Warga Jabar Takut Pulang Malam Karena Begal Boleh Minta Dikawal Polisi, Begini Caranya

Menariknya, warga tak harus selalu menelepon ke kantor polisi. Masyarakat juga bisa langsung meminta bantuan kepada petugas yang sedang bersiaga di sejumlah titik rawan.

Azzura Galexia
Oleh Azzura Galexia - Reporter
Warga Jabar Takut Pulang Malam Karena Begal Boleh Minta Dikawal Polisi, Begini Caranya
Polisi mengecek fasilitas kendaraan pengamanan perayaan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 di Parkir Timur GBK, Jakarta, Senin (25/11/2019). Kendaraan yang dicek meliputi motor patwal, mobil patroli dan pengawasan jalan hingga angkutan derek. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Maraknya aksi kejahatan jalanan alias begal di sejumlah wilayah Kota Bandung belakangan ini membuat masyarakat resah. Mengatasi kekhawatiran tersebut, Kapolda Jabar, Irjen Pipit Rismanto mempersilakan warga untuk meminta pengawalan polisi jika harus pulang terlalu larut malam.

Langkah ini diambil sebagai upaya antisipasi sekaligus memberikan perlindungan nyata bagi masyarakat dari ancaman tindak kriminal di jalanan. 

"Boleh, boleh, boleh. Jadi apabila ada ketakutan ini imbauan kepada seluruh warga memang mungkin mau pulang jamnya sudah terlalu malam dan ketakutan, tolong informasikan dan laporkan kepada kepolisian," tegas Pipit di Sport Jabar, Arcamanik, Kota Bandung, Jumat (24/7). 

Pipit memastikan akan menginstruksikan seluruh jajarannya agar merespons cepat setiap permintaan pengawalan dari masyarakat. Menariknya, warga tak harus selalu menelepon ke kantor polisi. Masyarakat juga bisa langsung meminta bantuan kepada petugas yang sedang bersiaga di sejumlah titik rawan.

"Saya umumkan, nanti akan saya perintahkan jajaran di mana pun berada agar merespons, ya. Karena nanti di spot-spot tertentu sudah ada anggota yang siaga di situ," ungkap jenderal bintang dua tersebut.

Terkait penanganan kasus begal, Pipit memaparkan bahwa hingga akhir Juli 2026, jajaran Polda Jabar telah berhasil mengungkap sekitar 40 kasus kejahatan jalanan. Pihaknya menargetkan persentase pengungkapan kasus tahun ini bisa melonjak signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. 

"Sampai bulan Juli kemarin, datanya masih 40-an ya. Yang terpenting adalah persentase pengungkapannya. Tahun lalu rata-rata kami ada di 65 persen, tahun ini akan kita tingkatkan menjadi 70 sampai 80 persen," jelasnya.

Sayembara Tangkap Begal

Di tengah maraknya aksi begal, Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi membuat sebuah gebrakan unik guna memberantas kejahatan jalanan di wilayahnya. Dia menggelar sayembara dengan total hadiah mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 50 juta bagi warga yang berhasil menangkap pelaku begal, jambret, maling, hingga copet.

Dedi Mulyadi memberikan syarat mutlak yang harus dipenuhi warga untuk bisa membawa pulang hadiah tersebut. Pelaku yang ditangkap harus diserahkan kepada pihak kepolisian dalam kondisi hidup dan tidak boleh dihakimi massa hingga babak belur.

"Ya, nanti yang diberi hadiah itu yang sudah memenuhi kualifikasi dan ditetapkan sebagai tersangka oleh Polres. Kalau dalam keadaan babak belur, ya tidak boleh," ujar Dedi Mulyadi saat ditemui di Sport Jabar, Arcamanik, Kota Bandung, Jumat (24/7). 

Dedi menegaskan agar masyarakat tidak main hakim sendiri dalam menindak pelaku kejahatan. "Tidak boleh mereka diserahkan dalam keadaan babak belur. Lecet sedikit mungkin boleh, tapi kalau babak belur, kita tidak kasih hadiah," tegas dia. 

Dedi optimistis langkah sayembara ini bisa menyelesaikan masalah begal yang kerap meresahkan masyarakat, sekaligus memberikan efek jera bagi para pelaku. Ia menyebut, antusiasme masyarakat mulai terlihat sejak sayembara ini digaungkan. 

"Orang bekerja juga ingin ada honor. Kalau kita menunggu wacana terus, tidak selesai-selesai. Buktinya baru semalam, sekarang (warga yang) patroli sudah mulai ramai," ungkap dia.

Rekomendasi