Kekecewaan Orang Tua Gagal Daftarkan Anak ke SMP di Depok Lewat Jalur Zonasi, Nilai Harus 96

Orang tua murid mengungkapkan kekecewaan yang anaknya tidak diterima di sekolah menegah pertama negeri (SMPN) di Depok

Nur Fauziah
Oleh Nur Fauziah - Reporter
Kekecewaan Orang Tua Gagal Daftarkan Anak ke SMP di Depok Lewat Jalur Zonasi, Nilai Harus 96
Banner Grafis Bocoran PPDB 2025 Diubah Jadi SPMB (Liputan6.com/Abdillah) (© 2025 Liputan6.com)

Orang tua murid mengungkapkan kekecewaan yang anaknya tidak diterima di sekolah menegah pertama negeri (SMPN) di Depok. Seorang orang tua siswa, Indra Gunawan (44) warga Pondok Petir, Sawangan, Depok.

Dia menceritakan awalnya mendaftarkan anaknya melalui jalur domisili, namun gagal. Padahal, jarak rumah dengan sekolah yang dituju tidaklah jauh. “Saya aja zonasi yang deket bisa gagal gitu, karena ya enggak ngerti juga, kita juga kan,” katanya, Rabu (2/7).

Dirinya bertanya ke operator. Namun jawabannya membuat dirinya terkejut. Dari keterangan operator untuk jalur prestasi akademik maka nilai siswa harus 96.

"Terus saya nanya ke operator, itu katanya nilainya juga dari prestasi harus 96. Saya bilang sempurna banget orang harus nilainya 96. Anak saya kan sudah di atas rata-rata itu sudah hampir 90 nilainya. Begitu saya datang mereka bilangnya harus 96, kaget 96 sempurna bener," ujarnya.

Dia menduga ada ketidaktransparanan dalam mekanisme penerimaan siswa didik baru di jenjang SMP. Karena, menurutnya, tidak mungkin siswa mendapat nilai sampai 96 atau mendekati nilai sempurna.

"Makanya saya pikir ini enggak mungkin transparansi saya bilang, enggak mungkin saya bilang semua anak yang daftar enggak mungkin ada 96 semua saya pikir, pasti ada, ya kita nggak tahulah seperti apa. Ya kita kan hanya bisa ngikutin, buat ngecek transparansi kita juga enggak bisa," ungkapnya.

Dia menyarankan untuk memantau ada baiknya bisa dilihat secara online juga. Sehingga semua orang bisa melihat transparansi sistem penerimaan siswa didik baru.

"Harusnya kan via online itu terbuka gitu namanya, wilayahnya, maksudnya nilainya berapa siswa yang diterima, terus alamatnya juga seharusnya disebutin gitu, alamat dia jaraknya sekian. Jadi kita bisa perbandingan dan bisa tahu kalau memang ada permainan belakang dari pihak mereka kita bisa ngecek via online juga semuanya," kata Indra.

"Oh ada yang lebih dari zonasi saya, kok bisa masuk gitu kan, karena kejadian yang saya dengar info tahun-tahun yang sebelumnya ada jarak ibaratnya lima kilometer itu masih bisa masuk ke situ, kok jarak yang satu kilometer malah ditendang gitu,” keluhnya.

Anak Masuk ke RSSG

Karena gagal mendaftar di SMP negeri, dia akhirnya mendaftarkan anaknya ke program Rintisan Sekolah Swasta Gratis (RSSG). Indra mendaftarkan anaknya ke SMP IT Bina Adzkia di Serua, Kecamatan Bojongsari, Depok.

"Jadinya daftar ke Bina Adzkia di Serua. Saya kan tinggal di Bojongsari,” katanya. Dia mengaku tahu program RSSG dari keluarga dan teman. Indra mengaku mendengar berita tersebut, namun dia berfikir program RSSG baru diberlakukan tahun depan. Beruntung dia mendapat penjelasan dari keluarga dan kerabat sehingga langsung mendaftar," kata dia.

"Sebenarnya sih yang dapat informasi istri dari tetangga ada yang ngasih tahu bahwa di Depok itu katanya ada pembukaan buat apa sih namanya sekolah gratis swasta ya katanya yang dikukuhkan buat tahun-tahun sekarang ini katanya si gitu. Tadinya kan waktu saya dengar berita, saya pikir sih belum berjalan, jalannya tahun depan kan saya pikir, ternyata udah dibuka duluan di Depok sekarang ini. Ya kalau itu sih dicoba aja bagus saya bilang kayak gitu. Jadi ya coba langsung saya kesini sama istri langsung dicoba daftar," pungkasnya.

Rekomendasi