Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di Flores Timur, NTT, ternyata memiliki pasangan yang dikenal sebagai Gunung Lewotobi Perempuan. Secara administratif, kedua gunung ini berada di Kecamatan Wulanggitang dan sebagian kecil di Kecamatan Ile Bura, yang merupakan bagian dari Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur.
Menariknya, puncak tertinggi Gunung Lewotobi berada di Gunung Lewotobi Perempuan, dengan ketinggian mencapai 1.703 meter di atas permukaan laut. Sementara itu, Gunung Lewotobi Laki-laki memiliki ketinggian sedikit lebih rendah, yaitu 1.584 meter di atas permukaan laut.
Kedua gunung ini meskipun berdekatan dalam satu kawasan pegunungan, masing-masing memiliki karakteristik yang unik. Jika diamati lebih teliti, Gunung Lewotobi Perempuan memiliki kontur permukaan yang lebih kasar dibandingkan dengan Gunung Lewotobi Laki-laki.
Area Gunung Lewotobi Laki-laki juga lebih luas, dengan puncak yang memiliki bentuk kerucut dan terpotong di bagian atas. Di antara kedua gunung ini terdapat pemisah berupa lahan seluas 2 kilometer.
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber, Gunung Lewotobi Perempuan diketahui memiliki dua kawah aktif. Salah satu kawah berukuran besar dengan diameter sekitar 700 meter, sementara kawah lainnya lebih kecil dengan diameter 400 meter.
Di dasar kawah Gunung Lewotobi Perempuan, terdapat kubah lava yang masih aktif dan sering mengeluarkan asap solfatara, yaitu asap putih yang terus menerus keluar dari permukaan tanah. Fenomena ini menjadi indikator bahwa Gunung Lewotobi Perempuan masih aktif secara vulkanik.
Menurut data dari laman Kementerian ESDM, Gunung Lewotobi Perempuan pernah mengalami erupsi besar pada tahun 1921 dan 1935. Erupsi yang terjadi pada tahun 1921 merupakan letusan pertama yang tercatat dalam sejarah gunung ini.
Letusan tersebut bersifat magmatik, yang mengeluarkan material padat. Gunung ini menyemburkan abu vulkanik yang pekat serta lontaran batu pijar dari kawah utamanya. Sementara itu, erupsi pada tahun 1935 merupakan letusan kedua dan terakhir yang tercatat, terjadi 14 tahun setelah letusan pertama dan ditandai dengan aktivitas embusan gas yang intens.
Pada saat itu, material yang dikeluarkan berupa semburan asap tebal yang keluar secara berkala setiap 5 menit. Sejak erupsi terakhir pada tahun 1935, Gunung Lewotobi Perempuan cenderung tenang, berbeda dengan Gunung Lewotobi Laki-laki.
Aktivitas terakhir yang terdeteksi di Gunung Lewotobi Perempuan terjadi pada tahun 2023, ketika terjadi peningkatan aktivitas vulkanik yang mengakibatkan statusnya dinaikkan dari Normal menjadi Waspada.
Petugas Pos Pantau Gunung Lewotobi Perempuan, Hendra, menjelaskan bahwa pengamatan visual dan instrumental antara 1-17 Desember 2023 menunjukkan adanya peningkatan aktivitas kegempaan yang terekam, meskipun tinggi kolom asap tidak teramati.
Warga yang tinggal di sekitar kaki gunung kembar ini, termasuk para wisatawan, diimbau untuk tidak beraktivitas dalam radius 2 kilometer karena adanya potensi gas beracun.
"Tidak beraktivitas atau berada dalam radius 2 kilometer dari pusat gunung, serta tidak mendekati lubang tembusan gas yang ada di sekitar kawah untuk menghindari potensi bahaya gas beracun," ujarnya.
Pakar Gunung Api Surono, yang dihubungi oleh tim Regional Liputan6.com, pada Jumat (24/7/2026) menyatakan bahwa keadaan 'diam' Gunung Lewotobi Perempuan bukanlah pertanda yang signifikan.
Menurutnya, banyak gunung api yang memiliki titik erupsi yang berdekatan, seperti Gunung Merapi dan Gunung Merbabu, Gunung Lokon dan Kawah Tompaluan, serta Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung, termasuk Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Lewotobi Perempuan.
"Alam akan secara cerdas memilih satu titik erupsi, tidak dua-duanya. Kenapa? Karena magma akan secara cerdas memilih jalan yang paling mudah dilalui untuk meletus," jelas Surono.
Dia menegaskan bahwa alasan mengapa magma memilih jalan yang mudah untuk meletus melalui Lewotobi Laki-laki tidak perlu diperdebatkan.
"Tidak perlu dipikirkan mengapa yang tidak dipilih untuk meletus, cukup fokus pada cara mitigasi bencananya saja," tutup Surono.
Advertisement
Kisah Legenda
Gunung kembar yang dikenal sebagai Ile Bele, atau gunung besar, memiliki makna yang mendalam bagi para tetua di Flores Timur. Gunung ini terdiri dari dua bagian, yaitu Ile Lake dan Ile Wae. Di balik nama tersebut, tersimpan sebuah legenda mengenai dua tokoh bernama Puka dan Tobi yang hidup berdampingan. Mereka menjadi simbol dari dua suku besar di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dalam kisah ini, kedua pria tersebut memiliki istri yang sama-sama sedang mengandung. Untuk memperkuat ikatan persaudaraan di antara mereka, keduanya sepakat bahwa saat anak mereka lahir, jika anak tersebut perempuan, mereka akan dipanggil 'Mame', yang berarti om atau paman; sedangkan jika anaknya laki-laki, mereka akan disebut 'Opu', yang berarti ipar.
Seiring berjalannya waktu, istri Tobi melahirkan seorang anak perempuan, sehingga saat ini para tetua menganggap mereka sebagai 'Mame'. Sejak kecil, Puka dikenal suka membuat gunung-gunungan dari pasir dan batu. Namun, semua usaha tersebut selalu gagal karena gunung-gunung yang ia buat selalu runtuh. Karena Puka tidak kunjung berhasil, Tobi pun datang untuk membantu dengan menempatkan tempurung di puncak kedua gunung tersebut. Dari kisah dua ibu yang melahirkan anak laki-laki dan perempuan inilah muncul asal-usul nama Ile Bele, yang kini dikenal sebagai Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Gunung Lewotobi Perempuan.