Gunung Semeru, salah satu gunung berapi teraktif di Indonesia, telah naik status menjadi Awas sejak Rabu (19/11) pukul 17.00 WIB. Peningkatan status ini menunjukkan adanya aktivitas gunung yang fluktuatif dan berpotensi menimbulkan risiko bahaya.
Penutupan sementara aktivitas tambang pasir di sekitar kawasan rawan erupsi menjadi langkah proaktif pemerintah daerah untuk melindungi keselamatan masyarakat.
Bupati Lumajang, Indah Amperawati mengumumkan penutupan sementara aktivitas tambang pasir ini pada Rabu (19/11) malam. Dia menegaskan bahwa keselamatan warga dan pekerja tambang menjadi prioritas utama, sehingga seluruh aktivitas pertambangan dihentikan sementara hingga situasi benar-benar aman.
Langkah ini diambil menyusul peningkatan aktivitas Gunung Semeru yang dapat menimbulkan awan panas, longsor, dan abu vulkanik.
"Keselamatan manusia jauh lebih penting daripada produksi," kata Indah.
Oleh karena itu, surat resmi penutupan aktivitas pertambangan akan segera diedarkan kepada seluruh pengelola tambang di wilayah terdampak.
Pemerintah juga menekankan bahwa langkah ini bersifat sementara dan sepenuhnya untuk melindungi keselamatan warga.
Advertisement
Pengawasan Gunung Semeru
Untuk memastikan pelaksanaan penutupan berjalan efektif, Indah telah berkoordinasi dengan Polres Lumajang dan aparat gabungan. Instruksi tegas telah disampaikan agar tidak ada aktivitas tambang yang tetap berlangsung selama status rawan masih diberlakukan.
Pengawasan intensif di titik-titik strategis juga akan dilakukan untuk memastikan kepatuhan terhadap larangan sementara tersebut.
Indah mengajak seluruh pihak untuk memahami kondisi ini dan bekerja sama demi keselamatan bersama. Dia menekankan bahwa keselamatan harus menjadi pertimbangan utama setiap langkah di zona rawan bencana.
Advertisement
Jejak Erupsi Gunung Semeru
Gunung Semeru dikenal memiliki sejarah letusan yang panjang dan berulang sejak tahun 1818. Aktivitas gunung ini tidak hanya menjadi perhatian bagi masyarakat sekitar, tetapi juga bagi para peneliti dan pengamat vulkanologi.
Sebagaimana dilansir dari situs BNPB, Letusan perdana itu menandai rentetan erupsi Gunung Semeru pada tahun 1829, 1836, 1845, hingga akhir 1800-an. Catatan letusan yang terekam pada 1818 hingga 1913 tidak banyak informasi yang terdokumentasikan. Kemudian pada 1941-1942 terekam aktivitas vulkanik dengan durasi panjang.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebutkan leleran lava terjadi pada periode 21 September 1941 hingga Februari 1942. Saat itu letusan sampai di lereng sebelah timur dengan ketinggian 1.400 hingga 1.775 meter. Material vulkanik hingga menimbun pos pengairan Bantengan.
Selanjutnya beberapa aktivitas vulkanik tercatat beruntun pada 1945, 1946, 1947, 1950, 1951, 1952, 1953, 1954, 1955 – 1957, 1958, 1959, 1960. Tak berhenti sampai di sini, Gunung Semeru termasuk salah satu gunung api aktif yang melanjutkan aktivitas vulkaniknya. Seperti pada 1 Desember 1977, guguran lava menghasilkan awan panas guguran dengan jarak hingga 10 km di Besuk Kembar.
Volume endapan material vulkanik yang teramati mencapai 6,4 juta m3. Awan panas juga mengarah ke wilayah Besuk Kobokan. Saat itu sawah, jembatan dan rumah warga rusak. Aktivitas vulkanik berlanjut dan tercatat pada 1978 – 1989.
PVMBG juga mencatat aktivitas vulkanik Gunung Semeru pada 1990, 1992, 1994, 2002, 2004, 2005, 2007 dan 2008. Pada tahun 2008, tercatat beberapa kali erupsi, yaitu pada rentang 15 Mei hingga 22 Mei 2008. Teramati pada 22 Mei 2008, empat kali guguran awan panas yang mengarah ke wilayah Besuk Kobokan dengan jarak luncur 2.500 meter.
Erupsi terakhir terjadi pada 10 November 2025 dengan tinggi letusan mencapai 800 meter di atas puncak gunung.
Menurut laporan dari Pos Pengamatan Gunung Semeru, erupsi tersebut teramati dengan kolom abu berwarna putih hingga kelabu yang mengarah ke timur laut. Aktivitas kegempaan juga menunjukkan peningkatan, dengan tercatat 135 kali gempa letusan pada hari sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa Gunung Semeru masih dalam fase aktif dan memerlukan perhatian khusus.
Menurut data PVMBG, aktivitas Gunung Semeru berada di kawah Jonggring Seloko. Kawah ini berada di sisi tenggara puncak Mahameru. Sedangkan karakter letusannya, Gunung Semeru ini bertipe vulkanian dan strombolian yang terjadi 3 – 4 kali setiap jam.
Karakter letusan vulcanian berupa letusan eksplosif yang dapat menghancurkan kubah dan lidah lava yang telah terbentuk sebelumnya. Sementara, karakter letusan strombolian biasanya terjadi pembentukan kawan dan lidah lava baru.