yang diberikan karena hal tersebut menjadi kewenangan Fakultas Kedokteran Unsri.

"Yang saya tahu ada yang tertunda wisudanya. Itu yang saya tahu," kata Khalimah.

Dokter PPDS Unsri Alami Perundungan dan Pemerasan oleh Senior

Diberitakan sebelumnya, aksi perundungan dan pemerasan terjadi di lingkungan PPDS Unsri Palembang dialami calon dokter spesialis oleh seniornya. Korban bahkan sampai mundur dan melakukan percobaan bunuh diri.

Kasus itu terungkap dari unggahan akun Instagram @medicstory.id. Akun itu dengan lantang menceritakan informasi dari seorang residen junior yang tak tahan dengan perlakuan dari seniornya.

Perundungan dialami korban berupa pemaksaan untuk membiayai hidup mewah pribadi seniornya, mulai dari uang semesteran, clubbing dan party, alat olahraga, sewa padel, sepeda dan club sepeda bola senior, membeli skincare, hingga harus menanggung makan dan minum senior.

Tak hanya itu, peserta PPDS juga harus membelikan tiket pesawat dan tiket konser untuk senior, biaya sewa rumah dan indekos, biaya penelitian ilmiah dan seminar senior, antar jemput anak senior, membelikan alat kesehatan, dan harus memenuhi kebutuhan mewah lainnya.

"Dilakukan secara rapi, sembunyi-sembunyi, dan disertai dengan intimidasi dan ancaman, jika tidak menuruti maka junior akan dirundung, dikucilkan dan dipersulit selama masa pendidikannya oleh para oknum senior PPDS Unsri," tulis @medicstory.id.

Namun, pihak kampus dan tenaga pendidik atau dokter terkesan menutupi bahkan melakukan pembiaran terhadap fenomena itu. Tak tahan dengan perlakuan itu, junior PPDS sampai mengundurkan diri dan melakukan percobaan bunuh diri.

Punya Bukti Kuat

Dalam tulisan itu, pengirim pesan memiliki bukti kuat pemerasan dan perundungan. Hal ini menandakan informasi tersebut bukan fitnah melainkan benar adanya.

"Berupa rekening koran korban pemerasan, rekaman telepon dan chat pemerasan oleh senior," tulisnya.

Para korban berharap kasus ini menjadi perhatian karena sangat meresahkan dan mengancam nyawa calon dokter spesialis. Dalam pesan itu disebut PPDS Unsri memiliki database mahasiswa yang mengundurkan diri akibat kasus tersebut.

"Setelah pesan ini tersebar, para junior akan dituduh dan diintimidasi, tapi kami tidak akan tinggal diam," tulisnya.

Rekomendasi