Pertemuan Ketua DPC PDIP Solo FX Hadi Rudyatmo dengan Presiden Joko Widodo di Yogyakarta Jumat lalu, disebut sebut membicarakan Pilkada Solo 2020. Dimana putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka ikut mencalonkan diri melalui PDIP.
Penilaian tersebut disampaikan pengamat politik dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Agus Riewanto, Rabu (5/2). Apalagi setelah pertemuan itu, FX Rudy dan jajaran DPC PDIP dipanggil ke DPP di Jakarta. Pertemuan dua sahabat lama itu, menurut Agus, merupakan titik kunci.
Apalagi setelah pertemuan dua tokoh itu, DPC PDIP Solo diundang untuk konsolidasi internal oleh DPP PDIP. Hal itu disampaikan
"Pertemuan Pak Jokowi dan Pak Rudy adalah representasi dari proses kompromi DPP dengan DPC. Meski bukan pengurus DPP, Jokowi dinilai lebih mampu berkompromi dengan Rudy yang merupakan kawan lama," terangnya.
Agus yakin, pertemuan tersebut untuk mencari jalan tengah antara kepentingan DPP dengan dan DPC. Hubungan keduanya dinilainya sudah mulai cair. Menurut dia, Gibran kemungkinan besar akan mendapatkan rekomendasi.
Jika Gibran terpilih, lanjut Agus, DPC atau DPP harus segera menentukan wakilnya. Seorang sosok wakil, haruslah berasal dari kelompok DPC PDIP Solo yang bisa diterima semua pihak. Bisa saja Achmad Purnomo atau Teguh Prakosa, atau di luar kedua nama itu.
"Bisa saja Ketua DPRD Solo Budi Prasetyo, atau win-win solutionnya nanti Pak Teguh menggantikan sebagai Ketua DPRD," ucapnya.
Advertisement
Pemanggilan DPC ke DPP
Agus menilai, pemanggilan pengurus dan fraksi PDIP Solo ke kantor DPP Senin lalu adalah hal yang luar biasa. DPP menilai ada perbedaan pendapat di internal DPC PDIP yang dianggap membahayakan soliditas partai.
Menurut dia, PDIP tidak akan melakukan hal yang sama untuk daerah lain. Sikap tegas Rudy yang kukuh mendukung Purnomo-Teguh dinilai bisa membahayakan. Apalagi Rudy tak datang ke acara Rakernas serta tidak mendampingi Presiden, saat ke Solo.
"Pilkada Solo itu dianggap penting bagi PDIP untuk menentukan Pemilu serentak 2024. Sosok Gibran menunjukkan simbol regenerasi PDIP yang siap memberi perubahan di 2024," katanya.
Ia menyampaikan, PDIP memang harus membuka kesempatan bagi anak muda agar regeneration terus berjalan. Kendati demikian, ia menilai pemilihan Gibran merupakan keputusan yang kurang sehat, karena ada unsur dinasti politik.
"Tetapi tidak ada pilihan lain, karena di Solo yang paling kuat Gibran," pungkas Agus.