Badan Keamanan Laut (Bakamla) Republik Indonesia telah bergerak cepat memberikan bantuan kemanusiaan. Mereka mengevakuasi lima korban bencana banjir bandang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro. Proses evakuasi ini menggunakan KN Singa Laut menuju Kota Manado untuk perawatan medis yang intensif.
Kepala Markas Zona Bakamla Tengah, Laksma Bakamla Teguh Prasetya, menegaskan pentingnya misi ini. "Pengerahan KN Singa Laut ke wilayah terdampak bencana banjir bandang di Pulau Siau adalah bagian tugas kami dalam menjalankan misi kemanusiaan," ujarnya di Manado, Jumat. Ini menunjukkan komitmen Bakamla dalam penanggulangan bencana.
Sebelum melakukan evakuasi korban, KN Singa Laut juga telah berperan aktif. Kapal tersebut mendistribusikan bantuan logistik, peralatan, serta personel ke Pulau Siau pada Kamis (8/1). Langkah ini memastikan kebutuhan dasar dan tenaga bantuan dapat segera sampai ke lokasi terdampak.
Advertisement
Advertisement
Misi Kemanusiaan Bakamla di Pulau Siau
Keterlibatan Bakamla RI dalam penanganan bencana banjir bandang di Pulau Siau sangat krusial. Mereka tidak hanya fokus pada evakuasi, tetapi juga pada penyaluran bantuan esensial. Kehadiran KN Singa Laut menjadi tulang punggung dalam upaya penyelamatan dan pemulihan awal di wilayah tersebut.
Laksma Bakamla Teguh Prasetya menjelaskan bahwa operasi ini adalah bagian integral dari tugas Bakamla. Misi kemanusiaan ini menunjukkan peran aktif lembaga dalam menjaga keamanan maritim dan juga membantu masyarakat. Bakamla selalu siap sedia dalam menghadapi situasi darurat di perairan Indonesia.
Distribusi logistik dan personel pada hari sebelumnya membuktikan perencanaan yang matang. Hal ini memastikan bahwa korban banjir bandang Siau-Sitaro mendapatkan penanganan yang cepat. Bakamla berupaya keras untuk meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana alam.
Advertisement
Advertisement
Detail Korban Evakuasi dan Kondisi Medis
Lima korban yang dievakuasi memiliki kondisi medis yang memerlukan penanganan khusus di Manado. Tekli Serang, 45 tahun, dari Batusenggo, dicurigai mengalami patah tulang pada tungkai bawah kanan dan kiri. Ia juga menderita luka lecet dan hipertensi, memerlukan observasi medis mendalam.
Suyatna Lohonauman, 40 tahun, juga dari Batusenggo, dicurigai patah tulang panggul dan cedera dada akibat benturan. Ruth Dalawo, 69 tahun, dari Bumbiha, mengalami patah tulang jari manis tangan kanan. Kondisinya diperparah dengan riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe II yang dimilikinya.
Fatmawati Kamurahang, 54 tahun, dari Bahu, mengalami luka infeksi sekunder pada kaki kiri. Ia direncanakan menjalani tindakan pembersihan jaringan luka untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Yosario Sangkili, tiga tahun, yang merupakan cucu Fatmawati, juga dievakuasi dengan luka lecet.
Advertisement
Kepala Dinas Kesehatan Sitaro, Alva Mangundap, mengonfirmasi bahwa ada empat pasien utama yang dirujuk. Satu di antaranya adalah anak berusia empat tahun yang didampingi oleh neneknya. Semua pasien ini adalah korban selamat dari banjir bandang Siau-Sitaro dengan kondisi cukup berat.
Advertisement
Urgensi Rujukan Medis ke Manado
Menurut Alva Mangundap, rujukan ke RSUD Prof Kandou di Manado sangat penting. Hal ini karena beberapa korban mengalami cedera serius seperti patah tulang. Penanganan medis yang lebih canggih dan fasilitas yang memadai diperlukan untuk pemulihan mereka.
Pasien-pasien ini berasal dari tiga wilayah terdampak bencana yang berbeda di Pulau Siau. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Sibar, Kecamatan Sibarsel, dan Kecamatan Siau Timur, khususnya Kelurahan Bahu. Ini menunjukkan dampak luas dari banjir bandang yang terjadi.
Kerja sama antara Bakamla RI dan Dinas Kesehatan setempat memastikan bahwa korban mendapatkan perawatan yang tepat waktu. Evakuasi cepat ini krusial untuk mencegah komplikasi lebih lanjut pada kondisi korban. Bakamla terus berkomitmen dalam mendukung upaya kesehatan masyarakat.
Advertisement
Sumber: AntaraNews