Dua remaja perempuan duduk berhadapan di atas pakaian layak pakai yang menggunung di lokasi pengungsian bencana awan panas guguran (APG) Gunung Semeru. Tangan mereka terus bekerja memilihkan pakaian yang diinginkan seorang pengungsi.
Saat senggang atau tidak sedang ada permintaan, keduanya mengelompokkan dan melipat pakaian sesuai kategori. Pakaian anak-anak dikumpulkan di pojok, begitupun jenis lain, termasuk menyisihkan pakaian robek atau kurang layak.
Kedua remaja itu bernama Suliyana Silvy dan Fitriana, siswi Kelas 11 SMA Candipuro, Lumajang, yang terpanggil untuk menjadi relawan. Mereka berbeda kelas tetapi memiliki keterpanggilan yang sama saat melihat bencana APG gunung Semeru, Sabtu (4/12).
Silvy dan Fitri mendapatkan tugas di bagian pengelolaan pakaian layak pakai kiriman dari para dermawan. Tugas mereka memilah dan melipat pakaian sesuai kategori, agar mudah saat pencarian jenis tertentu.
"Tugasnya mencarikan baju, melipatkan, memilihkan baju. Kemarin itu yang banyak dicari celana panjang, baju laki-laki, terus daster ibu-ibu," ungkap Silvy yang mengaku bergabung sebagai relawan sejak hari kedua.
Advertisement
Terpanggil untuk Membantu
Baik Silvy maupun Fitri awalnya tidak mengetahui yang akan dilakukan di pengungsian. Namun mereka tetap nekat ke lokasi itu karena niatnya sejak awal ingin membantu meringankan beban para pengungsi.
Begitu tiba di lokasi pengungsian Balai Desa Penanggal, Candipuro, kedua remaja ini langsung bergabung dengan relawan lainnya. Mereka kemudian diarahkan oleh petugas posko untuk membantu menata pakaian.
Keduanya mengaku terpanggil dan tidak disuruh siapa pun, termasuk dari sekolahnya. Karena memang dari sekolahnya juga tidak secara khusus mengirimkan relawan.
"Kan sudah selesai ujian, jadi tidak ada jam pelajaran lagi. Terun izin mau ke sini, nggak apa-apa, diberi izin," ujar Silvy.
Advertisement
Merasa Bersaudara dengan Pengungsi
Dia mengatakan, banyak pekerjaan yang bisa dilakukan di lokasi pengungsian, termasuk mengangkat kardus-kardus bantuan. Namun karena butuh tenaga lebih besar, itu biasanya akan dilakukan para relawan pria, termasuk teman-teman seusianya dari sekolah lain.
"Alhamdulillah bisa bantu-bantu di sini. Ya kasihan, ikut sedih. Kalau kita di posisi seperti mereka ya. Biar memberikan manfaat saja," terangnya.
Silvi dan Fitri mengaku tidak memiliki kerabat atau saudara yang ikut menjadi korban APG Gunung Semeru. Tetapi selama beberapa hari di lokasi pengungsian, semuanya serasa menjadi saudara.