Munculnya transportasi baru bajaj di Kota Semarang membuat persaingan lebih ketat dan membuat resah sopir angkot dan driver ojek online. Dengan keberadaanya banyak beresiko, kehadiran bajaj ditakutkan menambah kesemrawutan di jalan raya.
Koordinator Ojol Satu Komando (SAKO) Semarang, Thomas Aquino mengatakan, selain menggerus penghasilan para ojol, kendaraan roda tiga beresiko menambah kemacetan jalan raya lantaran tidak bisa melakukan mobilitas seperti transportasi umum yang lain.
"Maka kalau ditambahi bajaj yang pakai mesin dua tak, jalannya pasti tidak lincah ketimbang kendaraan lain. Arus lalu lintas di Semarang juga bertambah jenuh," kata Thomas, Selasa (30/9).
Bahkan tak menutup kemungkinan kapasitas kendaraan yang ada di jalan raya akan overload dengan bertambahnya kendaraan seperti bajaj.
"Pastinya ini akan menggerus pendapatan driver online. Karena pendapatan kita sekarang sudah minim sekali," ungkapnya.
Pemicu kemacetan di jalan seperti saat melintas di jalan Kedungmundu, di mana setiap hari selalu macet karena aktivitas pulang kerja. Bila ada transportasi roda tiga ini justru nambah kemacetan.
"Jalan kalau sore sudah macet, karena kapasitas jalan tidak memadai. Masak harus ditambah sama bajaj, ini sama aja menambah kemacetan," jelasnya.
Advertisement
Kecam Kemunculan Bajaj
Terpisah, Ketua Organda Kota Semarang, Bambang Pranoto Purnomo mengecam kemunculan bajaj yang tidak melalui kesepakatan dengan para pelaku usaha transportasi darat. Ketika Dishub mengadakan rapat koordinasi pembahasan pengoperasian bajaj, pihaknya tidak dilibatkan.
"Kami bersama paguyuban angkot dan transportasi online seperti Gg-Jek Grab dan Maxim sepakat menyikapi keberadaan bajaj. Keputusan rapat dari kami jelas menolak kemunculan bajaj," kata Bambang.
Kemunculan bajaj menambah kemacetan, bertentangan dengan nilai-nilai transportasi ramah lingkungan dan ditambah lagi kondisi transportasi umum Semarang sudah masuk titik jenuh. "Keberadaan bajaj merusak estetika Kota Semarang," katanya.
Dengan adanya bajaj telah menambah kesemrawutan. Maka dari itu pihaknya hari ini berkirim surat ke Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng dan tembusan ke anggota Komisi C dan Dishub.
"Kalau memang tidak ada tanggapan dari Pemkot, kami akan turun ke jalan," tandasnya.